Janda miskin yang kaya-raya

9 Jun 2018 | Kabar Baik

Apa yang ditulis Markus hari ini begitu sering kita dengar. Di antara semua orang yang memberikan uang ke kotak persembahan, ada seorang janda miskin yang memberi seluruh nafkahnya yang hanya dua peser alias satu duit. Lalu Yesus berkata, ??sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.? (Markus 12:43).

Secara matematis, uang dua peser tentu lebih kecil dari uang yang diberikan orang-orang lain di situ. Tapi Yesus tak melihat besarnya uang yang diberi. Yesus juga tak sedang meminta kita untuk meniru apa yang dilakukan janda miskin itu karena Ia pasti tahu tanggung jawab kita pada keluarga. Apa yang hendak disampaikanNya menurutku ada tiga.

Pertama, kritik.
Yesus sedang mengkritik pola orang memberi persembahan kala itu. Di mata umum, besar-kecil persembahan dinilai dari besar-kecil uang yang diberi. Mereka yang mampu memberikan uang dalam jumlah besar dianggap berada di strata sosial yang lebih tinggi di mata orang dan Tuhan.

Kedua, keikhlasan.
Memberi dari kekurangan bukan kelebihan seperti yang ditulis dalam Markus 12:44 itu membutuhkan keikhlasan. Rasa ikhlas adalah modal sekaligus kekuatan. Janda miskin tadi buktinya. Ia lemah, ia kekurangan tapi karena punya rasa ikhlas, harta satu-satunya pun dilepaskan.

Ketiga, miskin-kaya
Simbol janda miskin yang hadir dalam tulisan Markus ini adalah cara Yesus menjungkirbalikkan ukuran kaya-miskin duniawi. Orang yang berumah banyak, bermobil mewah, pakaian kinclong dan perhiasan kiloan beratnya adalah tanda seorang bisa disebut kaya. Tapi bagi Tuhan tidak demikian!

Janda miskin yang memberikan seluruh nafkahnya pada persembahan Tuhan adalah sosok yang dianggap kaya olehNya. Sebaliknya mereka yang memberi dari kelebihannya belum tentu sekaya janda tadi. Perhitungannya ada pada rasa ikhlas.

Seseorang bisa ikhlas karena ia menerima begitu banyak cinta dari sesama dan dari Tuhan yang ia imani. Nah, kalau demikian bukanlah jelas perhitungannya? Adakah harta duniawi yang harganya lebih tinggi ketimbang sepenuh cinta?

Sydney, 9 Juni 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.