Kabar Baik VOL. 256/2016 ? Tuhan, Tuhan nggak usah datang ke hidupku…

12 Sep 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 12 September 2016

Lukas 7:1 – 10
Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.

Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.

Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.”

Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Renungan

Mari kita reka ulang kejadian yang dijelaskan dalam Kabar Baik hari ini.

Seorang perwira, ia Romawi yang menjajah bangsa Israel kala itu. Hamba perwira itu sakit, entah apa. Lalu Yesus datang ke Kapernaum, kawasan dimana si perwira tinggal.

Mengetahui hal itu, si perwira menyuruh beberapa tua-tua Yahudi datang kepada Yesus memintaNya supaya datang ke rumah si perwira tadi.

Yesus manut lalu pergi. Tapi di tengah jalan, si perwira menyuruh sahabat-sahabatnya untuk menemui Yesus dan meminta supaya Ia tak usah datang ke rumah karena si perwira merasa tak layak rumahnya didatangi Yesus.

“Cukup berkata saja maka hamba itu akan sembuh.”

Yesus terheran-heran dan mari kita berhenti di titik ini, pada keterheranan ini.

Jika Yesus adalah manusia biasa, barangkali seteah heran, Ia akan marah.

Kurang ajar banget nih orang! Yesus sudah menurut mau datang eh tiba-tiba di tengah jalan ditemui sahabat-sahabatnya lalu dibilang untuk nggak usah datang karena ia merasa tak layak.

Apa-apaan? Banyak orang pengen Ia datang dan makan tapi si perwira ini malah menolak! Apa ia takut Yesus dan murid-muridNya akan menghabiskan banyak makanan? Jangan-jangan ia menganggap karena Yesus adalah dari bangsa terjajah, Ia tak pantas masuk ke rumah seorang Romawi?

Tapi Yesus bukan manusia biasa.
Ia melihat hati. Ia tahu niatan baik si perwira. Ia bisa mendalami hatinya sehingga berani bilang bahwa belum ada seorang pun yang punya iman seperti si perwira bahkan dari kalangan orang-orang Israel sekalipun.

Si perwira itu percaya bahwa hanya dengan perkataan saja, Yesus pasti bisa menyembuhkan hambanya yang sedang sakit.

Ada dua hal yang mungkin kerap tak kita perhatikan saat membaca perikop Kabar Baik ini.

Kita terlalu fokus pada ucapan si perwira yang disampaikan para sahabatnya yang lantas dijadikan formula tetap pada setiap perayaan ekaristi sebelum kita menyambut komuni.

Dua hal itu adalah; bahwa sejak sebelum menyatakan imannya kepada Yesus, si perwira itu adalah orang baik.

Kebaikannya ditandai dengan permohonan para tetua Yahudi yang datang pada Yesus. Mereka melaporkan bahwa meski penjajah, tapi si perwira itu membantu bangsa Israel untuk mendirikan sinagoga, tempat ibadah umat Yahudi.

Kebaikan yang kedua, perwira itu amat peduli pada hambanya. Hamba ditakdirkan untuk bekerja pada tuannya. Jika si perwira itu jahat, bisa saja ia menyuruh si hamba pergi karena sakit dan menggantinya dengan hamba lain yang sehat. Tapi alih-alih demikian, si perwira malah memohon supaya Yesus menyembuhkannya.

Bagaimana dengan kita?
Adakah kita percaya pada Tuhan bahkan melalui perkataanNya saja yang mampu merontokkan segala perkara??Atau sebaliknya, kita pura-pura percaya saja lalu melarang Tuhan untuk masuk ke dalam hidup kita, mencegatNya di jalanan dan berujar, “Tuhan.. Tuhan nggak usah datang ke hidupku, berkata saja dari kejauhan pasti hidupku akan baik-baik saja.” dan kita bisa melanjutkan segala kedosaan kita.

Begitu?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.