Kabar Baik Vol. 80/2017 – Adakah kasihNya adalah kasih yang matematis nan transaksional?

21 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari ini, 21 Maret 2017

Matius 18:21 – 35
Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”

Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.

Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.

Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.

Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Renungan

Yang kuingat lekat-lekat tentang Kabar Baik hari ini adalah, sekitar dua belas tahun lalu, dalam sebuah mimbar di Jogja, ada seseorang bertanya, “Kalau Tuhan itu Maha Murah, kenapa Ia perhitungan dalam hal memaafkan? Kenapa kita diminta untuk memaafkan tujuh puluh kali tujuh kali orang lain supaya kita juga dimaafkan olehNya?”

Aku yang duduk tak terlalu jauh dari si penanya jadi ikutan berpikir, Benar juga ya? Katanya Maha Murah? Jangan-jangan Ia adalah Maha Perhitungan dan Maha Pamrih? Jangan-jangan kasihNya adalah kasih matematis nan transaksional?

Kenapa pula Ia meminta kita untuk memaafkan sebanyak 490 kali (70 x 7)? Kenapa tak 5 kali? 100 kali? Atau 1000 kali?

Ketika aku sharing dengan kawan lain, pendapatnya lebih ‘aneh’ lagi, “Kenapa 70 x 7 karena tujuh itu adalah angka keramat! Pitu bahasa jawanya yang berarti pitulungan alias pertolongan!”

Benarkah? Entah! Tapi bisa jadi demikian karena bukankah hanya Tuhan Yesus yang paling tahu apa yang Ia katakan?

Tapi aku berpikir jika Ia adalah Tuhan yang perhitungan, kenapa Ia tak pernah menghitung oksigen yang kita hirup selama hidup? Kenapa kita tak disuruh bayar karena pemandangan-pemandangan indah yang kita terima setiap hari? Kenapa ia tak mengirimkan surat tagihan saat kita diberikan pasangan yang ganteng dan cantik, yang baik dan tak jahat? Atau saat kita diselamatkan dari kecelakaan hebat yang bisa saja terjadi kalau kita nggak telat menginjak rem di perempatan jalan sepulang kerja tadi?

Bagiku cara Yesus menyampaikan Kabar Baik hari ini seperti ditulis Matius semata karena Ia mengikuti apa yang jadi pola pikir manusia kala itu yang hidup dalam alam Perjanjian Lama dan kalau kita jeli ada banyak penyebutan angka tujuh di sana.

Hal yang sama mungkin akan terjadi kalau saja Yesus hidup di masa kini dan bicara pada orang-orang Jakarta, barangkali saat Ia ditanya oleh seorang lintah darat, berapa persen bunga hutang yang layak ditagih dari para penghutang, Ia bisa saja bilang nol puluh nol kali nol persen semata karena saat ini kan ada cagub – cawagub yang kesohor dengan uang muka nol persen untuk pemilikan tempat tinggal? hehehehe…

Hal terpenting yang menurutku ingin disampaikan Yesus hari ini lebih pada bagaimana ketaatan kita pada hukum Allah itu juga membawa pengaruh positif dalam hubungan antar-manusia.

Dengan segala kuasaNya, Ia bisa saja mengampuni salah seseorang seketika itu juga, tapi ketika kita memaafkan mereka yang bersalah kepada kita, 70 kali tujuh banyaknya, bukankah kita dapat dua-duanya, ya rahmat pengampunan dari Allah, ya hidup dalam harmoni yang menyenangkan dengan sesama kita termasuk yang kita maafkan ratusan kali itu?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.