Kabar Baik VOL. 167/2016 ? Upah

15 Jun 2016 | Kabar Baik

Kabar Baik hari ini, 15 Juni 2016

Matius 6:1-6, Matius 6:16-18
“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.

Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Renungan

Meski telah berpulang kepada keabadian sejak Mei 2015, tapi cerita yang menghangatkan hati dari pribadi sahabatku, Iwan Santoso (kisahnya pernah kutulis di sini), masih kudengar wangi bahkan hingga setahun lebih sesudah kepergiannya.

Sabtu minggu lalu aku berkunjung ke rumah orang tua dan adiknya, karena memang demikian janjiku ke beberapa kawan lain yang juga kawan almarhum, ?Kalau aku pulang ke Indonesia, aku akan mampir ke rumah orang tua Iwan…?

Pertemuan kami berjalan menarik; penuh duka, tapi juga sekaligus mengulas rasa yang pernah kami alami selama berinteraksi dengan almarhum.

Banyak hal baru yang kutahu dari Iwan yang tak kutahu sebelumnya karena ia memang tidak pernah bercerita. Salah satu dari hal itu adalah ia ternyata sering ke gereja, tak pernah luput memberikan donasi bagi yang membutuhkan dan begitu peduli pada sesama termasuk kepadaku.

Aku tertampar.
Pikiranku mengulas kenangan saat masih tinggal dan bekerja bersamanya dulu pada rentang tahun 2000 – 2008.

Setiap minggu aku selalu pamit ke gereja, aktif di persekutuan doa, pelayanan sana-sini. Namaku ternama.

Lagu-lagu yang kuputar di komputer (yang kuyakin ia juga kerap mendengar) dan kutancapkan di volume besar adalah lagu-lagu gereja. Pokoknya aku terpahat sebagai orang religius sementara aku memandangnya sebagai ?orang duniawi biasa?…

Tapi sejak minggu lalu aku mengerti bahwa apa yang kulihat bukanlah apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang kupikir, hanyalah sekadar menjadi opini.

Iwan di masa hidupnya yang singkat, banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke gereja, tak pernah ragu untuk berbuat bagi sesama.

Bagiku, dia adalah salah sedikit dari contoh apa yang dikatakan Yesus dalam Kabar Baik hari ini,

Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.

Dan kini, Iwan sudah mendapat upah dari Bapa Surgawi di surgaNya yang abadi.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.