Iri hati? Awasi lima efek samping ini!

23 Agu 2017 | Kabar Baik

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:15)

Membaca ayat di atas aku seperti ditampar berkali-kali rasanya karena berkali-kali pula aku sering merasa iri hati terhadap orang lain.

Aku iri hati dengan orang-orang yang kupikir tak lebih alim dariku tapi justru mereka mendapat banyak berkah.

Aku iri hati dengan orang-orang yang kupikir lebih tak bekerja keras dariku tapi apa yang didapat lebih menggiurkan.

Aku iri hati dengan orang-orang yang kupikir tak lebih pintar tapi kenapa segala-galanya yang mereka miliki lebih baik dariku?!

Atau aku yang terlalu mengukur diri bahwa aku lebih alim, lebih giat dan lebih pintar dari mereka? Apapun itu, di atas segala alasan paling logis sekalipun, yang dikatakan Tuhan adalah yang paling benar, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?” Artinya, kalau Ia berkeputusan, tak kan bisa diganggu gugat, bukan?

Jadi, percuma iri hati terhadap orang lain! Malah banyak hal kontraproduktif tercipta dari rasa iri yang muncul.

Menyakiti hati Tuhan

Iri hati membuat kita menyakiti hati Tuhan. Karena Tuhan itu murah hati, Ia Maha Pemurah jadi tak heran kalau orang meminta lantas diberi. Nah kalau kamu marah karena Ia pemurah, kamu telah melawan sifat alamiNya…

Sombong

Iri hati membuat kita merasa sombong justru karena kita merasa lebih dari mereka yang mendapatkan sama atau lebih banyak. Kita jadi mengukur diri dan jumawa bahwa kita di atas mereka. Padahal kamu tahu syarat untuk mengikutiNya adalah harus memiliki kerendahan hati, bukan?

Memusuhi sesama

Iri hati tak jarang membuat kita memusuhi sesama. Sejarah permusuhan dan bunuh-membunuh di dunia ini pun diawali dari rasa iri antara Kain dan Habil. Konteks permusuhan terjadi karena kita merasa tak diperlakukan secara adil dengan tidak mendapatkan lebih banyak dari mereka tentu dengan menempatkan rasa keadilan itu seenak jidat kita sendiri! Level permusuhan itu seperti level pedas yang kalian temui di warung-warung sambal kesukaan kalian. Dari yang pedasnya ‘ringan’ atau level 1 sampai pedas ‘mampus’ level sepuluh. Dari yang cuma nggak saling sapa sampai benar-benar bisa bikin mampus orang lain alias bunuh-bunuhan. Mana yang lebih berkenan bagiNya? Ada? Tak ada!

Mengingkari berkat

Iri hati membuat kita mengingkari berkat! Rasa iri membuat kita jadi merasa rendah diri di hadapan sesama karena kita merutuki betapa yang kita dapat terlalu sedikit. Sikap merutuk inilah yang menempatkan kita pada klasifikasi makhluk yang mengingkari berkat.

Masih kurang jelas?
Begini… anggaplah kamu diberi berkat dan berkat itu berupa sebuah sepeda motor. Tapi tetangga sebelah yang menurutmu nggak lebih alim, nggak lebih giat dan nggak lebih pintar itu diberi berkat sebuah mobil. Hatimu panas dan seolah tak terima kenapa hanya motor? Nah, inilah titik dimana kamu merasa lebih miskin karena kamu menganggap sepeda motor tidak ada apa-apanya dibandingkan mobil! Padahal apa yang salah dari motor dan apa yang lebih benar dari sebuah mobil kalau keduanya hanyalah sarana untuk memuliakan Tuhan?

Mana yang lebih berguna, motor yang lantas bisa kita pakai untuk mengantar anak-istri ke sekolah dan pasar atau mobil yang dipakai hanya untuk pamer, diparkir di dalam garasi tanpa pernah dimanfaatkan untuk Tuhan dan kemanusiaan?

Sydney, 23 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.