Kabar Baik Vol. 73/2012 – Menerima komuni dari prodiakon yang gemar ber-onani? No way!

14 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 14 Maret 2017

Matius 23:1 – 12
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Renungan

Aku terpana dengan ucapan Yesus seperti ditukas Matius dalam Kabar Baik hari ini. Baiklah kutulis ulang di bawah supaya kita jelas,

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Aku tahu dan sadar bahwa ayat itu bukanlah ‘pesan utama’ atau ‘gagasan terkuat’ dalam perikop hari ini. Tapi entah, hal itu memantikku untuk merenunginya.

Ada banyak kawanku (terutama di Australia sini) yang kecewa dengan perilaku busuk oknum imam yang terlibat pelecehan seksual, lalu memutuskan untuk tidak lagi pergi ke Gereja.

Di Indonesia dulu, juga ada seorang ibu yang ngambek dan mogok ke Gereja karena ia tahu pastor parokinya punya skandal dengan seorang ibu yang lain.

Atau pada tataran yang terkesan lebih ‘ringan’ adalah ketika seorang prodiakon membagikan komuni, kita memilih pindah barisan supaya tak mendapatkan Tubuh dan Darah Kristus dari tangannya karena kita tahu bagaimana si prodiakon itu amat gemar beronani.

Apa yang dikatakan Yesus hari ini, terutama terkait ayat yang kutulis ulang di atas, seolah ingin memberikan landasan yang kuat bahwa apa yang datang dari Tuhan itu lebih kuat daripada perilaku paling busuk orang-orang yang membawakan hal itu kepada kita!

Tuhan mengutuk perilaku orang-orang Farisi dan ahli Taurat tapi sekaligus Ia membenarkan apa yang diajarkan mereka dengan menggunakan istilah ‘…telah menduduki kursi Musa.’ Untuk itu Ia meminta kita mendengarkan apa yang mereka ajarkan tapi tidak melakukan perbuatan-perbuatan busuk mereka.

Di sini kadang kita terjebak karena kita menghakimi dan menghukum. Seperti yang kutulis pada renungan kemarin tentang dua hal ini, kita cenderung menghakimi para imam dan pelayan karena perbuatan busuk mereka. Dan sayangnya, keterjebakan kita tak sedangkal ini.

Kita terjebak sebegitu dalam karena pada akhirnya kita tak hanya menghakimi mereka tapi juga menghukum kuasa-kuasa Allah dan ini adalah yang paling berbahaya!

Kok bisa?
Karena dengan menghakimi para pelayan dan imam tersebut, kita juga tidak mengijinkan sabda-sabda Allah yang mereka ajarkan untuk masuk ke dalam telinga dan mata hati kita, dan yang paling mengenaskan, bahkan kita menolak untuk menerima Tubuh dan Darah Kristus hanya karena kita menghakimi prodiakon yang membawakannya.

Tapi kan kita nggak menolak! Kita hanya pindah barisan dan mendapatkan Tubuh dan Darah Kristus dari prodiakon lain ataupun imam. Pokoknya bukan dia!

Bagaimana kamu tahu bahwa prodiakon lain dan imam tidak lebih busuk kelakukannya ketimbang prodiakon yang terlanjur kamu hakimi itu? Bagaimana pula kalau hanya ada satu prodiakon yang kamu hindari itu yang lantas diberi tugas membawakan Tubuh Kristus ke rumahmu saat kamu sakit menjelang mati dan tak sanggup lagi untuk pergi ke gereja?

Akankah kamu rela dan tega terhadap roh dan jiwamu sendiri untuk lepas dari dunia tanpa membawa bekal keselamatan yang hakiki dari Allah itu hanya karena kamu tak bisa menahan hasrat untuk menghakimi dan menghukum?

Simak renungan terkait dengan tulisan ini, di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.