Kabar Baik VOL. 266/2016 ? Siapakah Dia ini?

22 Sep 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 22 September 2016

Lukas 9:7 – 9
Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan iapun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati.

Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.

Tetapi Herodes berkata: “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

Renungan

Pesan terkuat Herodes adalah ketika ia mempertanyakan ‘Siapakah Dia ini?’

Adalah Herodes Antipas, raja yang hidup saat Yesus hidup. Meski tak dituliskan Lukas, aku berusaha membayangkan bagaimana reaksi Herodes mendengar cerita tentang Yesus.

Barangkali, sesudah mempertanyakan demikian, Herodes tiba-tiba ingat bahwa Yesus adalah anak yang ia kejar-kejar dulu! Anak yang diinginkan untuk ia bunuh lalu sempat diharapkan untuk diketahui dimana Ia dilahirkan melalui tiga majus dari timur yang menemuinya dulu.

Pada akhirnya, Lukas mencatat Herodes memang bertemu dengan Yesus sesaat sebelum Ia disalib, beberapa tahun kemudian. Saat itu Herodes dilaporkan amat girang bertemu denganNya. Ia banyak mengajukan pertanyaan tentang asal-usul, minta dibuatkan tanda seperti Yesus membuat banyak tanda pada orang-orang, tapi malang baginya, bergeming pun Yesus tidak.

Ia tak memberi kesempatan pada Herodes bahkan untuk menjawab pertanyaan lawasnya, “Siapakah Dia ini?”

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menemukan jawab, “Siapakah Yesus itu?”

Apakah Ia bungkam? Atau suaraNya terlalu lirih?

Mencari jawaban terbaik tentang siapakah Yesus hanya bisa kita cari pada puncak perjumpaan kita denganNya di Ekaristi Kudus. Tapi dalam kehidupan sehari-hari pun, Yesus ada dan bersuara.

Melalui orang-orang disekitar yang kita jumpai setiap saat, melalui kekuatan yang kita dapatkan saat menderita. Saat kita adu kuat tepuk tangan dan tertawa bersama rekan seperjalanan kita yang sukses mereguk cita. Di semua lini hidup, seharusnya kita bisa mengumpulkan buah-buah puzzle untuk kita rangkai dan menguak siapakah Yesus itu.

Atau jangan-jangan telinga kita yang bebal?
Yang tak mampu mendengar suaraNya?

Lalu karena frustrasi, seperti halnya Herodes, kita lantas ‘meringkus Yesus’, mengolok-olok dan merendahkanNya lalu mengembalikan pada Pilatus supaya kembali disalibkan seperti Ia disalibkan dua ribu tahun lalu.

Untuk segala kebebalan kita, untuk segala kedosaan kita, kadang kita jadi tak mau tahu siapakah Dia ini?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.