Kabar Baik VOL. 341/2016 ? Adakah kita ini tersesat atau selamat?

6 Des 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 6 Desember 2016

Matius 18:12 – 14
“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?

Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat.

Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.”

Renungan

Kita adalah domba dan Yesus adalah gembala kita.

KegembiraanNya sempurna ketika tak ada satupun dombaNya yang hilang, “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.” begitu kataNya.

Maka ketika ada satu yang lenyap, Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mencarinya dan ketika domba yang hilang itu ditemukan, kegembiraan surga begitu besar.

Persoalannya adalah, sebagai domba, kita itu lemah! Dunia yang dikenal domba hanya tiga: merumput, dekat dengan kawanannya, dekat dengan gembalanya. Ketika ia terpisah dari rombongan, konon domba punya karakter alami yang khas, gampang panik.

Jika Si Licik bukankah makhluk yang berakal, segalanya tentu akan lebih mudah. Ketika kita hilang, kita panik, kita mengembik. Sang Gembala lalu mencari berdasarkan sumber suara embikan kita, Ia berhasil menemukan, selesai perkara!

Tapi Si Jahat itu kian hari kian canggih dan licik. Mereka tahu kita gampang panik, jadi mereka menyaru sebagai domba lain yang seolah kawan kita. Bisa pula memalsu diri sebagai gembala seolah gembala kita yang sebenarnya, gembala palsu namanya. Semuanya dilakukan Si Jahat supaya kita merasa nyaman seolah kita tidak pernah hilang dari kawanan utama.

Lalu ketika Sang Gembala Sejati datang menemukan dan hendak menyelamatkan kita, Si Licik tak perlu repot-repot mengusirNya karena kita sendiri akhirnya yang justru tak mengenali lagi Sang Gembala Sejati, mengusir dan menghardikNya pergi dari hidup kita.

Cerita selanjutnya mudah ditebak, pada satu titik kita akan tersadar apa yang telah terjadi. Kita panik, kita mengembik tapi semuanya tak membantu apapun selain bersiap menghadapi kematian yang kekal nan kelam.

Sebenarnya aku punya banyak cerita yang bisa kupakai sebagai bahan permenungan Kabar Baik hari ini. Tapi setiap hendak menerakan kata pertama, aku mendadak gamang. Bukan karena kehabisan kata-kata tapi karena aku tak bisa berhenti berpikir, jangan-jangan justru aku inilah domba yang sedang hilang?

Jangan-jangan selama ini aku berada di kawanan palsu yang seolah menyerukan kebenaran. Jangan-jangan aku dipimpin oleh gembala palsu yang kupercaya dan ketika Sang Gembala Yang Benar datang, aku malah menampikNya?

Kalau kalian bagaimana? Sudah yakin bahwa kalian tak tersesat? Atau jangan-jangan cuma sok yakin kita ada di kawanan yang benar hanya karena kita rajin beribadah di Gereja dan aktif di pelayanan sana dan sini?

Kata Cak Lontong, “Mikir!”

Oh ya, teman-teman, aku membuat survey/angket ?Kabar Baik?. Aku memerlukan feedback/saran/kritik terhadap serial Kabar Baik yang kuterbitkan setiap hari tahun ini. Silakan dilihat di sini. Terima kasih ya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.