Kabar Baik VOL. 188/2016 ? Tentukan Zona Perangmu!

6 Jul 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 6 Juli 2016

Matius 10:1 – 7
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.

Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,

Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus,

Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

Renungan

Kalau mau pakai bahasa bombastis, aku ingin merangkum Kabar Baik hari ini dengan satu kalimat singkat: Tentukan zona perangmu!

Membangun dan mempertahankan sesuatu haruslah mulai dari yang terkecil dan terdekat demikian juga menjalani tugas perutusan sebagai pegawai di ladangNya, sebagai laskar Tuhan, diri sendiri dan keluarga adalah zona perang kita yang mula-mula dan terutama.

Tak perlu kalian pergi ke tanah seberang hanya untuk melawan kaum kafir dan membela Tuhan karena luasan zona perangmu tak lebih jauh dari jarak pintu depan hingga batas halaman belakang rumahmu.

Oleh karenanya Yesus bilang supaya para murid tak melenceng ke jalan bangsa lain melainkan mencari domba-domba yang hilang di bangsa sendiri, Israel.

Ironisnya, meski tak banyak, ada keluarga beberapa pelayan Tuhan yang justru berantakan.

Namanya terkenal. Diundang kesana-kemari. Lintas batas hingga ke luar negeri. Sekali berbicara ratusan bahkan ribuan jiwa diselamatkan tapi di rumah anak-anak akrab dengan narkoba, tak lagi ke gereja dan pergaulan seks bebas menjadi bumbu keseharian yang menyenangkan.

Bagi si pelayan, keadaan itu dianggap sebagai cobaan malah dijadikan bumbu pengajaran di muka umum supaya tambah ?laku? dan ?menyentuh?.

Bagiku itu adalah peringatan dari Tuhan kalau tak bole menyebutnya sebagai simbol kegagalan. Andai saja ia mawas diri, andai saja ia tak mudah melambung ketika disaluti kata-kata ?Hebat!? atau ?Pengajarannya menyentuh sekali!? barangkali ia akan memilih menelisik diri sendiri dan menyadari apakah ada yang salah dalam rumah tangganya?

Jadi, sebelum menggarami sesama, layanilah dulu gereja kecilmu yang dibangun Tuhan di atas ikrar dan janji setia tak hanya terhadap istrimu tapi juga keluarga!

Semakin kemari harusnya kita semakin jelas mendapatkan gambaran tema ?perutusan? yang kubahas sejak beberapa hari silam. Perutusan semakin tampak bukan sesuatu yang muluk-muluk, sesuatu yang terkait dengan melilitkan kabel dan detonator bom ke rompi lalu meledakkan diri di pagi buta di depan kantor polisi?

Bukan pula soal bagaimana mengangkat senjata dan melaknat kaum yang tak percaya.

Itu bukan zona perang kita!
Sekali lagi, zona perang kita yang mula-mula dan terutama tak lebih jauh dari pintu depan dan batas halaman belakang rumah!

Bagaimana memupuk cinta dengan istri saat kita sama-sama menua dan tak lagi menarik secara fisik. Bagaimana mendidik anak sejak kecil hingga besar, mengiring langkah mereka supaya selalu dalam kungkungan Gereja Katolik? Itu lebih penting ketimbang jadi martir kesiangan, Kawan!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.