Iting (1)

24 Mei 2018 | Iting

Serial ?iting? kutulis dalam rangka mengenang Eyangku, Raden Roro Suci Hadiati yang meninggal pada 23 Mei 2018 yang lalu. Ia adalah ibu dari almarhum Papaku.

Juni 1985.
Kami duduk berhadap-hadapan di gerbong ekonomi kereta api Purbaya jurusan Purwokerto – Surabaya. Selepas petugas Stasiun Kebumen membunyikan peluit tanda kereta diberangkatkan, suara roda berdecit, kereta bergerak perlahan sementara Papa melambaikan tangan di bawah, tampak menjauh dan semakin jauh?

Aku nervous.
Itu adalah kali pertama aku pergi ke sebuah tempat sebulan lamanya tanpa Papa dan Mama. Umurku, 7 tahun waktu itu.

Orang yang ada dihadapanku adalah Eyangku. Raden Roro Suci Hadiyati atau yang akrab kupanggil Eyang Iting. Entah darimana nama itu berasal mula, aku tak tahu. Papaku, yang adalah anak bungsunya dari tiga bersaudara menjelaskan mungkin karena nama adiknya adalah Otong, maka ia dipanggil Iting. Sesingkat itu penjelasannya, sejarah namanya.

Pagi itu aku ikut Eyang berlibur ke Jawa Timur.

Ke Jombang beberapa hari bertemu dengan keluarga Budhe Himawati, kakak kedua Papa. Ke Blitar sowan ke rumah Eyang Puh/Buyut Hj. Rr Sukirno barangkali sepekan lalu ke Sidoarjo, ke rumah keluarga Budhe Hermiasih, kakak sulung Papa di sisa liburan untuk selanjutnya pulang ke Kebumen diantar Eyang.

?Kok diem aja kamu, Le?? celetuk Eyang memecah heningku.

Aku terdiam. Tanganku mendingin, berkeringat. Aku agak menyesali keputusanku untuk berlibur. Kenapa aku tak di rumah saja lagipula kan Chitra baru lahir, bisa main-main selama libur sekolah?! Ngapain ke Blitar? Atau, kenapa tak ke Klaten? Ke rumah Eyang Pranyoto (Ibu dari Mama) toh di sana masih banyak kawan-kawan masa kecilku karena aku tinggal di Klaten sejak lahir hingga 1983.

Eyang tahu aku masih belum ?in.?
Masuk ke Stasiun Kutoarjo, ia punya ide cemerlang. Seorang penjual nasi pecel lewat dan Eyang membelikan satu untukku. ?Kamu udah sarapan tadi, Le? Mau makan lagi? Paroan ambek (makan separuh-separuh porsi – jw) Eyang ya??

Aku terpancing, mengangguk.

?Enak??
Aku mengangguk lagi.

?Papamu waktu kecil suka banget makan pecel, Le. Nanti sampai di Blitar andhok (makan di luar rumah -jw) pecel ya sama Eyang??

Aku terdiam lagi.
Pada akhirnya akulah yang sebenarnya makan hampir seluruh nasi pecel karena rasanya enaknya bukan kepalang.

?Yang?? itu adalah kali pertama pagi itu aku menyapanya.

?Ya. Apa, Le??
?Boleh minta minum?? tanyaku lagi.

Eyang mengeluarkan termos air dari tasnya lalu memberiku secangkir menggunakan tutup termos itu.

Lepas dari Stasiun Jenar, Purworejo, ada beberapa tanah tinggi, bukit yang dibelah untuk jalan kereta. Waktu kecil, aku memang punya banyak hal yang kutakuti termasuk salah satunya adalah ketika kereta atau mobil melewati bukit/tanah tinggi. Ketakutanku sebenarnya beralasan meski mungkin kalian mengatakan ?lebay?. Aku takut kalau tanah tinggi itu longsor lalu menimpa gerbong kereta yang kunaiki.

