Jadi masalah atau solusi permasalahan?

11 Jul 2018 | Kabar Baik

Pernah dengar pepatah, ?Mau jadi bagian dari masalah atau solusi permasalahan??

Aku sangat suka dengan pepatah itu dan kiranya selaras dengan apa yang dikatakan Yesus hari ini. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit,? begitu kataNya (lih. Mat 9:37). Tuaian adalah cerminan dari masalah;? pekerja tuaian atau penuai adalah cerminan dari sosok yang membawa solusi permasalahan.

Uniknya kita tak bisa sepenuhnya jadi pembawa solusi. Sisi manusia kita menunjukkan sekuat-kuatnya sosok kadang juga tak lepas dari lemah dan berkubang masalah.

Pak RT di kampungku dulu adalah contohnya. Ia orang yang bijak. Banyak disukai warga karena kepedulian dan pengalamannya. Tapi suatu waktu, Pak RT mundur dari jabatan setelah satu periode berlalu padahal banyak orang menginginkan untuk diperpanjang sekali lagi masa jabatannya. Alasannya? Ia harus fokus pada pemulihan keadaan ekonomi keluarganya. Pak RT itu adalah almarhum ayahku sendiri :)

Demikian juga sebaliknya, meski kita berkubang masalah, jangan salah karena kadang kitapun diberi amanat untuk membawa solusi bagi sesama!

Tetanggaku seorang pemabuk. Setiap malam selalu nongkrong mabuk-mabukan bersama kawan di bawah tiang listrik perempatan jalan. Tapi pada suatu malam, saat belum terlalu mabuk, ia melihat ada seorang perempuan lewat di depannya dijambret oleh pesepeda motor.

Dengan sigap ia lari mengejar jambret itu dan menundukkannya. Si perempuan tadi berterima kasih atas bantuannya itu. Aku tak tahu apakah sesudah menjadi solusi permasalahan ia lantas kembali ke bawah tiang listrik dan meneruskan minum-minum atau tidak.

Berkaca pada diri sendiri dan kembali pada pertanyaan di atas, dalam kategori manakah kita berada?

Yang paling buruk barangkali ketika kita menjadi masalah dan tak pernah sadar bahwa diri ini juga berpotensi jadi pembawa solusi permasalahan.

Yang lebih baik dari yang terburuk adalah menjadi masalah namun sadar bahwa dirinya pun bisa jadi solusi persoalan. Meski demikian, ia tapi tak mau lepas dari kubangan persoalannya sendiri. Semacam hidup dengan dua kaki berada di tempat yang berbeda.

Yang sejajar dengan itu barangkali adalah menjadi pembawa solusi permasalahan tapi angkuh dan tak mau menyadari bahwa suatu waktu ia bisa juga jatuh dalam kubangan persoalan.

Dan yang terbaik adalah menjadi solusi permasalahan yang tetap sadar bahwa sisi lemah yang ada dalam diri terkadang membawa kita ke dalam lingkaran permasalahan yang tak terhindarkan.

Kuncinya adalah kerendahan hati.

Kamu kok nggak bosen bicara tentang kerendahan hati sih, Don?

Yup! Karena aku masih jauh dari rendah hati makanya aku tak kan pernah berhenti menuliskan tentang ini :)

Sydney, 11 Juli 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.