Kabar Baik VOL. 190/2016 ? Jangan jadi domba jadi-jadian!

8 Jul 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 8 Juli 2016

Matius 10:16 – 23
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.

Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.

Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.

Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.

Renungan

Jadi bingung, Yesus itu maunya kita ini jadi apa??DombaNya? Ular? Merpati? Atau domba hybrid yang punya kemampuan ular juga merpati?

Tidak! Yesus ingin kita tetap menjadi domba. Tapi domba yang cerdik, domba yang tulus. Contohnya? Ya seperti dia, Yesus!

Jadilah domba yang seperti Dia, bukan seperti yang lainnya.

Lihat bagaimana Ia cerdik menjawab taktis pertanyaan orang-orang Farisi.?Ketus? Super pedas, tapi tak ada yang lebih benar dari yang Ia ucapkan bahwa apa yang dilakukan kaum Farisi memang layak di-pedas-i!

Tengok juga reaksinya ketika Ia hendak dijatuhkan di jurang setelah pelayanan yang Ia lakukan di kampng halamanNya sendiri. Ia melipir lalu pergi.

Takutkah Yesus? Tidak! Hanya waktuNya belum sampai, Ia masih harus pergi ke sana-sini lalu ke Yerusalem untuk menuntasi semuanya.

Itu semua adalah cerdiknya. Tulusnya?
Masih ingat bagaimana Yesus bahkan sampai menangis ketika tahu saudaranya, Lazarus, mati? Dengan tulus, Ia menghidupkannya kembali.

Juga dengan peristiwa di Kana. Ia bicara pada IbuNya, Maria, bahwa waktuNya belum tiba, tapi Ia toh melakukannya juga; mengubah air menjadi anggur. Kurang tulus apa?

Puncaknya ya lihat sendiri bagaimana Ia tergantung di Kalvari! Ia tulus memberikan nyawaNya untuk kita!

Apa resiko menjadi domba yang cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati?

Resikonya adalah kita tak lagi menjadi domba. Kita bisa jadi ular yang licik.

Contoh? Seorang what-so-called Hamba Tuhan, awalnya punya niat baik, memberdayakan umat supaya mendapatkan kemajuan ekonomi. Diajaknya mereka bisnis MLM tapi naga-naganya umat malah ditipu habis-habisan dan alih-alih membuat orang lain kaya, yang ada si Hamba Tuhan itu yang kaya raya berdiri di atas penderitaan umatnya.

Resiko lain? Menjadi domba yang lugu seperti merpati.
Contoh? Karena merasa tersentuh oleh cerita seorang yang terlilit hutang kita memutuskan mau membantu membayar hutang-hutangnya. ?Itu kan hukum kasih. Kita harus mengasihi sesama termasuk orang itu!? demikian pembelaannya.

OK, tapi bagaimana dengan anak-anak dan istrinya? Apa mereka juga bukan orang yang harus dikasihi? Kecuali kalau sudah berlebih tak mengapa, tapi rejeki masih pas-pasan kok nolong orang lain abis-abisan?

Jadi bagaimana? Serba salah nih!

Jadilah domba terlebih dahulu sebelum bisa belajar menjadi cerdik dan tulus.?Jangan ingin jadi ular ataupun merpati, jangan pernah! Tetaplah jadi domba yang sejati!

Caranya?
Ada dua.

Pertama, tetap berada di kalangan domba lainnya sehingga ketika melihat sesama berperilaku kita bisa tahu bahwa begitulah caranya untuk tetap menjadi domba.

Kedua, ini yang paling penting, tetaplah berusaha supaya selalu bisa dikenali oleh Gembala sebagai domba.?Jangan sampai Gembala jadi pangling melihat kita, ?Ini domba jadi-jadian atau bukan??. Kan ngeri kalau Sang Gembala sampai menganggap kita telah jadi ular? Alih-alih diangkat dari belukar dan dikembalikan ke kalangan, kepala kita bisa diremukkan olehNya karena kita ular.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.