Kabar Baik Vol. 83/2017 – Kasih dalam perspektif seonggok masker oksigen

24 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 24 Maret 2017

Markus 12:28
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Hari ini Yesus menyatakan dua hukum yang terutama.

Pertama adalah mengasihi Tuhan Tuhan, Allah, dengan segenap hati, jiwa, akal budimu dan kekuatan. Lalu yang kedua adalah mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

Pertanyaannya sekarang, bisakah kita mencintai Allah dan sesama tanpa lebih dahulu mencintai diri kita sendiri? Bisakah kita mengasihi tanpa punya bayangan bagaimana memiliki perasaan dicintai dan dikasihi?

Kita perlu mencintai dan berdamai dengan diri sendiri sebelum kita melangkah keluar, mengasihi sesama dan menanggapi Allah yang telah lebih dulu mengasihi.

Bagi yang pernah naik pesawat terbang, tentu kita ingat instruksi yang diberikan awak kabin sesaat sebelum terbang tentang bagaimana cara kita menghadapi kondisi tekanan udara yang turun mendadak di dalam kabin.

Masker oksigen akan turun lalu kita diminta untuk memakainya sebelum menolong ke samping kanan dan kiri kita.

Kenapa kita tak diminta untuk menolong orang lain terlebih dahulu? Kenapa kita justru mengutamakan masker kita duluan? Simply karena kita harus tersupply oksigen sebelum menolong orang lain karena kalau tidak akibatnya bisa fatal, kita lemas dan tak mampu menolong, dua-duanya jadi tak tertolong!

Yang menarik di sini adalah, mencintai diri sendiri adalah proses untuk kita bisa mencintai sesama. Dan yang sering terjadi adalah ketika kita telah cukup mencintai diri sendiri, kita berhenti. Kita lupa untuk beranjak melanjutkan state selanjutnya yaitu mencintai Tuhan dan sesama. Kita jadi egois dan selfish, mengacuhkan orang-orang di sekitar, apalagi Tuhan yang tak kelihatan?

Caranya mengatasi hal itu adalah dengan memahami makna pengorbanan dan penyangkalan diri. Bagaimana pengalaman telah mencintai dan berdamai dengan diri sendiri itu kita jadikan modal untuk move on dan menempatkan orang lain serta Tuhan sebagai sasaran cinta kita.

Jadi misalnya setelah tekanan udara kabin benar-benar berkurang lalu semua sudah memakai masker oksigen, setengah jam kemudian awak kabin mengumumkan bahwa persediaan oksigen menipis (aku tak tahu apakah secara teknis ini mungkin terjadi atau tidak tapi jangan terlalu fokus pada detail melainkan prinsipnya) padahal perjalanan masih jauh.

Apa yang harus dan perlu kita lakukan?
Beranikah kita melepaskan masker supaya jatah yang seharusnya kita terima bisa dihirup untuk memperpanjang daya hidup orang lain? Mengorbankan peluang hidup dan menyangkal keadaan bahwa sebenarnya kita bisa bertahan hidup demi kehidupan orang-orang yang kita cintai.

Berani?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.