Kabar Baik VOL. 276/2016 ? Iman segede gaban

2 Okt 2016 | Cetusan, Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 2 Oktober 2016

Lukas 17:5 – 10
Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!”

Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Renungan

Ada dua hal yang dibicarakan Yesus pada Kabar Baik hari ini. Pertama tentang sebesar apa iman kita, yang kedua terkait hakikat Tuhan dan hambaNya yang adalah diri kita, para pengikutNya.

Bagaimana cara menggabungkan kedua hal tersebut? Mari kita simak renunganku di bawah ini.

Dulu orang tuaku menggunakan jasa pembantu untuk mengurusi rumah dan melayani aku serta Chitra, adikku. Soal makanan memang diurus langsung oleh Mama, tapi soal lain seperti bersih-bersih, ngepel, cuci dan setrika serta mengasuh Chitra waktu kecil, Mama menyerahkan pada pembantu. Dan seingatku, Papa dan Mamaku dulu bukan orang yang amat perhitungan terhadap pembantu.

Begitu Papa pulang dari kerja dan kami selesai santap malam sekitar jam 7, Mama membebaskan pembantu kalau mau istirahat mulai dari nonton tv bergabung bersama kami, atau sekadar cari angin keluar nongkrong dengan teman-temannya…atau pacaran ya bebas-bebas saja.

Beda dengan pembantu yang tinggal di rumah kawanku. Mama pernah bercerita katanya pembantu temanku itu diperlakukan dan diperas amat ketat. Jam istirahatnya amat pendek, belum lagi perlakuan majikannya yang cenderung kasar.

“Kok bisa bertahan ya Ma?” tanyaku.
“Lha digaji besar. Orang perlu uang, Le! Makanya dia mau melakukan apapun dan diperlakukan seperti apapun asal… sesuai gajinya.” jawab Mamaku.

Aku lantas membayangkan, bagaimana jika tiba-tiba si majikan yang notabene adalah orang tua kawanku itu lupa menggajinya atau katakanlah karena pengeluarannya sedang banyak maka gaji bulan ini untuk pembantu diturunkan?

Tentu tak’kan bertahan lama, ia akan keluar… Siapa sudi diperas ketat tapi gajinya juga ikutan ketat, kan?

Kita ini hamba Tuhan terlepas dari kamu sering menyebut diri sebagai Anak Tuhan, setidaknya Kabar Baik hari ini mengungkapnya demikian.

Persoalannya kita nggak pernah melihat secara kasat mata Sang Tuan tapi aturan yang ditetapkan untuk menjadi hamba yang baik sudah dikeluarkan melalui AnakNya sendiri, Yesus.

Seorang hamba yang baik, menurutNya, adalah hamba yang benar-benar mengabdi, merendahkan diri dan menganggap bahwa apa yang ia lakukan bukanlah sesuatu yang besar karena memang sudah wajar untuk dilakukan.

Tak mengharapkan ajakan “Mari makan!” tapi justru mengikat pinggang dan melayani Tuan makan dan percaya bahwa sesudah Ia kenyang, kita diijinkan untuk makan.

Nah, kata ‘percaya’ inilah representasi dari iman. Iman kita diukur, apakah segede gaban, sebesar biji melinjo, sebesar sesawi atau hanya seperti kentut yang berbau tapi tak berwujud?

Kalau soal pembantu dan majikan seperti kawanku tadi gampang patokannya, dua bulan nggak digaji ya pindah! Lha kalau soal Tuhan dan kita, bagaimana kita tahu Ia sudah selesai makan dan minum? Bagaimana kalau Ia sudah selesai makan dan minum tapi Ia berpikir bahwa kita masih kuat untuk bekerja tanpa perlu makan jadi kita nggak diberi waktu untuk makan dan minum lagi…

Wah, nggak bisa begitu, Don!
Kenapa tidak? Bukankah Ia adalah Tuhan yang mengerti segalanya termasuk mengerti batas-batas kemampuan kita dalam mengatasi masalah-masalah hidup?

Repot ya? Hahahaha….

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.