Jogja sudah tak berhati nyaman?

6 Jun 2017 | Cetusan

Adakah benar yang ditulis Tirto bahwa Jogja sudah tak berhati nyaman karena biaya hidup yang tak lagi murah? Sejujurnya aku tahu dan tak terlalu peduli karena bagiku Jogja ada dalam masa lalu dan saat itu ia amat nyaman.

‘Masuk’ Jogja tahun 1993, Mama membekaliku dengan Rp 110.000,00 per bulan. Uang sebanyak itu harus kucukup-cukupkan untuk hidup di Jogja diluar ongkos sewa kost-kostan tentunya.

Aku tinggal di Asrama Wisma Ampel 2, Papringan, selama tiga tahun, 1993 – 1996 saat duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Makan siang pertamaku di Jogja bersama rekan sekamar, Heribertus aka Gorgom yang kemudian kutahu ia masih saudara denganku, di warung ‘Barokah’ adalah nasi putih, sayur lodeh, tahu serta tempe yang kuongkosi dengan Rp 175,00 saja!

Di ‘level’ yang sama, nasi kucing angkringan belum jadi nge-hype seperti sekarang, per bungkus cuma Rp 150,00.

Naik kelas ‘dikit’, datanglah ke warung Burjo khas Kuningan. Semangkok burjo hanya Rp 400,00, tante rebus (mie instant ‘tanpa telor’) hanya Rp 600,00 sedangkan intel rebus (mie instant ‘indomie telor’) dijual seharga Rp 900,00. Waktu itu varian goreng belum muncul seingatku.

Di kelas ‘iwak-iwakan’ (daging-dagingan; orang Jogja dan sekitarnya menyebut daging sebagai ‘iwak’ alias ‘ikan’) di warung nasi rames kelas siswa/mahasiswa, harga per piring dibandrol mulai Rp 1.800,00 untuk iwak ayam, iwak sapi, dan iwak laut. Pecel lele di pinggir jalan masih sekitar Rp 750,00 saja!

Oh ya, es teh manis dijual rata-rata Rp 100,00 dan es jeruk Rp 150,00 sedangkan sajian minuman hangat tanpa es dikurangi lima puluh perak per gelasnya.

Di kelas yang lebih tinggi lagi, makanan-makanan ‘kalangan sendiri’ alias ‘ibab’ alias ‘babi’ alias ‘b2’ di rumah makan milik alm. Bang Ucok dibandrol Rp 4000,00 untuk B2 panggang dan Rp 3500 untuk B2 saksang. Aku lupa harga untuk masakan yang sama tapi dengan style ‘Manado’ yang dijual di RM Kawanua Badran.

Kalau mau yang lebih murah? Nasi goreng babi Pak Teguh di Beringharjo hanya Rp 1100,00 per piring.

Di kelas ‘mall’, BigMac McDonalds (dulu aku menyebutnya Bigmatch hahaha…) dilego seharga Rp 4500,00 sedangkan baked potato dilumuri keju cair di Wendy’s Galeria Mall adalah Rp 4000,00 lumayan untuk teman nongkrong manis sambil mengamati mbak-mbak yang berjalan yang tak kalah manisnya.

Harga sewa kost-kostan disekitaran Rp 60.000 – Rp 100.000,00 untuk yang kelas menengah ke atas tapi kalau mau kelas ‘bawah’, ada rumah yang menawarkan kamar dengan harga sewa per bulan hanya Rp 25 ribu saja!

Ongkos transportasi juga murah!
Tarip bis AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) Jogja – Kebumen sekali jalan dibandrol sekitar Rp 1600,00 – Rp 1800,00 untuk armada-armada lokal seperti PO Tetap Merdeka, PO Aman, PO Suharno. Tapi untuk bis-bis ‘Jawatimuran’ seperti ‘Mandala’ jurusan Surabaya – Tasikmalaya (jauh bener trayeknya!) dari Jogja ke Kebumen dibandrol harga tiket Rp 2100,00.

Tapi kalau kita pakai seragam SMA (kadang aku pulang ke Kebumen langsung dari sekolah menuju ke terminal yang waktu itu letaknya di Umbulhardjo) kadang cuma disuruh bayar Rp 1500,00 meski kadang agak jengah karena mesti menjelaskan ke kernet bahwa aku ini benar-benar anak SMA meski rambutku gondrong karena sekolahku keren, mengijinkan muridnya yang laki semua itu untuk memanjangkan rambut sepanjang apapun kami mau, De Britto!

Oh ya, waktu itu Trans Jogja belum ada. Ongkos naik bus kota hanya Rp 350,00 untuk umum dan Rp 150,00 untuk pelajar dan mahasiswa. Resiko copet tanggung sendiri ya hahaha…

Soal hiburan, pertengahan 90an di Jogja belum ada kafe kalau tak mau menyebut THR yang menyajikan sajian dangdut live sebagai kafe ya!

