Jam berapa kalian bangun pagii?
Bukannya bangun trus ngeliat jam lalu matiin weker dan tidur lagi lho, tapi bangun yang benar-benar bangun.. maksudku, bangun, bergegas untuk beraktivitas yang lain!
Mari kembali ke masa lalu untuk mengulas hal ini.?Bangun pagi bagiku selalu menjadi masalah, utamanya ketika ada di periode wajib belajar 9 tahun sejak SD hingga SMA!
Bayangkan! Kita harus bangun pagi-pagi benar lalu mandi dan bersekolah, setiap hari!
Untung ada Mama!
Dulu, aku selalu dibangunkan olehnya.
“Tangi, Le (Bangun, Nak! -jw)!” begitu teriaknya di telingaku sementara waktu baru menunjuk pukul enam kurang sepuluh. Aku hanya bergerak sedikit, lalu melanjutkan tidur.
“Le, tangii!!!” suaranya lebih keras, kali ini dengan menggoyang-goyangkan badanku.
“Argghhh!” itu reaksiku, lalu tidur lagi.
Dan memang kebanyakan hari-hari dimasa itu dimulai dengan kekagetan-kekagetan yang sebenarnya tidak mengenakkan.
Jurus terakhir diambilnya.
Dengan membasahi handuk, ia melapkan handuk itu ke wajahku dan membasahi kakiku. Tanpa teriak “Tangi, Le!” lagi, aku sontak lantas duduk terkaget-kaget.
Dan memang kebanyakan hari-hari dimasa itu dimulai dengan kekagetan-kekagetan yang sebenarnya tidak mengenakkan.
Masuk SMA, bangun pagi menjadi masalah terbesarku!?Aku pindah ke Jogja (sebelumnya aku tinggal di Kebumen -red) dan tentu saja tak bersama Mama! Belajar mandiri adalah pilihanku meski untuk itu Mama tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, “Kalau kamu di Jogja, yang bangunin kamu sapa nantinya?!”
Mungkin karena alasan itu aku lantas dimasukkan ke asrama dengan aturan super ketat. Tapi nyatanya di asrama toh sama saja. Weker sudah punya, yang paling keras deringnya! Tapi tetap tak mempan!
Pak penjaga asrama adalah weker kedua, tapi sayangnya ia adalah ‘weker’ khas Jogja! Dengan gemulai ia hanya mengetuk lembut pintu kamarku, “Donny, bangun.. sekolah!” Lalu lewat! Ya mudah saja kubilang, “Iya, Pak! Makasih!” lalu tidur lagi hehehe…
Pak penjaga asrama adalah weker kedua, tapi sayangnya ia adalah ‘weker’ khas Jogja!
Bangun-bangun biasanya jam 7 kurang 15 dengan lagi-lagi terkaget-kaget, ambil gayung sikat gigi dan cuci muka, kembali ke kamar, ganti baju lalu langsung sekolah tanpa sempat mandi! Atau kalau lagi sial (dan ini sering banget) tau-tau bangun jam 8 atau malah setengah sembilan! Wah kalau sudah demikian nggak bisa nggak, pilihannya hanya dua: langsung ganti baju tanpa sempat ngapa-ngapain dan lari ke sekolah untuk siap menerima hukuman apapun itu dari dewan guru, atauuuu pura-pura sakit dan minta surat ijin pada Pak Asrama, sesuatu yang pada akhirnya ketahuan sebagai boong-boongan saja!
Tapi pernah terjadi satu masa ‘anomali’!
Menjelang lulus SMA, aku tiba-tiba mendapatkan ‘hidayah’, jadi rajin bangun pagi! Tak tanggung-tanggung, jam lima pagi sudah melek! Gila, kan? Alasannya? Ke gereja, pergi ke misa harian! WHATTT!!!!??!!!! Misa harian??!!!??
