Kabar Baik Vol. 9/2017 – Hadirilah Kebangkitan Rohani bersama Yohanes Pembaptis!

9 Jan 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 9 Januari 2017

Matius 3:13 – 17
Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.

Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?”

Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Dan Yohanespun menuruti-Nya.

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Renungan

Sekitar awal 2000-an aku banyak bergaul dengan kawan-kawan dari gereja lain selain daripada Gereja Katolik. Dan dari mereka aku sejatinya belajar banyak hal.

Salah satu dari yang kupelajari adalah ketika salah satu kawan membawa sekeping VCD yang isinya adalah kotbah seorang imam lalu diselingi dengan sejumlah kesaksian dari orang-orang yang dipanggil maju ke depan mimbar.

Ada tiga orang yang bersaksi dan tak satupun dari mereka yang tak kukenal. Ya, mereka adalah public figure di Tanah Air.

Dua yang pertama, meski cukup membuatku berdecak kagum dan berpikir, “Wah, hebat juga nih gereja! Ternyata artis-artis itu gerejanya di situ juga!” tapi tak ada yang lebih mengagetkan ketimbang yang terakhir. Seorang public figure dari kalangan pejabat (kala itu) yang ternyata ia berpindah agama, kala itu juga.

Lho kok kala itu? Maksudnya?
Nanti dengarkan dulu ceritaku.

Dalam kesaksiannya itu, pejabat tadi bercerita bagaimana ia ‘dijamah’ Yesus melalui peristiwa yang menurutku cukup magis dan tak perlu kuceritakan di sini karena hal itu hanya akan memperpanjang tulisanku saja.

Setelah si pejabat itu bersaksi, seluruh jemaat berdiri mengelu-elukannya dan imam yang ada di sampingnya.

Tak lama sesudahnya, kabarnya gereja tempat si pejabat bersaksi itu makin ramai luar biasa karena ‘efek’ kesaksian pejabat itu. Tapi beberapa tahun berselang, ketika diwawancara sebuah media mainstream, si pejabat itu menyangkal telah berpindah agama. “Waktu itu saya dikerjain aja! Disuruh datang ke gerejanya diiming-imingi nanti anak saya yang hilang akan ketemu kalau saya mau bicara di mimbarnya!”

Aku tak tahu bagaimana nasib si imam yang waktu itu mengiming-imingi dan membawa si pejabat itu ke mimbar. Aku juga tak tertarik untuk tahu bagaimana nasib gerejanya, apakah makin ramai atau sepi setelah kesaksian ‘abal-abal’ itu ketahuan bo’ongnya.

Kenapa aku tiba-tiba menuliskan semua ini, karena aku berpikir seandainya Yohanes Pembaptis bukan orang yang rendah hati, bukan orang yang mau mengakui keterbatasan perannya yang hanyalah sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun, ia bisa saja berlaku seperti si imam tadi.

Ia bisa memanfaatkan momentum dimana Yesus minta dibaptis itu sebagai sarana promosi supaya umatnya makin banyak dan namanya makin besar, “Bahkan Seorang Mesias pun dibaptisnya! Hadiri acara kebangkitan rohani bersama Yohanes Pembaptis. Early bird tiket hanya 1 juta rupiah! Tempat terbatas!” Begitu yang kubayangkan dalam materi iklannya.

Khayalanku terlalu tinggi muncul di sebuah senin yang panas terik ini! Selamat pagi!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.