Kabar Baik Vol. 38/2017 – Ketika otak nggak ke altar tapi ke pacar, apa pentingnya ke gereja?

7 Feb 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 7 Februari 2017

Markus 7:1 – 13
Pada suatu kali serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus.

Mereka melihat, bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh.

Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak melakukan pembasuhan tangan lebih dulu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga.

Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.

Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban?yaitu persembahan kepada Allah?, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.

Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

Renungan

Pernahkah kamu merasa bahwa pergi ke gereja mengikuti perayaan ekaristi mingguan hanyalah sekadar kewajiban saja? Hanya karena sejak kecil kita sudah ‘diindoktrinasi’ bahwa itu adalah suatu keharusan ke gereja maka kita merasa kurang sreg kalau belum ke gereja?

Alhasil, biasanya selama di gereja kita lebih fokus pada cewek yang duduk di depan kita, kenapa kok belahan punggungnya rendah betul!?

Kenapa kok suara pemazmur-nya fales bener?
Kenapa kok pada permukaan gigi si bapak pembaca bacaan kedua tadi ada irisan lombok merahnya?

Kenapa kok kotbah romo membosankan dan tak tentu arah jadi mending buka handphone aja, ngecheck lini masa siapa tahu ada gosip politik terbaru dari mantan presiden yang baperan dan suka melenguh…eh mengeluh itu?

Percayalah, ketika hal itu terjadi, kita sejatinya tak jauh dari apa yang dikatakan Yesus hari ini “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

Ya! Bibir kita mengucapkan kata-kata doa dan ritual ekaristi tapi adakah hati kita dekat padaNya?

Jadi?
Mari kita benahi diri.
Mulai dengan berani bertanya, “Kenapa aku harus pergi ke Gereja minggu ini? Apa pentingnya?” Kalau tak bisa menemukan jawaban lain selain ‘harus’, ya pertimbangkanlah untuk pergi.

Wah, kalau begitu akan ada berapa banyak orang Katolik yang makin malas ke Gereja, Don?

Tergantung! Bagi mereka yang mudah memutuskan bahwa mereka tidak menemukan jawaban, mereka akan berhenti. Tapi aku memilih untuk menghindari untuk menyimpulkan bahwa aku tidak menemukan jawaban. Kenapa? Kuasa Tuhan itu maha besar! KebesaranNya bahkan tak akan bisa kukuak meskipun aku dikaruniai usia seribu tahun sekalipun!

Oleh karena itu, seumur hidup akan menjadi proses pencarian jawaban itu sendiri dengan tak henti-hentinya datang ke Gereja, menyatukan diri dalam perayaan ekaristi meskipun kadang pikiran meleng tak ke altar tapi ke pacar, meski kadang satu-satunya motivasi hanyalah ‘keharusan’ atau apapun… pokoknya maju terus, pantang kendur!

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Mungkin si Don perlu menceritakan beberapa alasan untuk memilih ke gereja.. bisa di mulai dari alasan si don sendiri…. Alasan ini dapat dijadikan refleksi mengapa kita harus ke gereja…

    Balas
    • Kan udah? :) Di paragraf terakhir kan sudah kutuliskan alasanku untuk tetap memilih pergi ke Gereja? :) Btw, terimakasih sudah berkomentar…

      Balas
      • wah… pesannya belum dapat saya tangkap…

        Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.