Kabar Baik VOL. 271/2016 ? Orang Katolik boleh membalas dendam, asal…

27 Sep 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 27 September 2016

Lukas 9:51 – 56
Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.

Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”

Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.

Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Renungan

Bolehkah kita membalas dendam? Tidak! Karena kita harus mengasihi sesama termasuk musuh kita.

Tapi ketika hal itu kita sampaikan kepada orang yang sedang panas hatinya karena seseorang menyakitinya, alih-alih ia mendingin, yang ada justru kita digampar tak diterima.

Loh, tapi itu kan resikonya, Don! Jadi pembawa Kabar Baik, resiko kita memang tinggi. Benar, tapi bagaimana kalau begini, ketika kita ditanya bolehkah kita mmebalas dendam, jawaban yang paling pas menurutku adalah boleh! Asal… Asal tujuan hidup kita sudah tercapai semuanya.

Wah, kamu ini nggak bener, Don! Kabar Baik kok dibengkok-bengkokkan begini?!?Ssttttt, sabar…. sebelum terbakar emosi, baiklah kalian mendengarkan penjelasanku dan sebelum kujelaskan mari kita merenungi Kabar Baik hari ini terlebih dahulu.

Diluar ‘kewajaran’, pada ayat yang paling awal dari Kabar Baik hari ini, Lukas menggunakan frase ‘mengarahkan pandangan‘ yang menurutku agak keluar ‘pakem’ dari pilihan kata dan frase yang biasa ia gunakan. Tentu hanya Lukas dan Tuhan yang tahu kenapa ia memilih frase itu, tapi hasil permenunganku mengatakan bahwa ia memilihnya untuk menyangatkan arti bahwa pada saat itu, karena waktu diangkat ke surga semakin dekat, Yesus benar-benar fokus, mengarahkan pandangan, untuk pergi ke Yerusalem, tempat dimana akhirnya Ia ditangkap, disalib lalu wafat di Golgota.

Saking fokusnya, ketika utusanNya ditolak orang-orang Samaria dan kedua murid, Yohanes dan Yakobus, hendak mengusulkan supaya Ia membinasakan orang-orang tersebut, Yesus berpaling lalu menegor mereka.

Kalau tadi Lukas menggunakan frase ‘mengarahkan pandangan‘, kali ini ia menggunakan kata ‘berpaling‘. Keduanya bertolak belakang.

Singkat cerita, mereka pun pergi ke desa lain untuk melanjutkan perjalanan tanpa melakukan satu tindak balas dendam pun terhadap orang-orang Samaria.

Begitulah seharusnya kita.?Kita harus fokus, mengarahkan pandangan, terhadap tujuan hidup terlebih dahulu. Memperhatikan orang yang membenci dan memusuhi saat kita sedang fokus pada tujuan hanya akan membuat kita berpaling dari tujuan yang belum terselesaikan.

Apakah tujuan hidup kita?
Sebagai orang yang mengaku pengikut Kristus, kita harus ingat pada dua hal utama yang diperintahkanNya.

Pertama, kasihilah Tuhan Allah dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan.?Kedua, kasihilah sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Setelah tujuan itu semua tercapai, barulah kita boleh berpikir untuk melampiaskan dendam. Persoalannya adalah kapan tujuan itu tercapai ketika kasih itu abadi?

Jadi? Jangan pernah berpikir untuk membalas dendam, tetap fokus pada tujuan karena tujuan kita adalah keabadian dan keabadian tak mengenal batas cukup dan kesampaian karena ia tak takluk oleh waktu, tak lumat oleh dendam bahkan yang paling kesumat sekalipun.

Bolehkah kita membalas dendam? Boleh tapi tidak mungkin terjadi karena mengasihi sesama termasuk musuh itu berlangsung untuk selama-lamanya.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.