Jurus ?Tiga Tujuan? menaati dan berlaku adil di depan aturan

3 Nov 2017 | Kabar Baik

Lalu Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?”
(Lukas?14:3)

Berlakulah adil di hadapan aturan! Begitu kira-kira hal yang bisa kusimpulkan dari apa yang dilakukan Yesus hari ini seperti ditulis Lukas.

Yesus datang ke rumah seorang pemimpin Farisi untuk makan. Bagai domba, Yesus menusuk dan ?menampar? justru di dalam kandang macan di antara orang-orang Farisi sendiri.

Ia menyembuhkan seorang yang sakit di hari sabat sebagai pancingan karena Ia tahu orang-orang Farisi itu adalah orang munafik. Kemunafikannya adalah menuntut orang/umat untuk mengikuti aturan yang salah satunya adalah dengan tidak melakukan pekerjaan yang dilarang di Hari Sabat, tapi ketika hal-hal itu terkait dengan dirinya sendiri, mereka melanggar aturan yang disuarakannya sendiri.

Hal-hal seperti ini jamak terjadi sekarang ini, bukan? Tak melulu soal aturan agama tapi aturan-aturan ?duniawi? yang sejatinya juga harus kita taati dan sikapi secara adil.

Misalnya aturan membuang sampah. Seorang bapak dengan berkacak pinggang menghardik kawanan pemuda tanggung yang ketahuan membuang sampah sembarangan. ?Heh! Buang sampah di tempatnya! Jangan bikin kotor jalan!?

Para pemuda itupun ketakutan lalu melakukan apa yang diperintahkan. Setelah mereka pergi, si bapak melanjutkan merokok. Dan ketika ia hendak masuk kembali ke dalam ruangan, ia membuang puntung rokok itu tepat di dekat kakinya untuk diinjak hingga mati bara lalu ditinggal begitu saja.

Bapak ini adalah contoh buruk terhadap adil di muka aturan.

Atau misalnya lagi pada sebuah lomba menulis. Ketua perlombaan memutuskan tenggat waktu pengumpulan naskah yang akan dilombakan. Para peserta pun mematuhinya. Tapi diam-diam, pacar si ketua perlombaan yang ikut lomba baru mengumpulkan materi naskah dua hari setelah tenggat waktu yang telah ditentukan. Secara aturan harusnya si ketua menolak, kan? Tapi ia menerima semata karena yang menyerahkan materi adalah pacar sendiri.

Seperti halnya bapak yang membuang puntung rokok sembarangan, si ketua perlombaan ini bukanlah contoh yang benar untuk berlaku adil di muka aturan.

Jurus untuk mengikuti dan berlaku adil di hadapan aturan, apapun itu, adalah bagaimana kita menaatinya dalam kerangka ?tiga tujuan? yaitu terhadap Tuhan, terhadap diri sendiri dan terhadap sesama. Hal ini kuselaraskan dengan dua hukum/aturan utama yang diberikan Yesus (bdk Matius 22:36-39) tentang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri.

Menjalankan aturan harus ditujukan pada kecintaan kita terhadap Tuhan; tentang bagaimana mengambil peran dalam rangka mengutamakan kemuliaan Tuhan lebih besar di muka bumi.

Menjalankan aturan harus ditujukan pada kecintaan kita terhadap diri sendiri karena bagaimana mungkin kita bisa mencintai sesama kalau kita tak mengasihi diri ini?

Menjalankan aturan harus ditujukan pada kecintaan kita terhadap sesama karena kalau hanya berhenti pada mengasihi diri sendiri apa bedanya kita dengan Farisi? Kita kan bukan kaum farisi zaman now?

Sydney, 3 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.