Menilai seseorang bohong atau tidak sesungguhnya bukanlah kapasitas kita.
Bagiku, justru orang yang paling bohong adalah orang yang berani menuduh orang lain bohong karena siapa pula yang bisa benar-benar tahu isi hati dan perbuatan orang lain yang tak bisa kita lihat ?
Tapi, sebagai manusia yang memiliki akal, budi serta ingatan, kita ditantang untuk mengenali tanda-tanda kebohongan dari konsistensi seseorang dalam bercerita tentang satu hal kepada kita.
Semakin tak konsisten orang dalam bercerita, semakin dekat ia dengan kebohongan, gampangnya begitu saja.
Ada sebuah cerita, di masa laluku.
Seorang yang katanya hebat, dikenalkan padaku oleh seorang teman dekat.
“Dia hebat, Don! Kemarin bikin acara di Surabaya hasilnya luar biasa!” kata temanku meyakinkan dan akupun manggut-manggut.
“Siapa tahu diadakan di Jogja bisa berhasil tho, Dab?” tukasnya lagi dan adrenalin bisnisku pun bergejolak dibuatnya.
Lalu beberapa hari sesudahnya, kami, aku, kawanku dan si orang hebat tadi, sepakat untuk makan malam bersama di sebuah resto ternama di Jogja dan aku menjadi hostnya.
Awalnya, suasana makan malam itu sungguh hangat penuh dengan guyonan yang gayeng karena meski tak kenal sebelumnya, tapi ternyata untuk mencari hubungan antara aku dengan si orang hebat tadi tidaklah sulit karena masing-masing dari kami berangkat dari komunitas yang kurang lebih sama dan setempat.
“Jadi begini, Pak Donny.. Acara ini pernah kami gelar di Surabaya dan responsnya luar biasa!” tukas orang hebat tadi mengawali.
“Kami mengadakannya di hotel dengan konsep yang sangat unik! Hotelnya bintang lima, tapi kami sengaja menginapkan peserta di tenda yang dipasang di lapangan golf milik hotel itu!” ia melanjutkan awalannya dengan penuh semangat.
“Weh, bagus itu, Pak.. kenapa kok di lapangan dan tidak di kamar?” tanyaku.
“Oh, itu semata-mata supaya menumbuhkan keakraban yang lebih kental antar-peserta, Pak!” ujarnya meyakinkan.
Semakin malam, obrolan pun semakin hangat.
Hidangan demi hidangan, gelas demi gelas minuman pun tak lewat kami babat. Kian lama aku merasa sangat in the mood dalam berbicara prospek malam itu. Dalam banyak sisi, teman dekatku dan orang hebat tadi telah meyakinkanku bahwa acara serupa jika digelar di Jogja akan meraup untung yang tidak kalah besar dibanding Surabaya.
Tentu ini adalah peluang yang menarik!
Nyaris dua jam berlalu, dan ketika pertemuan hendak mencapai puncak kesimpulan, sebuah kecelakaan kecil terjadi.
“Jadi, nanti Pak Donny pilih saja kira-kira hotel mana yang cocok untuk acara kita itu, selanjutnya biar saya yang follow up dan lapor ke Pak Donny!” lanjut orang hebat itu tadi sambil mengelus-elus perut tambunnya tanda kekenyangan.
“Wah, sip Pak! Kebetulan saya ada beberapa link di hotel-hotel terkemuka di Jogja kok…” jawabku meyakinkan.
“Dan kalau bisa hotelnya yang ada lapangannya, Pak.. Ndak perlu lapangan golf karena takutnya nanti kayak di Surabaya malah nggak boleh dipake…”
Dan… ia terperangkap omongannya sendiri!
Mukanya memerah, matanya yang semula selalu tajam menatapku saat itu goyah. Pada tepian-tepian meja makan ia sandarkan pandangannya.
Akupun spontan bereaksi.
“Oh, loh. Maaf Pak, tadi katanya para peserta di Surabaya itu diinepkan di lapangan golf, Pak?” tanyaku ringan sambil terus menatapnya.
“Oh… eh.. iya, tapi sebenarnya itu idealnya memang demikian, Pak Donny. Tapi… ah, tenang saja! Saya juga masih punya cukup kekuatan untuk memengaruhi hotel di Jogja supaya mau meminjamkan lapangan golfnya, Pak! Jogja bakalan lebih mantap ketimbang Surabaya kok!” Ia tampak gelagapan sebentar namun kemudian keyakinannya kembali tumbuh seperti sedia kala, sepertinya ia telah terbiasa terjerembab seperti ini dan bangun kembali dalam waktu yang relatif cepat.
Lalu sisa pertemuan makan malam itu hanyalah sampah.
Segala apa yang ia ucapkan pada akhirnya masuk telinga kiri dan keluar dari lubang sebelah kanannya.
Tanggapanku terhadap omongan-omongannya pun juga sekadar “Oooo..” atau paling panjang “Oh, gitu…” karena semenjak saat itu, detik itu, aku sudah mencoret namanya dari daftar orang hebat yang kukenal hanya gara-gara inkonsistensi-nya dalam menceritakan sesuatu.
Aku tak bisa men-cap ia pembohong,
tapi setidaknya obrolan malam itu membuatku tak kan merelakan harapan, uang, serta waktu dan pikiranku masuk dalam dunianya yang tak terlalu konsisten itu.
Tinggalkan Balasan