Kabar Baik Vol. 75/2017 – Menakar Tuhan itu bagai menjaring air menggunakan saringan teh!

16 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 16 Maret 2017

Lukas 16:19 – 31
“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Renungan

Kabar Baik hari ini membuktikan bahwa watak orang yang tak mudah percaya itu sudah ada sejak lama.

Tak mudah percaya itu pada beberapa sisi memang menguntungkan karena melalui hal tersebut peradaban manusia kian maju, orang berlomba-lomba membuat sesuatu yang lebih baik karena tak percaya bahwa yang telah dicapai adalah yang terbaik dan sekaligus membuktikan bahwa status terbaik itu yang lebih baik dari yang sudah sangat baik dan itu sifatnya berkelanjutan.

Hal ini bisa dengan mudah kita lihat pada bagaimana manusia terus berproses untuk menciptakan barang-barang teknologi masa kini.

Tapi sayang, jika tak dikendalikan, sikap-sikap itu malah bisa jadi bumerang yang mencelakaan dan tak jarang kita pakai untuk ‘menakar’ Tuhan.

Maksudnya?
Tuhan dan segala ke-maha-anNya dimasukkan dalam kerangka pikir ‘Perlukah dipercaya?’ dan ‘Perlu dibuktikan untuk bisa dipercaya!’ Sehingga ketika harus membaca Kabar Baik/Injil Tuhan, manusia memilih untuk menguji kepercayaannya itu dengan parameter-paramter yang salah, ukuran-ukuran duniawi yang jelas tak bisa digunakan untuk menganalisa hal-hal surgawi.

Orang kaya yang mati, masuk neraka yang diceritakan Yesus dalam Kabar Baik ini melukiskan semua itu. Semasa hidup ia kaya raya, barangkali tak mengindahkan aturan-aturan agama semata karena terlalu larut dalam keduniawian dan hendak mengukur kebenaran-kebenaran aturan tersebut dengan standard keduniawiannya itu.

Begitu mati dan masuk ke dalam neraka, ia menyesal dan meminta tolong Lazarus, yang miskin dan berada di surga untuk meneteskan air kepadanya. Ditolak Abraham, usahanya tak pupus. Ia minta penyesalannya itu disampaikan pada saudara-saudaranya yang masih hidup supaya mereka tak menghadapi hal yang sama dengan yang dialaminya, hidup foya-foya, mati masuk neraka.

Tapi Abraham menolak dan penolakan Abraham bukan karena tak mau saudara-saudaranya selamat tapi ia tahu bahwa apa yang hendak disampaikan oleh si kaya itu akan dimentahkan juga oleh saudara-saudaranya seperti mereka mementahkan hukum-hukum Taurat Musa. Kenapa? Karena mereka terjerembab dalam nikmat duniawi dan hendak mengukur segalanya dengan piranti itu termasuk perkara-perkara surga, ya jelas nggak bisa! Ibaratnya seperti menakar air menggunakan saringan teh, mana ada air yang tertangkap di dalamnya?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.