Kabar Baik Vol. 87/2017 – Kamu mau sembuh? Mau! Kamu mau kaya? Mau banget, Tuhan!

28 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 28 Maret 2017

Yohanes 5:1 – 3, 5 – 16
Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.

Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.

Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.

Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: “Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu.”

Akan tetapi ia menjawab mereka: “Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Mereka bertanya kepadanya: “Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?”

Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.

Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.”

Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.

Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.

Renungan

Kesembuhan dan pemulihan adalah sebuah tawaran dari Tuhan. Dan selayaknya tawaran, Ia menantikan tanggapan nyata.

Seperti apakah tanggapan nyata itu?
Seperti si sakit yang dikisahkan dalam Kabar Baik hari ini. Ketika Yesus menawari kesembuhan, Si Sakit menjawab dengan melakukan apa yang diperintahkanNya yaitu bangun, mengangkat tilam dan berjalan.

Ketika kita dirundung persoalan, tak hanya sakit, Yesus pun tak pernah berhenti menawarkan solusi, “Maukah kamu sembuh?” Kita mungkin mendengar dan menjawab tawaran itu, tapi adakah kita ‘bangun’, ‘mengangkat tilam’ dan ‘berjalan’?

Seorang kawan yang dulu aktif di pelayanan mengeluhkan kepadaku kenapa ia cenderung miskin secara material, “Padahal aku sudah ikut Yesus!”

Tentang ketekunannya dalam beribadah memang tak bisa diragukan. Ia jempolan! Tak pernah absen ikut perayaan ekaristi harian, doa tak pernah terputus, kitab suci ia hapalkan tapi… ia kerap absen bekerja, memutuskan pekerjaan yang dipasrahkan kepadanya secara sepihak dan tak tahu pada rumusan bahwa ketika kita berusaha dan bekerja pun hal itu adalah salah satu yang juga tertulis dalam kitab suci yang dihapalkannya.

Aku tak hendak menyalahkan kebiasaanya beribadah karena memang demikianlah seharusnya kita diperintahkan. Tapi bagiku, keputusannya untuk mengabaikan kerja dan usaha serta menggantikannya hanya dengan berdoa, berdoa dan beribadah itu, kalau kita kembalikan pada konteks Kabar Baik hari ini, kawanku tadi sama halnya dengan si sakit yang memohon dan mengaduh ingin sembuh tapi ketika diminta untuk bangun, mengangkat tilam dan berjalan, ia memilih untuk diam. Ia menyembunyikan kemalasannya dengan alasan yang dibuat-buat seperti misalnya, “Aduh! Aku kan sakit, Tuhan! Mana bisa aku bangun lagipula mengangkat tilam dan berjalan? Betapa Engkau Tuhan yang tak berperasaan?!” Atau yang lebih parah lagi, persis sama seperti yang dikatakan Farisi kepadanya, “Hari ini kan Sabat! Mana boleh aku memikul tilamku?”

Seberapa banyak kita meminta kesembuhan dari satu persoalan, aku percaya sesering itu pula Tuhan menawarkan jalan tapi seberapa sering kita lantas menanggapinya atau memilih diam dan bersembunyi di balik hal-hal yang baik?

Kamu mau sembuh?
Aku nggak sakit, Don!

Kamu mau kaya?
Mau, Don!

Lho memangnya Tuhan pernah menawari kamu supaya jadi kaya? Hehehe…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.