Jangan-jangan kita ini adalah kaum bumi datar yang sebenarnya?

5 Nov 2017 | Kabar Baik

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
(Mat?23:2 – 3)

Menarik sekali Kabar Baik hari ini. Kaum Farisi dan para ahli Taurat yang kerap dijadikan contoh buruk, pun dianjurkan untuk didengarkan! Menurut Yesus, apa yang diajarkan mereka adalah kebenaran. Ia hanya meminta untuk tidak mengikuti perbuatan mereka karena aturan-aturan yang diajarkan itu tak mereka praktekkan dalam hidup sehari-hari.

Jaman ini, terutama tahun-tahun terakhir, seolah pandangan dalam beberapa hal terbelah menjadi dua kutub antara kita yang kerap mengaku diri rasional, berkemanusiaan dan memandang baik perbedaan dengan mereka yang kerap kita anggap sebagai ?kaum bumi datar?, tak masuk akal, tak berkemanusiaan serta berpola pikir radikal yang memecah-belah.

Payahnya, mereka tak jarang menggunakan topeng religi dan berlindung di balik pakaian-pakaian serta tata-aturan keagamaan dan moral.

Nah, membayangkan bahwa mereka, kaum bumi datar itu adalah para Farisi dan ahli Taurat, Yesus pun meminta kita untuk tidak jatuh dalam cara pandang monoton yang menyesatkan dan menghakimi bahwa seolah ?kaum bumi datar? itu tak memiliki sifat baik. Kita diminta untuk menggunakan hati nurani yang jujur serta adil untuk bisa memandang semua ini dalam perspektif yang wajar dan tak memihak mentang-mentang pandangan kita berbeda dari mereka.

Bukannya kebetulan, aku menjalin perkawanan baik dengan seorang pejabat yang sering dikait-kaitkan dengan ?kaum bumi datar? itu. Aku tentu tak bisa menyebutkan nama pejabat itu tapi ia kerap muncul dalam pemberitaan dan siaran berita terkait ?kaum bumi datar? dan gerakannya.

Kami benar-benar berkawan baik. Tak jarang kami saling mengirim salam untuk keluarga kami, menceritakan kegiatan anak-anak dan pasangan kami masing-masing melalui messenger. Ketika kami berbincang seolah tak ada perbedaan pendapat antara kami.

Aku mensyukuri perkawanan itu meski teman-teman dekat yang kuceritakan tentang perkawananku dengan pejabat itu keheranan. ?Kok kamu bisa sih berteman ama dia?? Bagiku itu adalah cara Tuhan untuk membuatku belajar bagaimana mencari sisi dan nilai baik dari seorang yang terelasi dengan hal yang selama ini kuanggap buruk dan sejauh ini, Puji Tuhan, aku menemukan dari sisi kawanku tadi.

Marilah kita memohon kepada Allah supaya kitapun bisa menemukan sisi baik dari orang yang kita anggap buruk dan sebaliknya, peka dan waspada terhadap hal-hal buruk terhadap seseorang yang sudah kita anggap terlalu baik sekalipun.

Jangan sampai kita yang selama ini menganggap lebih baik ternyata sebenarnya kita adalah ?kaum bumi datar? yang cenderung jatuh dalam penghakiman dan cara pandang monoton yang menyesatkan?

Sydney, 5 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.