Kabar Baik Vol. 45/2017 – Tentang ragi baik, ragi buruk dan hoax nan terkutuk

14 Feb 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 14 Februari 2017

Markus 8:14 – 21
Kemudian ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu.

Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”

Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.”

Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu?

Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Dua belas bakul.”

“Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?” Jawab mereka: “Tujuh bakul.”

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Masihkah kamu belum mengerti?”

Renungan

Yesus tegas berkata, “…awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes!”

Tapi haruskah roti itu murni dan tak beragi? Tidak juga karena menurut tulisan yang dirawi Matius pada bab ke-13 ayat yang ke-33, Yesus berkata begini, “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”

Kalau Yesus hadir di sini, saat ini, mungkin apa yang ditulis Markus berubah menjadi, “….awaslah terhadap hoax!” karena ragi buruk menjelma menjadi hoax yang membusukkan hati, jiwa, pikiran dan hidup!

Hoax menjelma menjadi si maha raja lela! Ia menguasai percakapan tak hanya di social media, tak hanya di jendela grup percakapan WA! Ia menjalar hingga ke percakapan di atas ranjang antara suami dan istri seolah tak ada kegiatan dan percakapan lain yang bisa dilontarkan satu sama lain.

Jadi, berhentilah!
Berhenti untuk setidaknya menyebarluaskan hoax yang ia dengar kepada siapapun termasuk orang-orang terdekatmu karena belum tentu semuanya benar, belum tentu semuanya berguna untuk diviral kecuali kalau kamu perlu untuk menyatakan diri sebagai orang yang enggak kudet (kurang update), orang yang selalu terdepan terhadap informasi terbaru (meski aneh, jadi orang bodoh yang kena ragi hoax kok bangga ya? Terdepan pula?)

Lebih baik lagi kalau kamu menjadi ragi baik bagi orang lain. Tinggalkan topik-topik per-hoax-an, sampaikan hal-hal baik dan bermanfaat siapa tahu ragimu akan membuat yang polos jadi mengembang indah, yang membusuk jadi tak terlalu buruk.

Lho tapi yang kulakukan itu benar! Aku membela minoritas maka aku membagikan berita-berita yang membela kaum minoritas dimana salahnya?

Salahmu adalah telah menggaransi bahwa yang kamu lakukan itu benar. Orang benar, ragi benar ditilik dari reaksi positif apa yang terjadi pada obyek-obyek yang dikenainya. Ragimu baik kalau orang merasa terberkati dengan apa yang kamu bagikan, bukan kata-kata tajam nan sembilu yang kamu lontarkan…

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Sepertinya ‘ragi’ itu sungguh maha raja lela ya..
    Kadang tanpa sadar, uda bahas walau tau itu mungkin belum tentu benar ya..
    Bahas anak aja lah.. anak sendirilah, klo anak orang lain nti hoax lagi ???..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.