Kabar Baik Vol. 24/2017 – Kamu saudaraNya? Kamu ibuNya?

24 Jan 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini, 24 Januari 2017

Markus 3:31 – 35
Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?”

Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Renungan

Ada dua yang kusyukuri pagi ini.
Yang pertama karena Yesus bilang bahwa barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Nya, dialah ibuNya.

Sementara yang kedua adalah kenyataan bahwa Yesus tak berketurunan, tak beristri dan orang tuanya, Maria serta Yusuf, pun tak beranak lain selain diriNya sendiri.

Kalaupun sepupu-sepupunya punya anak dan berketurunan hingga kini, mereka tak bisa mengklaim sebagai saudara Yesus begitu saja karena belum tentu mereka melakukan kehendakNya sendiri. (Bahkan kalau kalian ingat beberapa hari lalu, kaum dari saudara Yesus sendiri pun berniat untuk mengambilNya karena sudah dianggap tak waras lagi, kan?!)

Hari-hari ini publik dibuat terkekeh geli sekaligus muak pengen muntah melihat perilaku orang yang mengaku keturunan nabi tapi tingkah polah dan ucapannya sekotor jamban di terminal yang selalu dipakai berak tiap hari tapi tak pernah dibersihkan sama sekali!

Maunya menang sendiri. Memanipulasi ayat-ayat agama, ketika melihat lawan politik gawal, jutaan orang diturunkan ke jalan, meringsek dan bagaikan anak kecil yang kehilangan puting susu ibunya, ia protes minta lawan itu dihukum, dibunuh bahkan digantung oleh pemerintah!

Tapi ketika balik diperkarakan, ia ketakutan, merasa seolah jadi korban, merasa dikriminalisasi lalu malah menasihati supaya kita rekonsiliasi nasional!

Memuakkan, bukan? Sebagai warga biasa kita berharap drama busuk nan pesing ini segera berakhir!

Jadi, jangan pula kita ada pada hitungan kaum-kaum yang memuakkan itu. Hanya karena pakdhe kita adalah seorang pastor, hanya karena bulik-bulik kita adalah suster, hanya karena kita berteman dengan banyak pastor dan punya foto selfie dengan uskup lantas kita merasa sok suci dan ‘saudara’ denganNya.

Persaudaraan kita denganNya itu relatif, Bro, Sis!
Ketika kamu melakukan kehendakNya, kamu saudaraNya. Ketika kamu nggak melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya, ya siapa sih yang mau kenal kecuali kalau kamu menyesal lalu bertobat tentu saja.

Sebarluaskan!

1 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.