Jangan bilang-bilang

3 Okt 2013 | Cetusan

Mari berandai-andai. Kalau aku diminta jadi tenaga recruiter agen rahasia negara, kriteria pertama yang akan kutanyakan ke setiap yang kuinterview adalah, ?Bagaimana caramu menyampaikan rahasia ke kawanmu??

Kalau dia memakai frase ?JANGAN BILANG-BIILANG? dalam memberi jawab kepadaku, sudah kupastikan ia akan kucoret dari daftar mereka yang berhak lolos ke tahap selanjutnya.

Maksudku gini, sering kan kita bertemu orang yang dengan mata penuh selidik ke arah kita, bilang, ?Aku punya kabar tentang si itu, tapi duh gimana ya? (jidatnya mengernyit, matanya sebentar-sebentar menoleh kanan kiri meyakinkan tak ada satupun yang mendengar dan melihat)… hmm aku mau sih cerita ke kamu tapi kamu mesti janji dulu JANGAN BILANG-BILANG orang lain ya!??

Lalu kita, sebagai orang yang haus gosip, ditawari omongan begitu, bagai kerbau tercucuk hidungnya bilang, ?I.. iya.. ii..iya.. janji! Suwerr ga akan omong-omong!? lengkap dengan membuat tanda dua jari terbuka mirip ababil berfoto selfie.

Dan rahasia pun terutarakan.
Setelah ia puas berbagi rahasia dan kita masih mencerna kenikmatan mendengar issue baru tersebut, dengan mata masih penuh selidik, ia kembali menghardik, ?Kamu satu-satunya orang yang tahu soal rahasia ini lho!?

?Iii.. iya.. aku nggak akan omong-omong. Suwerr!? lagi-lagi dengan tanda dua jari dikemukakan!

Orang berpikir, dengan mengimbuhi frase, ?JANGAN BILANG-BILANG? ketika hendak menyampaikan rahasia, maka hal itu akan aman karena yang diberitahu rahasia akan merasa terintimidasi untuk tidak membagikan hal itu kepada orang lain.

Padahal bisa jadi ia juga berucap berulang kali demikian ke orang yang lain lagi yang ia beritahu rahasia yang pada akhirnya tak jadi rahasia lagi.

Kita sendiri kadang juga kurang ajar. Meng-copy tindakan si pemberi kabar, menularkan rahasia itu dengan cara yang sama, persis dengan ia yang memberi tahu kita sebelumnya.

Nah, kalau sudah demikian, lantas dimanakah letak esensi rahasia itu dan kepercayaan seseorang untuk memberitahu rahasia ke kita dengan harapan tak akan disebarluaskan?

Makanya tak heran kalau ada banyak sekali cerita kebocoran dokumen rahasia negara yang sering diberi label ?info dari intelejen?.

Jangan membayangkan seorang hacker cerdas bekerja di belakang laptop terhubung alat sadap di istana negara tentang bagaimana info intelejen bocor, tapi bayangkan dari hal yang paling simple tapi justru yang paling mungkin terjadi, seorang agen rahasia ngobrol di suatu pagi dengan kawan minum kopinya sambil melakukan apa yang kutuliskan di atas, ?Aku punya rahasia, A1 sifatnya dan aku ingin kasih tahu ke kamu.. tapi kamu JANGAN BILANG-BILANG ya!?

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Saya membayangkan ada 4 orang si A,B,C,D. Si A menceritakn sebuah rahasia kepada si B, lalu si B meneruskan kepada di C dgn gaya yang sama seperti di A, begitu pula di C meneruskan kepada si D. Lalu suatu ketika keempatnya bertemu dan saling mengira bahwa hanya ada dua orang tahu rahasia tersebut.

    Kejadian seperti ini sering terjadi di masyarakat yang disebut dengan rahasia umum. Sesuatu yang sudah diketahui umum tapi sifatnya rahasia dalam arti tidak dibicarakan di depan umum.

    Balas
  2. Jangan bilang siapa-siapa kalau saya meninggalkan komentar disini ya !!!

    Balas
  3. jokondokondolhondes

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.