Jangan-jangan mereka tak pernah merasakan kasih Tuhan yang sesungguhnya?

20 Sep 2017 | Kabar Baik

Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis.
(Lukas 7:32)

Dalam penggerebekan dan pembubaran paksa sebuah acara seni yang konon dilakukan oleh oknum ormas beberapa hari lalu, melalui Twitter aku membaca satu pesan menarik dari seorang yang hadir dalam acara tersebut. Kira-kira begini katanya, “Mereka menyerukan nama Tuhan tapi sesudahnya melempari batu.”

Kukatakan menarik karena aku melihat sesuatu yang kontras: Tuhan dan batu, menyerukan (namaNya) dan melempari (menggunakan batu).

Tuhan adalah kasih, tak ada kasih yang melukai. Sehingga jika mereka menyerukan nama Tuhan, seharusnya kasih dan cinta yang hangatlah yang dijadikan bahan lemparan.

Hal ini mengingatkanku pada apa yang dikatakan Yesus hari ini. Kekontrasan yang terjadi di atas seiring dengan analogi yang Yesus sampaikan tentang bangsa Israel; mereka tak menari ketika seruling ditiupkan dan tak menangis ketika kidung duka dinyanyikan. Mereka tidak menanggapi kasih Allah dengan hal yang seharusnya dilakukan.

Menanggapi adalah hal yang paling inti. Ajakan kasih Allah itu perlu tanggapan yang selaras dan tidak kontras.

Kita gagal menanggapi kasihNya jangan-jangan karena kita kurang mendapatkan pengalaman kasih Allah itu sendiri. Kebetulan aku sedang membaca buku berjudul How Big is Your God karya Fr. Paul Coutinho, SJ yang salah satu bagiannya menjelaskan tentang Tuhan (God) sebagai sebuah pengalaman yang dirasakan (experience).

Seperti halnya ketika kita mencecap gula, rasa manis kita rasakan, lalu ketika kita sedang ‘mengecap’ Tuhan, kenapa kita jadi binal dan liar? Aku percaya bukan agama apalagi Tuhannya yang salah, tapi sekali lagi, kita atau mereka yang belum mendapatkan pengalaman yang penuh untuk mengenalNya.

Jadi ketika yang terjadi setelah menyerukan nama Tuhan mereka malah melempari batu, pengalaman mereka untuk dikasihi Tuhan bisa dipastikan amat minim bukan karena Tuhannya yang pilih kasih tapi barangkali mereka yang menutup diri.

Ketika ada yang mengaku taat beragama tapi tak peduli pada yang lebih lemah dan perlu perlindungan, barangkali mereka hanya berlomba-lomba taat pada agama tapi lupa siapa yang jadi sumber dari segalanya…

Ketika ada yang mengaku rajin berdoa, menulis renungan harian di blog setiap hari tanpa putus tapi masih belum bisa memaafkan beberapa orang yang pernah bersalah di masa lalunya, ya… itu bukan salah Tuhan, bukan agama dan bukan pula renungan-renungannya… doakan saya!

Sydney, 20 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.