Jika Yohanes Pembaptis adalah band pembuka, Yesus itu bintang utamanya

10 Des 2017 | Kabar Baik

Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”(Markus 1:7 – 8)

Kebesaran hati Yohanes Pembaptis selalu memikat hatiku.?Kalau mau, Yohanes bisa saja menganggap diri mesias karena pengikutnya toh banyak, ia membaptis di sana-sini dan tak sedikit orang-orang mengira bahwa ialah mesias yang dijanjikan. Tapi seperti yang tertulis di atas kusalin dari catatan Markus, “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku?? Orang yang dimaksud tak lain adalah Yesus Kristus, Juruselamat dunia.

Ibarat sebuah pertunjukan musik, Yohanes Pembaptis adalah band pembuka sementara Yesus bintang utamanya.

Dulu sejak SMP hingga awal tahun 2000-an aku aktif dalam musik, punya sebuah band di Jogja. Karena rekaman musik belum semurah dan semudah sekarang, cita-cita kami dulu, seperti halnya band-band lain yang muncul waitu itu, sederhana, manggung di pentas-pentas lokal atau sekali waktu bolehlah jadi band pembuka pada pentas-pentas besar yang biasanya menampilkan band utama dari ibukota. Puji Tuhan, beberapa kali kami dipercaya sebagai band pembuka?

Jadi band pembuka itu ada enak tapi banyak juga tidak enaknya.

Enaknya tentu karena nama kita, meski kecil, muncul dalam poster dan spanduk pertunjukan. Kita juga boleh merasakan panggung besar, stadion besar. Yang terakhir, kita boleh kenalan, minta tanda tangan dan foto-foto bersama dengan band utama.

Nggak enaknya?
Meski band pembuka pertunjukan besar kita tetap dianaktirikan oleh panitia baik dari perhatian maupun fasilitas baik backstage, konsumsi, tata lampu panggung dan tata suara.?Ketika naik panggung, penonton pun biasanya belum banyak yang datang. Mereka baru datang saat bintang utama hendak tampil.?Kalau tampil bagus, yang tepuk tangan sedikit karena yang datang masih sedikit. Kalau tampilnya nggak bagus, ditinggal ngobrol atau mungkin dilempari puntung rokok meski aku tak pernah mengalami yang se-ekstrim itu.

Tapi bagi Yohanes, menjadi ?band pembuka? bagi Yesus itu adalah hal yang memang harus dituntaskan.

Sebagai manusia, barangkali Yohanes Pembaptis juga punya rasa iri dan ditinggalkan karena banyak murid yang mengikuti Yesus. Tapi kuat kuasa Roh Kudus yang diterima sejak ia ada dalam kandungan (ingat peristiwa Maria mendatangi Elizabeth, saudara sepupunya, dan bayi dalam kandungan Elizabeth melonjak karena Roh Kudus yang menaungi Maria dan kandungannya? Bayi yang ada dalam rahim Elizabeth itu adalah Yohanes Pembaptis) membuat ia tak mau berkompromi dengan perasaan, ia harus menjalankan tugas karena untuk itulah ia ada dan dilahirkan.

Sikap Yohanes yang besar hati ini kiranya menjadi semangat saat kita melakukan pelayanan terhadap orang lain. Ketika kita melayani, kita membawa kasih Allah. Ketika orang lain yang kita layani menerima dengan bahagia tapi cenderung melupakan kita, ya diterima saja karena tugas kita sudah selesai dan kita memang tak bertujuan supaya diingat apalagi dipuji.

Soal pujian, biarlah Tuhan sendiri yang memuji. Tidak sekarang tapi nanti saat kita bertemu muka dengan muka dalam kehidupan kekal di SurgaNya.

Ada amin?

Sydney, 10 Desember 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.