Jamahan Tuhan dan tantangan kita untuk bersaksi atasNya

19 Feb 2020 | Kabar Baik

Seorang buta yang ingin mendapat jamahan supaya sembuh mendapat jawaban tunai dari Yesus: ia bisa melihat! Yang menarik, Yesus tidak melakukannya di depan orang banyak. Ketika itu Ia dan murid-murid sampai di Betsaida. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawanya ke luar kampung. Yang kubayangkan saat itu hanya ada Yesus dan Si Buta lalu Ia pun menyembuhkan. Ketika sudah bisa melihat, Yesus melarangnya untuk masuk kembali ke kampung. Ia justru disuruh pulang ke rumah.?

Kenapa Yesus tidak melakukannya di depan orang-orang?

Kenapa Yesus tidak melakukan di depan orang banyak? Kenapa Si Buta dilarang masuk kampung lagi? Menurut perkiraanku adalah karena Ia tak ingin orang-orang jadi ramai karena mukjizat tersebut. Keramaian itu bisa memancing perhatian orang-orang Farisi dan ahli Taurat padahal tugas pelayananNya untuk menyebarkan Injil ke kota-kota dan desa-desa lain belum tuntas.

Jamahan Tuhan entah dalam kesembuhan, berkat rejeki dan yang lain-lain itu sifatnya pribadi. Tapi yang jadi pertanyaan sekarang, kalau jamahan itu sifatnya pribadi dan si buta dilarang masuk ke kampung lagi, adakah itu berarti Yesus melarangnya untuk mengabarkan Kabar Baik tersebut? Bukankah jika si buta yang sudah bisa melihat tadi mengumumkan kesembuhannya atas mukjizat yang dilakukan, itu akan membuat orang percaya kepadaNya?

Jamahan Tuhan dan kesaksian kita dalam wujud tingkah dan perbuatan

Aku melihatnya tidak demikian. Yesus menghendakinya untuk bersaksi tapi lebih dari sekadar kata-kata belaka ia harus berupa perbuatan baik dalam hidup sehari-hari.

Setiap kali aku datang ke acara-acara rohani, utamanya persekutuan doa, hal yang paling menyenangkan adalah mendengarkan kesaksian iman dari umat yang hadir. Meski tak semuanya, tapi kadang kesaksian itu amat menguatkan iman. Misalnya tentang orang yang sembuh dari sakit punggung dan lutut bertahun-tahun. Ia percaya disembuhkan karena jamahan Allah. Atau orang yang berjuang melawan hipertensinya, ia merasa disembuhkan Tuhan karena setelah berdoa khusuk, dokter memperbolehkannya untuk tidak perlu mengkonsumsi obat penurun tekanan darah lagi. Orang jadi punya harapan akan kesembuhan dan itu adalah hal yang baik.

Tapi dalam konteks Kabar Baik hari ini, kesaksian tak berhenti di situ. Seperti kutulis di atas, Yesus mengajak orang yang dijamah untuk memberi kesaksian melalui perilaku hidup kita sehari-hari di masyarakat.

Apa yang bisa dilakukan ketika kita sudah sembuh? Adakah hal itu lebih baik dari saat kita belum sembuh? Apa yang bisa diubah dari hidup seseorang yang mengaku dijamah Tuhan dari sakit punggung dan lututnya? Adakah supaya ia bisa lebih leluasa jalan-jalan berwisata saja? Adakah supaya ia tak mengeluh sakit punggung dan jadi kurang tidur  setiap malam saja? Atau adakah ia berpikir bahwa dengan sembuh dari sakit punggung dan lutut, ia bisa bekerja lebih giat, menemani istri dan anak-anaknya lebih nyaman dan jadi lebih aktif dalam pelayanan iman di lingkungannya?

Sembuh-tidak sembuh tetap memuliakanNya

Kesembuhan adalah hal yang tak bisa diragukan lagi datang dari Tuhan tapi apa yang bisa kita lakukan dari kesembuhan itu tak lain adalah untuk memuliakan namaNya. Jika dengan sembuh kita malah menjauh dariNya, lantas dengan cara apa kita bersyukur dan berterima kasih atas kesembuhan itu?

Di titik ini, aku mengajak kalian untuk berpikir sebaliknya, bahwa kesembuhan dalam artian bisa kembali hidup baik tanpa rasa sakit itu bukan segalanya! Seseorang yang diberi kesembuhan adalah seseorang yang diharapkan bisa melakukan lebih banyak kebaikan dalam hidup. Tapi bagi mereka yang belum diberi kesembuhan, hal ini menguatkan bahwa bagaimana usaha untuk tetap memuliakanNya melalui kebaikan-kebaikan yang kita perbuat tetap bisa dilakukan dan Tuhan memandangnya sebagai hal-hal yang baik. 

Tuhan Allah, semoga tak sesuatu pun menjauhkan aku dari cinta-Mu,
baik itu kesehatan maupun penyakit?
(St. Ignasius, Asas dan Dasar dalam Latihan Rohani)

Sydney, 19 Februari 2020

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. Mas Donny Verdian, mohon dukungan doa untuk saya sudah 5 tahun sakit stroke dan insomnia. Melchior Suroso. Seorang guru yang telah pensiun dini pada tahun 2015. Usia saya sekarang 60 tahun.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.