Diskotik Papilon mematok harga Rp 25 ribu sekali masuk dan JJ/Crazyhorse mematok Rp 12 ribu. Tapi sumprit aku belum pernah masuk ke satupun dari diskotik itu karena nggak doyan musik jedak-jeduk!

Nonton di bioskop tergantung duit jajan.
Kalau malam minggu nontonnya di Empire 21, tiket dijual seharga Rp 4500,00. Regent yang letaknya bersebelahan dan memutar film yang kurang lebih sama dengan yang diputer Empire memberi harga Rp 3500,00 lengkap dengan tikus yang kadang berlari tipis-tipis melewati sela-sela kaki (Asyik juga sih kalau nonton dengan Mbak Pacar lalu kakinya kena tikus dan refleksnya memeluk kita… lumayan…)

Kalau tanggal tua tapi tetap butuh hiburan pergilah ke Royal yang letaknya tepat di depan Empire 21. Bioskop kelas ‘bawah’ dengan harga tiket cukup Rp 500,00 saja, memutar film esek-esek tipe ‘Kentang’.

Maksudnya? Kentang, kena tanggung! Layar menyajikan adegan esek-esek, sedang berciuman, sedang mulai buka baju sampai bahu tiba-tiba filmnya dipotong dan penonton yang sudah ‘kena’ berteriak ‘Huuuuu… nanggung, Su! Nanggung, Su!’

Meski sekarang Royal (dan Regent) sudah tidak ada, tapi nonton di sana ada baiknya jongkok dan mengenakan sendal. Kita tak tahu apakah ada kutu gatal/bangsat yang hidup di busa/rotan kursi.

Mau dandan tampan juga masih murah-meriah.
Kaos H&R (bukan G&R) dibandrol Rp 9000,00 bisa didapat di Toserba Ramayana. Mau yang bahannya lebih halus, kadang tanpa jahitan samping dan design yang oke oce ya C59 yang harganya belasan ribu rupiah. Kalau yang premium ya CF, Osella dan Hammer, harganya sampai di atas tiga puluh ribu!

Jeans Levi’s 501 masih Rp 175.000,00, kalau yang seri 505 masih Rp 95.000,00. Lea di Rp 60.000,00 dan TIRA cukup dengan mengongkosi Rp 40 ribuan saja!

Sendal Neckermann yang kesohor itu cukup dibayar Rp 25.000,00. Sepatu sandal gunung Alpina yang kalau dipakai sebulan tanpa kaos kaki baunya jadi busuk cuman Rp 15.000,00 saja!

Uang sekolahku di De Britto hanya Rp 30.000,00 dan angka itu termasuk fantastis karena banyak kawanku lain yang hanya bayar separuh dari itu bahkan gratis!

Mendekati tahun 2000 Jogja mulai berubah.
Harga-harga di atas mulai naik. Hal-hal yang bisa kucatat adalah harga langganan anggota nge-gym di Hotel Satya Graha dekat Terminal Umbulharjo hanya Rp 17.000,00 per bulan. Kafe-kafe mulai masuk di Jogja, ada Jogja Kafe, lalu kafe di Purawisata yang aku lupa namanya, disusul Jave Kafe, New Java Kafe, Bosche, Liquid, Bunker dan masih banyak lagi yang tak semuanya pernah kumasuki dan tak semuanya bisa kuingat sekarang ini.

Disusul gelombang warnet yang harga sewa perjamnya di awal-awal muahalnya setengah modyar, Rp 12.000,00 per jam tapi lantas makin turun ke harga Rp 2000,00 untuk warnet biasa dan Rp 4000,00 untuk warnet premium yang tersekat-sekat kubikal sehingga memungkinkan para eks pecinta bioskop Royal yang ‘kentang’ jadi tak tanggung lagi hahaha!

Dan masih banyak lagi hal-hal menarik yang tak tertuliskan di sini terkait harga-harga yang beredar di Jogja masa itu.

Hingga aku memutuskan pergi dari Jogja, Oktober 2008, harga-harga memang terus merambat naik, variasi hiburan, makanan dan tempat-tempat lain yang menyediakan jasa dan produk baru terus bermunculan.

Kini, tiap pulang ke Jogja (biasanya tak pernah lebih dari seminggu) aku memilih untuk makan makanan lawasan saja seperti gudeg, ayam goreng Suharti, Nasi Padang (dan biasanya kalau gak dibayari teman ya istri yang bayar dan aku gak mau ambil pusing hahaha)

Apakah Jogja masih berhati nyaman? Aku tak tahu, aku tak peduli. Peduliku hanya dua. Kawan-kawanku di Jogja sehat dan bahagia dan yang terpenting adalah Jogja pada masa 1993 – 2008, masa yang kuhabiskan di dalamnya adalah kota yang tiap sudutnya masih menawarkan sapaan bersahabat, penuh selaksa makna…

Menurut ngana?

Simak tulisan Tirto tentang ke-berhati-nyaman-an Jogja saat ini.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.