Iting (2)

25 Mei 2018 | Iting

Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

Eyang iting itu karakternya keras.
Dari sudut pandang tertentu, keras diartikan galak sementara dari sudut yang lainnya, keras adalah kokoh dan kuat. Aku bersyukur pernah berada dalam dua sudut pandang itu dalam menilainya.

Juni 1985.
Rumah Eyang Puh/Buyut Hj. R. Sukirno, Ibu Eyang Iting, di Blitar adalah rumah kuno yang anggun bergaya feodal. Temboknya kukuh berwarna putih cemerlang dengan pintu lipat kaca yang tinggi serta jendela-jendela yang menjulang bertonasi hijau tua. Dalam liburan itu, aku singgah di rumahnya selama kurang lebih seminggu.

Rumah besar itu hanya dihuni dua orang. Selain Eyang Puh, tinggal juga di sana saudari sepupu jauhnya, Eyang Soeripto. Aku disambut begitu hangat.

Lalu tibalah aku di titik pengalaman unik, bukan tentang mereka tapi tentang Eyang iting.

Pada saat makan malam, kami duduk melingkar di depan meja makan. Eyang Iting menyodorkan piring kosong. Ketika hendak mengambil nasi, ia menyuruhku tetap duduk. ?Nanti Eyang yang ambilin, Le??

Aku kaget, tapi menurut saja.
Eyang lantas mengambilkanku nasi. Tapi takaran nasi yang diambilkannya itu tidaklah sebanyak yang biasa kuambil saat di rumah.

Rupanya Eyang tahu gelagatku. ?Nanti kalau kamu kurang dan nasinya masih ada, Eyang kasih lagi??

Aku mengangguk. Masih kaget, tapi tak ada pilihan lain selain menurut.

Hari itu, Eyang Puh masak lele goreng dan tempe serta sambal. Tapi karena aku waktu itu belum doyan sambal, Eyang Iting menghidangkan telor ceplok. Rupanya Mama memberitahu Eyang bahwa kalau Donny tak mau makan berilah telor ceplok saja pasti lahap makannya!

Ketika hendak mengambil telor yang hanya sebutir itu, lagi-lagi Eyang Iting mengagetkanku! Aku tak diperbolehkan mengambil.

?Loh?? aku mencoba protes.
Eyang mengambil pisau lalu memotong telur rebus itu menjadi empat bagian.

?Kamu ambil satu per satu bagiannya, jadi kalau nggak habis, nggak terbuang!? matanya tajam, ucapannya datar. Ia seperti tahu betul bahwa aku memang ?hobi? membuang-buang makanan.

Apa yang kualami hari itu meninggalkan kepingan kesan bahwa kerasnya Eyang adalah tanda bahwa ia galak. Tapi, ada baiknya kalian melanjutkan bacaan karena ini baru sebagian?

April 1997.
Dua bulan sesudah Papa kehilangan pekerjaan dan berimbas pada badai ekonomi yang menghujam keluarga, aku ditelpon Papa. Saat itu aku baru duduk di bangku kuliah semester ketiga.

?Aku perlu kamu temenin ke Blitar, Le. Sowan Eyang untuk memberitahukan semua ini.? katanya. Papa memang belum memberitahukan perihal musibah itu kepada Eyang Iting maupun Eyang Pranyoto (Ibu Mama) dengan alasan ?belum sampai hati?.

Maka pergilah kami berdua ke Blitar mengendarai mobil pribadi sebagai salah satu dari sedikit sisa kepunyaan yang belum dijual untuk keperluan membiayai hidup.

Waktu itu Eyang Puh dan Eyang Ripto sudah meninggal. Eyang Iting tinggal di sana bersama seorang keponakan jauh, Mbak Agung namanya.

Dalam sebuah diskusi di meja makan di malam hari, Papa memberitakan dengan sangat hati-hati kejadian yang menimpanya itu.

