Kabar Baik VOL. 278/2016 ? Kenapa merasa khawatir itu sia-sia?

4 Okt 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 4 Oktober 2016

Lukas 10:38 – 42
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.

Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”

Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Renungan

Mari kita awali renungan ini dengan pertanyaan retorik nan tak lekang ditelan jaman hingga kita sendiri tertelan olehnya, “Adakah hal yang tidak mengkhawatirkan dalam hidup ini?”

Kabar Baik hari ini jika dilihat dari ‘seni kejadian’ barangkali adalah hal biasa. Yesus mendatangi Maria dan Marta lalu Maria sibuk ngobrol dan menyambut Yesus sementara Marta, saudarinya, repot menyiapkan segala macam untuk menyambut Yesus. Kubayangkan ia adalah ‘seksi sibuk’ yang berkutat dengan dapur dan segala macam tetek-bengeknya.

Yesus menyampaikan dua hal penting. Pertama, tentang pertanyaannya kenapa Marta mengkhawatirkan dan menyusahkan diri akan banyak hal dan yang kedua, Ia menegaskan bahwa apa yang dipilih untuk dilakukan oleh Maria, saudarinya, adalah yang terbaik yaitu duduk mendekat dan mendengarkanNya.

Salahkah Marta? Tentu tidak karena niatnya baik, ia ingin menyiapkan yang terbaik untuk Yesus sebisa-bisanya, semampu-mampunya. Tapi apa yang dilakukan Marta bisa menimbulkan kesia-siaan.

Kenapa? Karena ia khawatir, karena ia menyusahkan diri dalam berbagai macam hal yang sebenarnya tak menuntut untuk kita khawatirkan dan kita susahi.

Dalam hidup, kita sering bersikap seperti Marta. Wajarkah? Lebih tepatnya manusiawi karena seperti yang kutanyakan di paragraf pertama renungan ini, adakah yang tidak mengkhawatirkan dalam hidup ini?

Tidak ada. Tapi kan kita tetap harus melakukan yang terbaik, Don?

Benar. Tapi tergantung dari sisi pandang mana kamu melihat ‘terbaik’ itu??Marta, di mata Yesus, tidak melakukan yang terbaik semata justru karena kekhawatirannya membuat ia tak sadar bahwa Yang Terbaik sudah datang. Demikian juga dengan kita, jika patokan kaya, sehat, berpenampilan wah adalah menjadi yang paling baik, sejatinya kita tak’kan pernah bisa mencapainya hingga kekhawatiran demi kekhawatiran yang kita takutkan itu pada akhirnya benar-benar terjadi.

So? Aku tak berani bilang “Stop khawatir!” tapi lebih baik untuk kita mulai mengurangi rasa khawatir. Bukan karena menganggap enteng, bukan pula semata karena “Ah, tenang aja, Tuhan pasti membereskan!” tapi lebih pada pengertian bahwa adalah percuma merasa khawatir yang berlebihan terhadap hal yang memang sejatinya mengkhawatirkan dari sisi manusia.

Lebih baik menyambut hal terbaik yaitu kehadiran Yesus Tuhan dalam hidup ini. Ia adalah satu-satunya sosok yang tak perlu kita khawatirkan. Saat yang lain pergi meninggalkan kita seorang diri, keberadaanNya adalah abadi melampaui batas-batas kekhawatiran, melampaui ketakutan-ketakutan kita yang paling ngeri sekalipun.

Tuhan memberkati!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.