Iting (3 – Habis)

5 Jun 2018 | Iting

Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

Meski berkarakter keras, Eyang Iting lunak ketika bicara soal kebebasan beragama. Ia memberikan hak bebas itu pada anak dan cucu-cucunya karena ia yakin Tuhan bisa disembah dan dimuliakan melalui berbagai cara.

Eyang Iting besar dalam kultur Nahdatul Ulama. Ibunya, Eyang Buyut Hj. R. Soekirno adalah seorang hajjah. Namun demikian, ketika alm. Papa menikahi almh. Mama, Eyang tak memaksa Mama yang Katolik sejak lahir itu untuk berpindah agama. Demikian pula ketika Papa dengan kesadarannya sendiri memilih untuk memeluk katolik, empat bulan sebelum ia meninggal dunia secara mendadak, 2011 silam, Eyang tak melarang. Ia memperbolehkan.

September 1988

Sejak Chitra lahir, 1985, Eyang iting hampir setiap tahun datang berkunjung ke Kebumen. Maklum, Chitra adalah cucu perempuan satu-satunya.

Dari sekian banyak kunjungan, hal yang begitu istimewa terjadi saat aku menerima sakramen komuni untuk pertama kali, September 1988. Waktu itu Eyang secara khusus menyempatkan diri datang ke Kebumen meski ia muslim, meski ia tak tahu apa makna dari penerimaan sakramen itu bagi seorang pemeluk Katolik sepertiku.

Sepulang Gereja, aku dan Chitra berfoto dengan Eyang seperti tampak di bawah. Foto dan kejadian tersebut pernah kutulis dalam tulisan berjudul Solusi Mujarab Perekat Persatuan Bangsa yang pada 2009 kuikutsertakan dalam lomba blog nasional dan mendapatkan penghargaan.

Awal 1990an

Pada salah satu libur Lebaran di awal dekade itu, saat berkunjung ke Blitar, Eyang bertanya kepadaku, ?Le, kamu udah ada pacar??

Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, masih kecil, tapi iklim keterbukaan untuk membicarakan hal-hal ?dewasa? seperti pacaran memang sudah mengemuka di keluarga.

?Belum, Eyang. Tapi aku memang lagi dekat dengan seorang teman??

Ia tersenyum. ?Muslim??

Aku mengangguk.
Ia tak komentar sama sekali meski salah satu saudaraku yang tak enak kusebutkan di sini menyeletuk, ?Dijadikan (pacar) , Dik Donny. Nanti siapa tahu kamu nikah dengan dia??

Aku tersenyum dan Eyang yang duduk tak jauh dariku juga tersenyum, matanya jauh menerawang. Aku tak hendak menangkap terawangan matanya meski aku sepertinya tahu apa yang ada di dalam pikirannya…

18 Oktober 2008

Akhirnya aku menikahi seorang Katolik, Joyce Taufan.

Pagi itu, kami menerima sakramen pernikahan di Gereja St. Stefanus Cilandak, Jakarta Selatan. Keluarga ?Blitar? datang dan mereka awalnya duduk di bangku paling belakang di dalam Gereja.

Sadar akan hal itu, aku yang sudah menyiapkan diri di depan untuk mengikuti jalannya perayaan, datang menghampiri Eyang di kursi belakang, mempersilakannya duduk di depan bersebelahan dengan Eyang Pranyoto (Ibu dari Mama) yang memang Katolik.

Melihat mereka bersanding adalah sebuah pemandangan unik yang menyejukkan.

Desember 2010

Setelah tiga puluh empat tahun menikah, Papa akhirnya pindah memeluk agama Katolik, seagama dengan Mama, Chitra dan aku tentu saja.

Waktu itu, ?PR? terbesarnya yang dielaborasikan kepadaku dan yang lain adalah, ?Bagaimana cara termudah mengabari Eyang Iting dan para budhe tentang hal ini??

Tapi Papa begitu percaya diri. ?Harusnya mereka nggak ada masalah?? Dan apa yang dikatakan itu adalah benar. Ketika Papa menyuarakan pendapat itu ke Eyang, ia memberi restu.

Ketika almh. Budhe Him diberitahu tentang hal itu, secara khusus Budhe menelpon Mama dan berpesan, ?Titip adikku ya, Dik Tyas! Tolong bimbing dia untuk beriman di Katolik?? Dua minggu sesudah itu, Budhe Him meninggal dunia.

Empat bulan sesudahnya, 7 April 2011, Papa meninggal dunia terkena serangan stroke mendadak. Papa dimakamkan secara Katolik dan saat Eyang iting datang, secara khusuk ia ikut mempersilakan Mama, aku dan Chitra untuk mengadakan perayaan ekaristi pelepasan jenasah sesuai yang kami dan Papa imani.

Sementara itu di Blitar, Eyang Iting tetap mengadakan tahlilan untuk arwah Papa. Yang kubayangkan saat itu, betapa Papa berbahagia mendapatkan penghormatan dari dua sisi keyakinan yang berbeda tapi satu di dalam Tuhan.

Rabu, 23 Mei 2018

Sesaat setelah Eyang meninggal, dukaku luruh tiada terkira. Meski ada rasa lega karena sakitnya berakhir tapi rasa kehilangan tak semudah itu untuk diterima begitu saja.

Turun dari kereta melalui rute jalan kaki seperti biasa menuju rumah, di depan Gereja sebuah doa kupanjatkan,

?Tuhan,
Terimakasih atas perjumpaan hidup yang Engkau berikan kepadaku dengan Eyang Iting. Tugasnya telah usai dan kini berikanlah surgaMu kepadanya. Pertemukanlah ia dengan para leluhurnya, suaminya, ayah dan ibunya terutama anak-anaknya serta menantunya yang telah mendahului Eyang??

Dalam bayanganku, Eyang berlari-lari kecil penuh bahagia di sebuah savana. Di pagi yang begitu cerah, ia bercakap dengan semua orang yang kudoakan di atas termasuk dua orang yang begitu kucintai yang telah mendahului, almarhum Papa dan almarhumah Mama.

Mereka melepas rindu dan berbincang tentang apa saja. Tiada sekat, meski ketika di dunia, dinding keyakinan membatasi mereka.

Di surga tak ada tembok! Bukan karena tak ada yang jual batu bata dan harga semen mungkin sebenarnya murah di sana. Di surga tak ada tembok karena semua yang ada hadir tanpa agama. Tubuh mulia mereka mengimani Tuhan yang sama?

(SELESAI)

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.