Kabar Baik Vol. 6/2017 – Tentang ribuan juta manusia yang belum percaya kepadaNya

6 Jan 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 6 Januari 2017

Markus 1:7 – 11
Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.

Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.

Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Renungan

Bagiku, apa yang ditulis Markus pada Kabar Baik hari ini adalah kejadian adikodrati yang megahnya tak terkatakan!

Langit terkoyak, Roh seperti burung merpati turun ke atasNya lalu Allah Bapa sendiri bicara, benar-benar bicara, “Engkaulah Anak-ku yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan!”

Kawan-kawan, ada ribuan juta manusia di dunia ini yang belum percaya pada ke-Allah-an Yesus. Lantas bagaimana cara membuat mereka percaya seperti halnya kita percaya?

Menanti langit terbuka seperti yang terjadi dalam Kabar Baik hari ini bukannya percuma, kalau Ia mau pasti terjadi. Tapi takutnya, ketika hal itu benar-benar terjadi, saat itu adalah saat Kiamat tiba, saat tak ada waktu lagi untuk mereka percaya karena semuanya sudah… terlambat.

Lalu?
Membuat orang percaya adalah dengan kita menjalankan kepercayaan kita melalui aksi nyata. Kita percaya Yesus adalah Allah karena Ia adalah sumber kasih yang tak terbatas, maka jangan batasi kasih yang telah Ia berikan kepada kita kepada sesama, kepada siapa saja.

Sebut saja namanya Mawar, tentu bukan nama sebenarnya. Ia seorang sopir antar-jemput anak sekolah di sekolah tempat salah satu anakku menuntut ilmu. Perangainya keras. Setiap ada orang yang mencoba melanggar haknya, dilawannya mati-matian hingga tak ada orang yang mau mendekatinya karena jengah dengan sifat-sifatnya itu.

Tapi anehnya, orang dekatku, sebut saja Melati, memiliki relasi cukup dekat dengannya.

Kok bisa? Prinsipnya hanya satu, Melati menghormati Mawar sebagai manusia.

Suatu saat Mawar bercerita kalau ia sedang pusing karena komputer rumahnya rusak karena virus padahal ia sudah berencana mudik ke negara asalnya saat liburan anak sekolah nanti yang tentu akan memakan banyak biaya.

Si Melati lantas menawarkan bantuannya, “Suamiku mungkin bisa bantu kamu, dia orang IT. Mau? Nanti kuaturkan waktu dengannya.” Mendengar hal itu, Mawar, seperti diceritakan Melati kepadaku, hanya terdiam dan berucap, “Terimakasih.”

Sekitar lima bulan kemudian, Mawar dipecat dari perusahaan karena ia dianggap melanggar kode etik, ya terkait dengan perangai dan watknya itu. Beberapa hari kemudian, kawan Si Mawar yang dulu jadi partner kerjanya dan kini jadi penggantinya, curhat ke Melati tentang betapa keras sifat Mawar yang tak diketahui orang lain.

“Wah, sifatnya buruk sekali! Yang kamu tahu itu baru separuhnya!” tukasnya meyakinkan, Si Melati manggut-manggut. “Tapi ada satu hal yang mau kuceritakan ke kamu, Melati.”

“Apa itu?”
“Kamu inget waktu kamu menawarkan jasa baik suamimu untuk membetulkan komputernya yang kena virus?”

“Iya, kenapa?”
“Dia kaget. Di mobil, waktu itu. ia bercerita kenapa Si Melati bisa baik sekali kepadaku?”

Melati tertawa, ia menganggap yang dilakukannya hanyalah sikap wajar karena ingin membantu sesama saja. “Justru itu, Melati! Justru itu yang tak pernah ia dapatkan. Ia tak percaya ada orang yang mau baik kepadanya karena sifatnya yang tak pernah bisa baik pada orang lainnya…”

Ketika dibeberkan cerita itu oleh Si Melati, aku menarik nafas dalam-dalam.

Aku membayangkan, jika Si Mawar tak ditawari kebaikan oleh Melati, akankah ia percaya pada eksistensi kebaikan itu sendiri? Betapa penting untuk berbuat baik pada sesama. Kata-kata yang terlontar dalam ceramah-ceramah agama maupun yang tertulis dalam renungan harian seperti ini tidaklah pernah jadi lebih penting ketimbang tindakan untuk meyakinkan bahwa apa yang kita percaya yaitu Yesus Kristus itu adalah sumber dari segala kebaikan tindakan yang sudah, sedang dan akan selalu kita lakukan bagi sesama.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.