Telisik punya telisik, kawan-kawan se-asramaku mencurigai ‘niat baik’ku itu sebagai sesuatu bagaikan ‘ada udang di balik batu’
Dan memang benar! Jadi waktu itu ceritanya aku punya pacar, pacar pertama pula. Nah, karena kami sama-sama tinggal di asrama, waktu untuk berjumpa selain akhir pekan itu hampir mustahil untuk diadakan kecuali ya ke gereja bersama saban pagi! Hihihihi…
Bosen ketemuan tiap pagi dengan pacar, tradisi tidur molor dilanjutkan saat kuliah!?Ah, inilah masa yang menyenangkan!
Jam kuliah kupilih yang paling siang, alasannya supaya bisa bangun lebih siang. Tapi apakah hal itu berarti aku tak telat kuliah? Nggak juga! Tetap saja aku telat meski kuliah jam 12 sekalipun! Kenapa? Karena tubuh dibisiki oleh otak untuk santai dan rileks melanjutkan tidur karena toh kuliah jam 12 siang. Bangun-bangun di kost jam 11 siang dengan lagi-lagi terkaget-kaget lalu bergegas cepat-cepat, mikir dan memutuskan mandi atau tidak adalah tergantung kuliah siapa hari ini dan bertemu dengan berapa banyak cewek cantik di kampus dan sebagainya…
Masa 2000 – 2008 adalah masa yang tak kalah menyenangkan pula!
Kerja di perusahaan yang dikelola sendiri, aku bebas menentukan jam berapa aku bangun lalu ngantor dan pulang meski seluruh pegawai akan tetap menaruh pisau ancaman kepadaku bahwa sebebas-bebasnya aku tidur dan kerja, selama aku mampu menggaji mereka tak mengapa :)
Jadilah kalau ada relasi bisnis menelpon kantor di bawah jam 1 siang, resepsionis nan tangkas menjawab , “Pak Donny sedang rapat, Bu!” atau, “Pak Donny sepertinya sedang tugas keluar, Pak!” padahal akunya mendengkur di atas kasur. Eh pernah juga, kupikir ini cerita menarik, suatu waktu (alm) Papa datang ke kantor hendak bertemu denganku setelah beliau berkunjung ke kost-nya Chitra. Tapi karena dipikirnya aku sedang rapat, ia pun kembali pulang ke Klaten sembari mengirim sms, “Le, mau aku mampir pengen dolan tapi kowe rapat jarene resepsionismu! (Nak, aku tadi mampir ke kantor ingin main tapi kamu sedang rapat kata resepsionis – jw)” Ah, padahal kalian tau sendiri aku sedang molor…
Setelah pindah ke Australia, sejak rencana untuk memutuskan pindah, aku memang telah berpikir untuk menghilangkan hal-hal yang tak terlalu baik seperti bangun siang, misalnya!
Jadilah aku dalam waktu tak terlalu lama setelah pindah kemari, kalau biasanya aku mulai tidur jam 6 pagi, kini yang terjadi sebaliknya, jam 6 pagi pula kini aku telah bangun dan bersiap memulai hari.
Menyiapkan dan memberi susu pada anakku, Odilia. Buang air besar, cuci muka dan cuci botol susu lantas memberi makan Simba, anjing peliharaanku, mengecek keadaan rumah sebelum akhirnya berangkat bekerja!
A-ha! Dunia yang berbalik atau aku yang membaik??Entahlah tapi yang pasti aku melakukannya dengan penuh kesadaran dan hal ini menyenangkan!
Menyenangkan? Bukannya menyedihkan karena waktu tidur banyak terpangkas??Yup, menyenangkan! Kenapa, karena aku tahu bahwa kepedihan-kepedihan karena tak bisa punya waktu tidur yang terlalu panjang adalah pengorbanan untuk hal-hal yang lebih berharga daripada kesenangan-kesenangan yang pernah kualami. Apakah itu? Keluargaku!
So, kalian sendiri memulai hari jam berapa?

Tinggalkan Balasan