Salah satu perkara klasik dalam masyarakat kita pada umumnya adalah pertentangan antara bangsa china dan jawa/pribumi. Kukatakan klasik karena selain persoalannya seperti tak berujung, masalah ini telah dimulai sejak lama, sejak republik ini belum berusia. Bahkan kalau kalian baca buku “Indonesia Dalam Api dan Bara” karya Tjamboek Berdoeri yang banyak diduga adalah nama samaran wartawan tionghoa masa pra-kemerdekaan, Kwee Thiam Tjing, pergolakan antara kaum china dengan pribumi di Nusantara sudah meruncing sejak akhir abad ke-18, saat gelombang kedatangan bangsa China untuk kesekian kalinya datang ke kawasan yang sekarang menjadi Indonesia.
Jadi kalau kita ingat betapa menyesakkannya peristiwa ‘pembantaian’ (atau setidaknya perusakan hak milik) kaum China pada Reformasi Mei 1998, semua itu tidak datang begitu saja. Semua tidak seperti api yang tiba-tiba membesar. Ia hadir bagai dalam sekam, sudah ada akar sumbu sejarahnya serta tumpukan milyaran persoalan yang menerbitkan dendam.
“Padahal nmenurutku yang perlu dilakukan untuk menyudahi sejarah buruk itu hanya satu, masing-masing anggota suku bangsa harus memiliki ‘state of mind’…”
Padahal nmenurutku yang perlu dilakukan untuk menyudahi sejarah buruk itu hanya satu, masing-masing anggota suku bangsa harus memiliki ‘state of mind’ bahwa “Ya, aku adalah orang Jawa!” untuk seorang Jawa sepertiku, atau “Ya, aku keturunan Tiong Hoa!” untuk orang China lalu kubur ia dalam-dalam ke alam bawah sadar. Kenapa harus dikubur, karena sesudah proses penyadaran itu, apapun yang kita lakukan selama hidup sebagai aksi maupun reaksi, tak ada satupun yang harus disangkutpautkan dengan asal mula suku bangsa kita itu tadi.
Eh, jangan dipikir dengan menuliskan paragraf di atas aku mengajak kalian untuk melupakan kulit karena kita adalah selamanya kacang! Aku lebih berpikir bahwa kita tak bisa selalu mereferensikan/menghubungkan segala tindakan kita dan segala hal yang terjadi di sekeliling kita ke kesukuan. Itu saja.
Dari mana aku mendapatkan cara berpikir yang demikian? Dari tenggat waktu 1993 – 1996, ketika aku duduk di bangku SMA Kolese De Britto Yogyakarta lah, buah-buah itu kupetik.
Aku mengenyam pendidikan tiga tahun di sekolah yang dibimbing oleh para imam jesuit itu sejak 1993 hingga 1996 dan dalam periode itu (dan sebenarnya sudah menjadi tradisi sejak masa sebelumnya hingga sekarang) aku melihat betapa keberadaan pelajar bersuku bangsa china dan pribumi bisa membaur tanpa harus berselisih paham hanya karena perbedaan suku bangsa.
Uniknya lagi, tidak adanya perselisihan bukan berarti karena kami seolah menyembunyikan bibit persoalan dalam hati atau pura-pura tak menganggap ada. Namun justru sebaliknya, kami mengekspresikan perbedaan itu dalam aktivitas sehari-hari dalam sharing, hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kami dan bahkan dalam rupa olok-olok penuh canda dan tawa khas anak-anak De Britto..
Berikut kutuliskan salah satu contohnya.
Suatu pagi, kawanku yang bersuku Jawa datang ke kelas. Hari itu kebetulan ada mata pelajaran yang menurutnya membutuhkan perhatian dan karena ia merasa kurang mampu, ia memilih duduk bersama teman lain yang pandai dan kebetulan bersuku China.
“No, chino… aku lungguh jejer kowe yo..(Hey China, aku duduk sebelahan denganmu ya -red).
Lalu kawanku yang China pun menjawab, “Oh yo ra popo.. aku santai wae kok lungguh jejer Jowo (Oh ya nggak papa. Aku santai saja kok duduk sebelahan dengan (orang) Jawa)”
Lalu mereka tertawa bersama.
Sesaat kemudian, ketika beberapa kawan lain datang melihat keadaan itu, diolok-oloklah mereka sejadi-jadinya.
“Woh, cino lan bature akur nganti lungguh jejer ik! (Wah, Cina dan pembantunya akur benar. Sampai mau duduk sebelahan!)”