Eyang kaget, tapi tak luruh.
Sempat tertunduk tapi tak lama kemudian sorot matanya menatap tajam ke arah Papa. Dengan suara yang tak rapuh sedikitpun, ia berkata, ?Aku iso bantu opo, Dik?? Papaku, Didiek namanya.

Papa meminta Eyang untuk membantu mencarikan pekerjaan dari seorang saudara yang waktu itu adalah pemilik salah satu perusahaan minuman ternama di Indonesia yang tentu tak ingin kusebut namanya di sini.

Dua minggu berselang, Eyang datang ke Kebumen. Sayangnya ia tak membawa kabar baik atas permintaan Papa di atas.

?Aku sudah menghadap sedulurmu kae, Dik!? Nadanya mengeras.

?Ealah?dulu waktu kecil aku yang nyawiki (cebokin – jw) dia. Aku temenin dia, menjemput dari sekolah dan tidur pun kupeluk semalam-malaman. Tapi kemarin? tapi kemarin aku datang ke rumahnya, kubela-belani sampai berlutut di depannya, memohon-mohon supaya dia nolong kamu? tapi dia nggak mau kasih, Le! Oalah Gusti? Gusti!? Nadanya makin keras, kata-katanya adalah mata bor yang menatah hati kami yang rapuh.

Papa tertunduk lesu, aku termangu.
Sama sekali bukan kabar baik yang dibawanya tapi Eyang Iting adalah kabar baik bagiku karena sejak saat itu ia menjadi panutanku dalam mengelola ?keras? bukan hanya sebagai satu bentuk galak tapi juga sikap untuk berani berdiri dan kokoh serta kuat.

Rabu, 23 Mei 2018.
Budhe Her mengirim foto terakhir Eyang Iting.

?Eyang sejak pagi sudah kritis, mohon doa-doanya ya anak2x, keponakan serta cucu2ku semoga yang terbaik bagi Eyang!?

Eyang tampak lemah di foto itu. Matanya terpejam. Wajahnya kuyu, sebuah alat bantu pernafasan menempel di hidung dan mulutnya. Sekitar jam 6 sore waktu Sydney, sebuah update terbaru dilayangkan kembali oleh Budhe di grup WA keluarga besar.

?Anak2 dan ponakan2ku, tolong bantu putuskan ya. Dokter akan mengambil tindakan mendis terhadap Eyang. Sebaiknya gimana?? Budhe menjelaskan langkah tersebut yang tak elok untuk kuceritakan secara detail di sini.

Pada awalnya, beberapa kakak sepupu hendak menyetujui tindakan itu tapi aku buru-buru memberikan opiniku.

?Budhe, kalau tindakan itu tidak menyakitkan dan resiko prosesnya bisa kita ketahui secara terukur, aku setuju! Tapi kalau hal itu hanya akan menyakitkan, tidak menyembuhkan dan berpeluang untuk membuat Eyang meninggal dalam proses itu, aku jelas menolaknya! Lebih baik Eyang meninggal dalam damai bukan dalam kesakitan!?

Kami berembug panjang dan akhirnya semua setuju dengan apa yang kukatakan. Sebuah surat tanda penolakan tindakan medis ditandatangani.

Keputusan itu tentu tak mudah.
Aku dihadapkan pada hal yang sebagian kuketahui menggunakan nalar sementara sebagian lain tak ada satupun manusia yang tahu karena itu terkait dengan nyawa dan kapan ia direnggut Sang Pemilik.

Tapi ketegasanlah yang kujadikan landasan. Ketegasan yang mengajarku untuk kukuh dan kuat yang kupelajari dari dia, Eyang Iting yang tegolek lemah tak berdaya.

Lima belas menit sesudahnya, sesudah pergumulan itu, Eyang Iting meninggal dunia.

Semua terjadi saat aku berada di atas kereta dalam perjalanan pulang ke kantor. Dukaku memuncak, kerasku lebur, tegasku pudar sementara di luar jendela sana matari lindap perlahan di ufuk barat menyisakan jingga yang membersit indah?

Bersambung…

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.