Kabar Baik untuk didengar dan diterima bukan ditolak dan diacuhkan begitu saja

8 Jan 2019 | Kabar Baik

Sabda Yesus di bawah ini begitu kuat dan sangat mendobrak!

Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku;?dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku;?dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.?(Lukas 10:16)

Konteks pesan di atas harus dipahami dengan baik sebagai penyemangat yang coba ditanamkan Yesus terhadap para murid yang diutus untuk mengabarkan Kabar Baik alias Injil.

Karena kita ini mengaku sebagai muridNya, maka kitapun memiliki tugas yang sama dalam hidup mengabarkan Kabar Baik. Tapi pertanyaannya sekarang adalah, apakah kata-kata Yesus itu cukup bisa menyemangatimu?

Atau jangan-jangan malah membuatmu surut langkah dan ketakutan karena dari pesan Yesus di atas tersirat pernyataan bahwa mungkin saja kita akan tidak didengar dan ditolak. Malah kalau kita pelajari dengan runut, konsekuensi dari penyebaran Kabar Baik itu tak hanya itu tapi juga penganiayaan, penderitaan hingga? pembunuhan!

Mari menanggapi sabda Yesus itu dengan sudut pandang yang lain. 

Justru karena kita punya potensi untuk tidak didengar dan ditolak bahkan disingkirkan karena dianggap menganggu, mari kita menggunakan akal budi dan talenta serta terus memohon bimbingan Roh Kudus supaya kita bisa menyampaikan Kabar Baik Tuhan sehingga bisa didengar dan diterima!

Contoh paling mudah adalah soal rokok.?
Merokok itu jelas merugikan kesehatan, boros dan mengganggu orang-orang di sekitar. Ketika ada kawan yang masih merokok, sebagai orang yang mengasihi kita tentu boleh bahkan dianjurkan untuk mengingatkan bahaya rokok tersebut.

Aku dulu perokok berat dan terkadang mengharapkan ada orang lain yang mengingatkanku untuk berhenti. Tapi yang ada, mereka yang mengingatkanku justru ada (dan banyak) yang menggunakan teror dan menakut-nakuti supaya aku bisa berhenti.

Alih-alih berhasil, aku malah semakin jatuh. Maka, untuk menyenangkan hati saja di hadapan mereka aku berhenti merokok padahal di belakangnya aku tetap membakar tembakau.

Lalu ketika tahu aku hanya berpura-pura, mereka marah dan putus asa karena merasa tak didengar dan ditolak. Padahal kalau mau jujur, bukankah semua itu adalah resiko dan kesalahan mereka sendiri yang memilih cara yang tak nyaman untuk didengar dan diterima?

Atau ketika aku memulai menulis renungan Kabar Baik secara rutin, di tahun-tahun awal, caraku membagikan amat sporadis dan ternyata hal itu mengganggu bagi sebagian orang.

Hingga tahap yang paling ekstrim, mereka menyampaikan keluhan secara publik bahwa renungan Kabar Baik-ku layaknya spam yang harus dihapus dan dihindari.

Aku memutar otak semata karena aku diberi otak oleh Tuhan untuk berpikir dan menjadi landasan tindakanku selanjutnya. Untuk itulah setiap menjelang akhir tahun, hingga kini, aku selalu mengeluarkan survey dan kusebarkan kepada publik yang salah satu pertanyaannya adalah apakah cara penyampaian dan cara distribusi serta promosiku sudah baik atau belum.

Dari masukan itu, jika masuk akal dan memungkinkan, aku jadikan sebagai pedoman. Kenapa? Karena aku ingin pesan-pesanNya didengar dan ingin diterima.

Jaman kian modern dan pola hidup manusia banyak berubah karenanya. Jika kita masih mau mengaku sebagai muridNya, penyampaian Kabar Baik haruslah disesuaikan dengan keadaan jaman sehingga tugas tetap terlaksanakan didengar dan diterima untuk nantinya kita pertanggungjawabkan kepadaNya.

Eh, ngomong-omong kalian sudah baca hasil survey Kabar Baik tahun lalu? Belum? Silakan klik di sini.

Sydney, 8 Januari 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.