Kalau ini terjadi di tempat lain, barangkali hal tersebut bisa memantik isu yang lebih besar dan kalau mau terus ‘dikipasi’ bisa-bisa perang antar suku yang membelah adalah ujung yang tak mengenakkan.
Tapi di De Britto, hal itu adalah peristiwa harian yang justru menampakkan keakraban yang luar biasa antar warganya baik guru, siswa maupun karyawan sekolah.
Kuyakin di antara kalian akan banyak berkomentar, “Keras betul cara bercandanya!”
Tak salah, tapi kami menganggapnya bukan satu persoalan yang perlu dibawa ke tingkat serius, ia tetap harus ditempatkan dalam tingkat candaan, itu saja.
Bukan, bukan karena kami meremehkan perbedaan suku bangsa dan leluhur-leluhur suku yang pernah ada, namun kupikir, menurutku, justru karena memang bukankah sudah jadi takdir untuk kita hidup secara berbeda-beda satu dengan yang lain? “Udah dari sononya!” kata anak Betawi masa kini, jadi untuk apa dipermasalahkan? Masih banyak persoalan-persoalan yang perlu diselesaikan ketimbang harus adu tegang hanya karena mataku lebar dan matanya sipit, karena kulitku legam dan kulitnya langsat?
Dalam ‘bahasa’ yang kutulis di bagian awal tulisan ini, kami di De Britto, melalui keseharian bersama, dididik untuk menempatkan perbedaan suku bangsa sebagai ‘state of mind’, bukan sebagai sesuatu yang layak untuk selalu dipermasalahkan. Bahwa pada akhirnya kalau ada pelajar china yang tak naik kelas ya memang karena ia bodoh dan malas belajar. Demikian juga ketika ada pelajar Jawa yang giat belajar, tak mau dianggap malas, pintar, gagah serta tampan… ya keberadaannya bukan karena ke-jawa-annya, tapi memang pada diri pribadinya :)
* ? ? * ? ? *
Namun yang menjadi persoalan sesudahnya adalah apa yang terjadi setelah lulus dari De Britto?
Aku ingat dulu waktu awal-awal kuliah, pada suatu siang aku sempat jadi ajang pelototan nyaris satu gedung kampus yang rata-rata China gara-gara aku teriak “Chino… piye kabarmu?” memanggil kawan sesama lulusan De Britto yang sama-sama kuliah di situ.
Proses adaptasi untuk kembali terbiasa dengan peradaban rimba setelah tiga tahun berada di nirwana memang tak mudah. Tak semua orang itu lulusan De Britto, dan tak semua memiliki standar bercanda yang sama tingginya. Tapi di situ, alumni De Britto justru ditantang untuk mempraktekkan sejauh mana nilai-nilai baik yang diajarkan dalam rangka kesetaraan suku bangsa meresap dalam diri dan tak hanya tinggal sebagai ‘canda’ saja.
Untunglah proses adaptasi bagiku dulu tak memakan waktu lama. Ketika mulut sudah lebih terkontrol dalam bercanda, yang tetap terpatri justru pola pikir tentang kesamarataan itu tadi bahwa China itu ya sama saja dengan Jawa dan sebaliknya, semua tergantung adat dan budaya masing-masing individu.
Jadi, kembali ke peristiwa Reformasi Mei 1998, ketika kejadian meletus, aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa mereka yang membantai kaum China atas nama dendam, dengki dan iri karena status ekonomi adalah orang bodoh yang tak mau beranjak dari pemikiran-pemikiran stereotipe lawas yang sudah berabad-abad tuanya.
Barangkali kalau hidup boleh diputar ulang, aku akan menyarankan orang tua mereka untuk menyekolahkan anaknya di De Britto. Mereka wajib di-De Britto-kan demi sebuah pola pikir yang baru tentang bagaimana cara menghadapi perbedaan suku bangsa!
Oh ya, mau tahu seperti apa gambaran jelas tentang Cina-Jawa di De Britto?
Simak video di bawah ini dan cermati betul-betul pada setiap kata yang muncul dari siswa, resapkan dan kalau berkenan, imbuhkanlah tulisan ini dengan komentar kalian.
http://www.youtube.com/watch?v=4VKrElMOQc4
Tulisan ini kubuat dalam rangka permenunganku atas ulang tahun almamater tercinta, SMA Kolese De Britto Yogyakarta yang ke-63 pada Jumat, 19 Agustus 2011 silam. Selamat ulang tahun, JB! Proud to be one of your soldier!
Tinggalkan Balasan