Kabar Baik Vol.40/2017 – Anjing-anjing se-dunia, bersatulah!

9 Feb 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 9 Februari 2017

Markus 7:24 – 30
Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan.

Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya.

Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.

Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”

Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Renungan

Ketika ada seorang wanita Yunani dari bangsa Siro-Fenisia memohon supaya Ia mengusir setan dari anaknya, Yesus menjawabnya begini, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.

Sebegitu rasiskah Yesus sehingga menganggap wanita yang berasal dari bangsa non-yahudi sebagai anjing? Apa bedaNya dengan orang-orang Yahudi lain yang menganggap kaum lain adalah anjing kafir? Tapi sebentar… kalau rasis kenapa lantas Ia menuruti kemauan wanita itu?

Aku merenungkan hal ini dan menganggap bahwa justru inilah cara Yesus untuk menyampaikan pesan rasisme kepada tiga pihak.

Pertama, kepada kaum Yahudi.
Pada saat akhirnya Yesus melepaskan anaknya dari kuasa setan, Ia bagai menampar kesombongan kaum Farisi dan ahli Taurat yang memandang rendah bangsa lain selain Yahudi yang dianggapnya kafir, hina dina dan tak diselamatkan.

Ia, Anak Allah yang seharusnya berkuasa untuk menentukan siapa yang kafir dan siapa yang diselamatkan justru menunjukkan KemauanNya untuk mengerjakan keselamatan kepada ‘anjing’!

Kedua, wanita itu sendiri.
Yesus berkata “Anjing” kepada wanita itu hendak meyakinkan bahwa memang benar orang-orang yahudi itu secara turun-temurun telah menganggap kaum non-Yahudi sebagai kaum kafir, hina dina dan tak terselamatkan. Seolah Ia ingin menguji keteguhan iman si wanita itu apa jadinya jika Ia menganggapnya sama (sebagai anjing)? Akankah ia menarik kepasrahannya, akankah ia menarik permintaan tolongnya?

Tapi si wanita berkeras dan aku menemukan jawabannya adalah jawaban yang teramat-sangat indah sekaligus teguh-kukuh, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

Ketiga, kepada kita.
Ya, kita. Kita yang kerap menuding kaum lain sebagai kaum kafir dan kita yang kerap dikafir-kafirkan oleh kaum yang lainnya.

Salahkah menuding kaum lain sebagai kaum kafir? Aku tak tahu. Tergantung darimana mereka memakai dasaran untuk menentukannya. Tapi apapun itu, siapapun kamu yang kerap menuding orang lain sebagai kafir, pelajaran terbaik dari Kabar Baik ini adalah kalau kalian merasa kaum kalian yang paling benar, jangan biarkan secuil ‘makanan’ pun yang seharusnya hanya untuk kalian itu jatuh ke bawah meja makan karena berpotensi untuk dimakan ‘anjing’ kafir.

Artinya? Anggaplah makanan itu berkat lantas siapa kalian bisa menahan laju berkat yang turun dari Tuhan? Tidak bisa, kan? Bukankah ketimbang menahan air supaya tidak bocor (dan akhirnya bobol) lebih baik membagikannya kepada orang-orang lain, se-anjing dan sekafir apapun dia?

Lalu apa yang harus kita ambil sebagai sikap ketika kita dianggap kafir?

Bukankah kalian lihat Ahok terus maju sebagai calon gubernur meski ia dianggap kafir? Tidakkah kalian tengok Pak Ignatius Jonan terus berkarya? Pak Yulius Suharta juga melanjutkan tugasnya menjadi camat di Pajangan, Bantul meski sebelumnya diprotes karena ia seorang kristiani? Dan… hey lihat diri kalian sendiri! Bukankah kalian, kita ini terus mengusahakan yang terbaik bagi keluarga dan sesama dengan bekerja dan bersosialisasi dalam masyarakat meski kita ini adalah kafir yang bagi mereka mungkin dianggap anjing?

Dianggap anjing yang paling kurap sekalipun itu tak lebih penting dan tidak apa-apanya ketimbang bagaimana menjadi seekor anjing yang budiman dan terberkati meski dari remah-remah yang mereka jatuhkan ke bawah meja.

Anjing-anjing se-dunia, bersatulah!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.