Kabar Baik Vol.79/2017 – Santo Yusuf dan puntung rokok

20 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 20 Maret 2017

Matius 1:16,18-21,24a
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

Renungan

Padahal kalau mau, Yusuf bisa saja benar-benar menceraikan Maria baik secara diam-diam maupun terbuka.

Toh anak yang dikandung wanita yang dikasihinya itu bukanlah anaknya? Untuk apa?

Yusuf, selayaknya manusia biasa seperti kita, juga sebenarnya punya ‘kekuatan’ untuk menolak kebenaran mimpi yang ia terima yang akhirnya jadi titik baliknya untuk tetap bersama Maria itu sebagai ‘mimpi biasa’.

“Ya kalau yang mimpiin aku adalah malaikat beneran? Bagaimana kalau malaikat-malaikatan? Bagaimana kalau mimpi itu datang hanya karena aku terlanjur sayang pada Maria dan karena hari-hari sebelumnya Maria selalu bicara tentang malaikat melulu jadi masuk ke alam bawah sadar dan dalam mimpi, pikiran itu mewujud dalam rupa malaikat. Itu hanya mimpi belaka!” Bisa saja Yusuf berpikiran seperti itu, kan? Tidak naif, kalau kata orang-orang masa kini justru realistis! Hari gini kok percaya mimpi?!

Tapi kenapa Yusuf bisa jadi sedemikian kuat? Bukan hanya karena mimpi yang ia dapat. Bukan pula karena besarnya cinta pada Maria. Tak lain karena kuasa Roh Kudus! Roh yang telah membuahi calon istrinya itu menguatkan Yusuf untuk mengambil peranan penting dalam karya penyelamatan manusia melalui Yesus, anaknya.

Perhatikan betapa ‘mengambil peranan’ di sini menjadi kata kerja yang amat penting!

Seberapa berani kita mengambil peranan dalam tugas dan tidak melarikan diri serta tidak menolak dengan berkilah, “Kan ini bukan salahku? Bukan hasil perbuatanku?”

Misalnya kita sedang duduk di taman lalu tiba-tiba ada seorang pengendara motor membuang puntung rokok tak jauh dari kita.

Apa yang kita lakukan?
Adakah kita mengumpat pengendara yang melaju begitu saja itu atau kita memungut puntung tersebut lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah yang semestinya?

Mana yang lebih kita khawatirkan, kebakaran yang terjadi karena puntung itu masih menyala, atau kamu menyalakan emosimu untuk mengumpat si pembuang puntung rokok itu yang aku yakin juga tak akan bergeming meski umpatanmu sehebat anjing sekalipun!

Tak perlu belajar dari hal-hal besar untuk menjadi seperti Yusuf yang besar! Mari kita belajar bagaimana kita mau dan berani mengambil peran untuk kebaikan sesama dan untuk kemuliaan Allah yang lebih besar melalui hal-hal yang paling kecil yang selama ini kita anggap remeh-temeh sekalipun?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.