Kabar Baik Vol. 37/2017 – Jangan-jangan kita telah mati dalam hidup?

6 Feb 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 6 Februari 2017

Markus 6:53 – 56
Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.

Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.

Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Renungan

Setiap orang, tanpa terkecuali, pada suatu saat akan merasakan sakit. Tidak ada sakit yang menyenangkan bahkan pada tataran tertentu, sakit bahkan mengkhawatirkan karena bisa mengubah hidup seseorang, bisa pula menjadi penghantar kepada kematian.

Dalam pengalamanku, mengamati bagaimana mereka yang datang berduyun-duyun dalam perayaan ekaristi berujub penyembuhan amatlah menggetarkan. Mereka datang bersama keluarga. Ada yang dipapah, duduk di kursi roda dengan tatapan mata hampa bahkan pernah suatu waktu aku menyaksikan seorang yang tidur di tempat tidur dibawa ke perayaan tersebut yang mengingatkanku pada Kabar Baik hari ini, “…mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya…

Mereka datang karena yakin dan percaya bahwa Yesus hadir dalam ekaristi dalam wujud roti dan anggur dan kalau orang-orang di pasar seperti yang ditulis Markus hari ini, mereka diperkenankan sembuh hanya dengan menjamah jubahNya, orang-orang sakit di antrian pintu masuk perayaan ekaristi tersebut juga punya harapan yang sama untuk disembuhkanNya.

Tapi tak jarang yang merasa seolah tak mendapatkan mukjizat. Mereka tak kunjung disembuhkan padahal sudah berkali-kali ikut perayaan ekaristi berujub penyembuhan. Ada yang pasrah menerima, ada pula yang kecewa. Kenapa aku tak disembuhkanNya? Jangan-jangan aku tak berhasil menjamah jubahNya? Jangan-jangan Yesus tak cinta kepadaku?

Salahkah kecewa itu? Tentu tidak, namanya juga manusia.

Aku jadi ingat satu peristiwa di akhir tahun 2013. Saat itu, di Klaten, di rumah orang tuaku, dihelat acara peringatan 1000 hari meninggalnya Papa. Waktu itu keadaan Mama pun juga sudah mulai memburuk; ia terkena stroke setahun sebelumnya sehingga harus duduk di kursi roda, sementara di dalam otaknya terdapat tumor sekepalan tangan bayi besarnya dan benjolan di paru-paru.

Ketika pastor yang hendak mempersembahkan perayaan tiba, di hadapanku, Mama memegang tangan pastor dan berkata, “Mohon doakan saya, Romo! Semoga saya diberi sembuh!”

Pastor itu tanpa ragu dan berpikir panjang menjawab, “Pasti, Ibu! Tanpa ibu pinta, Tuhan pasti menyembuhkan! Jangan khawatir!”

Dua tahun tiga bulan kemudian, apa yang dikatakan pastor tadi menjadi kenyataan. Mama sembuh total dari sakitnya. Ia sembuh dengan cara kita semua suatu waktu akan pula disembuhkan, meninggal dunia menuju pada kehidupan baru yang abadi di surga.

Kesembuhan itu pasti dan datangnya dari Tuhan dan karena datangnya bukan dari kita, maka kesembuhan dalam wujud dan cara apapun adalah menjadi hak Tuhan.

Ketika kita disembuhkan dari sakit jasmani dan diijinkan untuk kembali sehat, mari berpikir bahwa Tuhan punya rencana yang harus kita selesaikan dalam hidup demi kemuliaan namaNya.

Ketika kita disembuhkan dari sakit jasmani dan diijinkan untuk masuk kepada kehidupan abadi melalui gerbang bernama kematian, marilah pula berpikir bahwa Tuhan menghendaki kita untuk pulang ke rumah abadi yang sesungguhnya dimana rasa sakit tak memiliki tempat sama sekali.

Lalu bagaimana ketika kita merasa tak punya penyakit jasmani sama sekali? Bersyukurlah sekaligus waspadalah pada penyakit-penyakit rohani yang keberadaannya mungkin tak mengkhawatirkan dan tak menyakiti jasmani kita tapi bukankah roh, rohani, itu abadi?

Ketika kita dengan gegabah merasa tak sakit secara rohani apapun juga dan tak ada perasaan waspada maka sudah saatnya bagi kita untuk waspada! Kenapa? Jangan-jangan kita telah mati dalam hidup karena hanya orang mati yang tak merasakan sakit sama sekali!

Simak juga, Kabar Baik yang kutulis tepat pada hari Mama meninggal, 7 Maret 2016 silam di sini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.