Kabar Baik Vol. 86/2017 – Perlukah tanda untuk percaya?

27 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 27 Maret 2017

Yohanes 4:43 – 54
Dan setelah dua hari itu Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri.

Maka setelah ia tiba di Galilea, orang-orang Galileapun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiripun turut ke pesta itu.

Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit.

Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.

Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”

Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.”

Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.

Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.

Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.”

Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya.

Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Renungan

Kepada umat di Galilea, Yesus berkata begini, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.”?Persoalannya sekarang, salahkah kita ini meminta tanda dan bukti untuk kemudian baru percaya?

Kawanku dulu anak seorang saudagar kaya di seberang pulau. Waktu kawan-kawan sepantarannya, termasuk aku, hanya diberi sepeda motor butut untuk teman kuliah (dan pacaran) di Jogja, ia sudah dipegangi mobil sedan sport kinclong oleh orang tuanya. Belum lagi rumah dan segala isinya serta uang jajan bulanan yang besarnya mungkin sepuluh kali lipat gaji mbak-mbak penjaga outlet kosmetik di Gardena sana!

Cewek-cewek pun bagai paku menatap besi sembrani, bagai magnet maunya nempel terushingga akhirnya Alfred, nama kawanku tadi dan anggaplah namanya memang itu, memilih salah satu cewek yang terkinthil-kinthil itu untuk jadi pacarnya.

Kebetulan lagi, si cewek yang jadi pacarnya itu kukenal juga baik adanya, panggilah ia sebagai Tuti. Suatu malam, mungkin karena aku adalah kawan Si Alfred juga, Tuti curhat, begini katanya, “Alfred itu baik, Don! Tapi kok lama-kelamaan aku ragu apakah ia masih mencintaiku atau tidak ya?”

“Oh, kok bisa?”
“Iya! Karena seolah ia tak pernah membuktikan cintanya kepadaku, padahal aku kan perlu bukti bukan janji.”

Aku tertawa geli.
“Oalah, Tut! Mulut itu kamu kuliahin dulu kek sebelum omong! Kamu pikir cincin itu? Sepatu itu? Baju itu? Lipstik itu? Yang bikin kamu gak kehujanan dan gak kepanasan tiap hari itu? Kamu pikir datangnya bukan dari Alfred?”

Ia terdiam dan tak menyangka aku berkata demikian.

Tuti adalah cerminan orang-orang Galilea dan kita (setidaknya aku) sementara Alfred adalah Tuhannya.

Kita terlalu banyak menuntut padahal setiap hari kita diberikan oksigen, panca indera, cinta, keluarga, gaji, pekerjaan, kesehatan, penghiburan dan segala macamnya secara cuma-cuma tanpa diminta komisi tak juga uang sewa dari kita untukNya!

Jangan-jangan kita ini seperti Tuti yang terlalu terbiasa dan terbuai oleh hal-hal yang sejatinya diberikan oleh Tuhan dan saking terbiasanya kita jadi tak sadar bahwa cara pandang kita terhadap hal-hal itu makin biasa dan tak menganggap istimewa sehingga kita perlu bukti yang lebih dan lebih lagi!

“Oh jadi semua itu tanda dariNya? Masa sih? Aku dapat gaji bukan dari Tuhan tapi dari perusahaan tempatku bekerja! Aku dapat cinta dari keluarga ya karena aku memberikan perhatian dan cintaku kepada mereka! Aku mendapatkan kesehatan ya karena aku menjaganya! Aku mendapatkan panca indera ya dari perkawinan orang tuaku dulu, aku mendapatkan oksigen ya dari tumbuhan yang secara alami memang menghasilkan oksigen! Bukan dari Tuhan!”

Hehehe, jangan salah! Rasul Paulus, dalam suratnya kepada umat di Roma menyebut demikian, ?Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia? Jadi, bukannya Tuhan itu tak bertanda karena setiap kebaikan itu berasal dariNya.

Kembali ke pertanyaan awal, salahkah kita meminta tanda untuk percaya? Tentu tidak karena kita adalah manusia dan alasan itu manusiawi sekali. Tapi persoalannya adalah sampai kapan kita berbuat seperti itu karena tak selamanya kita ini akan jadi manusia, kan? :)

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.