KABAR BAIK VOL.93/2016 ? Agama dan… penis

2 Apr 2016 | Kabar Baik

KABAR BAIK HARI INI, 2 APRIL 2016

Markus 16: 9 – 15
Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.

Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.

Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.

Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.

Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya.

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Renungan

Bagian akhir dari Kabar Baik hari ini menyampaikan pesan kuat Yesus tentang perlunya kita melakukan evangelisasi.

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Evangelisasi, atau pewartaan Kabar Baik biasanya menemui jalanan terjalnya masing-masing.

Di Indonesia, ya kalian tahu sendirilah bagaimana susahnya, padahal sebagian besar (tak semua memang) para evangelis itu biasanya melalui cara yang tidak kasar, sekadar menawarkan, kalau diterima Puji Tuhan, ditolak ya syukur.

Di Australia?
Evangelisasi tidak saja berhadapan dengan umat keyakinan agama lain. Di sini, batu penghalang terbesar justru sekulerisme dan paham-paham bentukan lain yang non-religi meski tidak selalu anti-tuhan.

Banyak orang menolak agama karena menganggap semua agama itu buruk hanya karena perilaku sebagian umat dan mungkin imamnya.

Hingga yang paling membuat tercengang, tanggapan orang (tak semua) ada yang hingga melukiskan agama sebagai berikut,

Religion is like a penis. It’s fine to have one and it’s fine to be proud of it, but please don’t whip it out in public and start waving it around… and PLEASE don’t try to shove it down my child’s throat.

Yup. Agama dianggap penis. Sesinis itu. (Aku tak ingin bilang seburuk dan serendah itu, karena penis secara medis punya fungsi yang tak kecil lho!)

Aku punya contoh yang tak terlalu baik terkait dengan evangelisasi di Australia sini, dan supaya tak menyinggung orang lain, biarlah yang tidak baik itu yang datang daripadaku saja :)

Sekitar enam tahun silam aku pernah bekerja di satu perusahaan yang kebetulan di dalamnya ada juga seorang Indonesia lainnya. Tak hanya berasal dari negara yang sama, kami sama-sama Jawa, sama-sama Katolik dan bercokol di komunitas gereja/bina iman yang sama pula!

Suatu saat ia berulang tahun dan istrinya membawakan makanan dalam box serta kue tart untuk dirayakan bersama kami semua.

Lalu kami diundang berkumpul di satu ruangan besar, berkeliling dan tiba-tiba ia menunjukku untuk memimpin doa.

?Don, tolong kamu pimpin doa ya??

Aku tercekat.
Dalam hati aku berujar, ?Are you kidding me?!?!!?

Aku orang beragama, aku aktif pelayanan tapi? Hellooo? ini kan di komunitas orang-orang sini dimana agama bukanlah sesuatu yang dianggap sama ketika kita berada di Indonesia? Bagaimana kalau aku diketawain??Bagaimana kalau aku dianggap seperti orang yang memamer-mamerkan penisnya seperti tertulis di atas?

Aku diam…. lalu ngeles, ?Hmmm.. aku nggak bisa berdoa dalam bahasa Inggris!?

Taktikku berhasil. Kawan-kawan tertawa dan akhirnya kawanku yang berulang tahun tadi yang memimpin doa sendiri.

Ketika ia memimpin doa dengan polos dan lugunya, tak kusangka kawan-kawan yang kupikir semula tak beragama, mereka menundukkan muka. Ada yang membuat tanda salib, pertanda bahwa mereka Katolik, ada pula yang hanya diam.

Kalian jangan tanya betapa malunya aku!
Malu terhadap diri sendiri, malu terhadap kawanku dan malu terhadap Tuhanku.

Aku merasa seperti kantong tempat muntahan, sangat tak berguna dan tak berarti.

Aku kalah!
Pemandangan di benak mengulas tentang bagaimana digdayanya aku ketika memimpin acara-acara doa. Bagaimana terpukaunya orang-orang mendengarkan pengajaran firmanku. Semua tampak percuma dan sia-sia karena nyatanya aku hanya jago kandang yang berani berkoar di dalam komunitasnya sendiri. Di luar sarang? Aku tak bernyali! Kalah oleh ketakutan dan anggapanku sendiri.

Sejak itu aku mulai belajar untuk lebih berani meski sekali lagi, tetap tahu rambu-rambu aturan dan norma yang berlaku. Salah satu wujud dari proses belajarku (dan ini belum dan tak kan pernah selesai hingga akhir hidupku) adalah dengan menuliskan Kabar Baik di blog ini setiap harinya.

Bagiku agama dan keyakinan itu bukanlah penis.
Tapi kalaupun harus dianggap demikian, harus disejajarkan dengan penis, meski tak?kan memamerkannya, aku akan berusaha untuk selalu mengenakan celana seketat-ketatnya…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.