Ketika kereta melewati tanah tinggi dan jarak gerbong dengan tanah tinggi itu begitu dekat, serta merta aku memeluk Eyang. ?Yang, aku takut, Yang!?

Eyang tertawa.
?Ojo wedi, Le!? ujarnya dengan logat Jawa Timur yang khas. ?Kamu itu anak lanang, jangan gocik nemen!? Pelan-pelan aku disorongnya supaya bisa melihat wajahnya. Kali itu tawanya hilang, wajahnya berubah serius, sorot matanya tajam.

Eyang memang tak suka pada penakut.
Jalan hidupnya memang tak pernah mudah dan tak pernah mengijinkannya untuk takut! Ia ?ngenger? (merantau –jw) ikut saudara sejak kecil. Menikah dengan seorang bernama Raden Slamet, beranak tiga lalu tak sampai sepuluh tahun kemudian sang suami terkena stroke hingga sekitar sembilan tahun sesudahnya dan Eyang R. Slamet, ayah dari Papaku itu, meninggal di awal 70-an.

Membesarkan tiga anak dengan keadaan ekonomi pas-pasan membuatnya tak takut terhadap apapun juga. Maka ketika cucunya yang adalah aku tiba-tiba takut hanya pada ?tanah tinggi?, rasa ?tak gentar? nya pun menyeruak lagi ke permukaan.

Perjalanan kereta siang itu begitu lancar. Masuk Jogja, lalu Solo, Madiun serta Nganjuk, satu stasiun sebelum Jombang. Sudah ada beberapa tanah tinggi yang kulewati dan aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk tak menampakkan ketakutanku di hadapan Eyang Iting meski terus-menerus gagal.

?Don?
Papamu itu dulu ya penakut kayak kamu! Trus Eyang kirim dia ke pencak silat supaya berani. Kamu nanti kalau sudah sunat juga gitu ya, Le??

Aku manggut-manggut untuk melegakan Eyang meski aku sendiri tak yakin bahwa beladiri bisa membuatku lebih berani.

Menjelang sore, kami sampai di Jombang. Pakdhe Tarto, Budhe Himawati dan anaknya yang masih kecil waktu, Amanda Desmanta melambaikan tangan dan menyambut kami dengan hangat.

Sydney, 20 Mei 2018
Chitra mengabariku via WA bahwa Eyang Iting masuk ke rumah sakit.

Usianya sudah 88 tahun.
Sejak beberapa hari sebelumnya ia mengeluh kakinya sakit lalu Budhe Hermiasih yang menjadi anak satu-satunya yang masih hidup setelah Budhe Himawati meninggal tahun 2010 dan Papa meninggal di tahun 2011, membawa Eyang ke rumah sakit.

Dalam sebuah grup WhatsApp bersama Chitra, adikku, dan para sepupu, aku mengirim foto keluarga. Aku tak bisa pulang jadi biarlah foto ini kujadikan pengganti ketidakhadiranku.

Oleh Mbak Sessy, istri Mas Rudi, menantu Budhe Her, foto itu ditunjukkan kepada Eyang.

?Dik, Eyang sudah lihat foto keluargamu. Dia bilang, ?Don, semoga keretanya cepat berangkat? Makasih doanya ya Donny. Salam untuk keluargamu.? begitu jelas Mbak Sessy.

Aku tercenung lama membaca berulang-ulang pesan itu.

Kesadarannya sudah tak penuh. Ingatannya tak terlalu nyambung. Tapi ketika Eyang ngendhika ?keretanya cepat berangkat? aku tahu pasti apa yang ada dalam pikirannya! Ia teringat peristiwa pagi itu. Di atas gerbong kereta api ekonomi Purbaya jurusan Purwokerto – Surabaya, di tengah derit suara roda besi kereta beradu rel yang memekakkan telinga sementara kami saling berhadap-hadapan tanpa kata untuk sekian lama?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.