Kabar Baik Vol.67/2017 – Inikah tanda-tandaNya?

8 Mar 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 8 Maret 2017

Lukas 11:29 – 32
Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!”

Renungan

Yesus menyatakan keprihatinannya ketika orang-orang meminta tanda karena mereka tak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Lalu Ia berkisah bagaimana Anak Manusia, diriNya, akan menjadi tanda bagi angkatan itu seperti halnya Yunus menjadi tanda bagi Niniwe.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Yunus dan orang-orang Niniwe? Jika kalian sudi membaca kitab?Yunus 3:1 – 10, di sana dilukiskan betapa Allah berbicara kepada Yunus supaya memberi peringatan kepada kaum Niniwe bahwa dalam empat puluh hari sesudah pemberitahuan peringatan itu, kota tersebut akan ‘ditunggangbalikkan’

Raja Niniwe tanggap! Ia memerintahkan seluruh warga bahkan termasuk segala macam ternak untuk berpuasa prihatin. Usaha keras itu didengar Tuhan. Rencana penunggangbalikan dibatalkanNya.

Raja Niniwe memperhatikan peringatan Tuhan melalui Yunus, sedangkan orang-orang yang hidup di masa Yesus hidup, banyak yang bahkan tidak menganggap tanda yang sudah diberikanNya itu sebagai hal yang benar-benar ada.

Lalu bagaimana dengan masa kini? Adakah kita masih menuntut tanda? Atau…?

Kemarin, saat hendak kembali ke kantor selepas makan siang, di sebuah traffic light aku disapa seorang pria. Usianya kira-kira 65 tahun kutaksir, berpawakan tinggi sedang dan rambut beruban.

“Excuse me, kamu tahu mana arah stasiun terdekat dari sini?”

Aku tak langsung menjawab. Kuperhatikan ia dalam-dalam, kupandang sekeliling beberapa kejap baru aku menjawab, “Kamu balik arah menuju Queen Victoria Building, di bawahnya ada Town Hall Station.”

Ia mengucapkan terima kasih lalu berlalu daripadaku.

Aku memang tak mudah percaya pada orang yang hendak meminta tolong karena aku ragu akankah ia benar-benar minta tolong atau hendak berbuat jahat terhadapku?

Semua karena trauma yang pernah kualami sekitar 12 tahun silam. Waktu itu, suatu sore aku berkunjung ke Jakarta, setelah makan di rumah makan padang, aku jalan kaki hendak menyeberang ke arah gang rumah om di Cibubur.

Tiba-tiba ada seorang pengendara sepeda motor mendekat ke arahku, “Bang! Tolong dong! Saya dikasih alamat ini tapi nggak tau tepatnya dimana?”

Karena lugu, akupun mendekat. Baru hendak melongok ke carikan kertas yang katanya berisi alamat, tiba-tiba lenganku dicengkeram erat sementara tangan yang satunya lagi mengeluarkan sebilah belati diarahkan kepadaku.

Rupanya jambret! Ya sudah, kuserahkan dompetku begitu saja dan sejak saat itu, aku selalu berpikir dua kali ketika ada orang asing yang tiba-tiba mendekat dan minta bantuan.

Kuyakin aku tak sendiri, banyak yang mengalami dan memiliki pikiran yang kurang lebih sama, tak percaya pada orang yang minta bantuan. Aku menganggap hal ini sebagai sesuatu yang memprihatinkan bagi diri kita sendiri. Kenapa? Kalau jaman dulu Yesus sedih karena orang-orang itu minta tanda, kalau kini, kita sudah diberi tanda tapi persoalannya adalah bagaimana kita bisa percaya bahwa tanda yang didapat itu benar-benar datang daripadaNya?

Bagaimana kita percaya bahwa orang yang datang minta bantuan itu adalah tantangan dariNya supaya kita menunjukkan sikap mengasihi sesama atau sebaliknya, bagaimana pula kalau tantangan itu bukan datang daripadaNya tapi dari hal lain yang berusaha mencelakai kita?

Kita butuh peneguhan, legitimasi untuk segala hal karena keterbatasan kita sendiri. Kita lemah, kita butuh tanda dan ketika pikiran hanya terpaku pada legitimasi itu kita lama-lama bisa gila hahahaha!

Jadi?
Pasrah saja dan percaya bahwa hidup ini sejatinya sudah banyak mengandung tanda dariNya kalau kita mau terbuka. Ketika ada yang minta tolong ya ditolong! Kalau yang ditolong ternyata adalah jambret yang hendak mencelakai, ya percaya saja bahwa kuasaNya jauh lebih besar dari segala rencana celaka yang terbesar sekalipun karena bukankah lebih baik menjadi orang bodoh yang harus menanggung semuanya ketimbang menjadi orang pintar yang licik yang memilih untuk tak menanggung apapun?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.