Ini catatan tentang acara musik jazz yang minim unsur jazz-nya itu…

8 Jul 2019 | Cetusan

Untuk alasan kenyamanan dalam menulis, aku memutuskan tidak menyebut nama event musik jazz yang sebenarnya di sini.

Jadi sejak beberapa hari yang lalu, di sebuah kota diadakan acara pertunjukan musik yang dalam tajuknya berembel-embel kata ‘jazz’. Sesuai namanya, ketika seorang kawan pergi ke acara itu, harapannya tentu dimanjakan dengan banyak karya musik jazz, bukan? Tapi uniknya, yang muncul dan kebanyakan yang hadir adalah artis dan grup band yang tidak dikenal sebagai musisi jazz. Kebanyakan artis musik pop.

Hal ini barangkali sama kalau kita menonton sebuah festival rock lalu di tengah-tengah serunya acara tiba-tiba muncul suara Mas Didi Kempot menyuarakan, “Sewu kutho?” Mas Didi adalah musisi hebat yang kukagumi. Namun meski melengking suaranya, kita tentu sepakat beliau bukan musisi/penyanyi rock.

musik jazz
ilustrasi

Memang sih ada musisi dari kalangan jazz-jazzan yang manggung di festival itu. Tapi setidaknya, ketika diblow-up ke media, nama-nama yang tampil malah yang bukan musisi jazz-jazzan. Lalu, pertinyiinnya sekiring, dimana letak jazz-nya?

Oh ya, sekadar info, event ‘jazz’ yang kemarin itu bukan event pertama yang didominasi musisi-musisi non jazz lho! Dan tampaknya, melihat kesuksesan acara, bukan akan menjadi event yang terakhir.

Saya mencoba mengutak-atik, kira-kira kenapa sih sebuah event musik jazz bertarap internasional tapi bintangnya malah bukan jazz?

DV, musik itu universal!

Mungkin ada yang bilang begitu, “Nggak papa lah event musik jazz-jazzan ada banyak artis/grup band non-jazz, toh musik itu universal!”

Nah! Justru karena musik itu universal kenapa tidak menggunakan embel-embel yang universal juga dan tidak perlu membawa embel-embel ‘Jazz’ dalam nama event?

Misalnya ‘Marmut Music Festival’ ketimbang ‘Marmut Jazz’?

Universalitas itu bukan cuma dari sisi artis yang akan diundang, dari nama juga dong!

Yang kutakutkan, penggunaan kata ‘jazz’ tak lain adalah gimmick bisnis semata. Citra jazz kan musik ekslusif jadi panitia bisa mengkatrol harga tiket supaya lebih tinggi dari sekadar festival musik biasa. Kan jazz? Kan ekslusif?

DV, mengundang musisi non-jazz dalam acara musik jazz adalah upaya untuk memasyarakatkan jazz!

OK, katakanlah demikian tapi lagi-lagi alasan itu adalah gimmick saja! Bagaimana bisa dimasukkan dalam logika kalau orang yang diminta memasyarakatkan jazz justru yang bukan musisi jazz? Sama dengan memasyarakatkan wayang orang tapi yang diminta memasyarakatkan adalah artis sinetron? Sama-sama seni pertunjukan tapi tetap saja beda jurusan!

Lagipula kalau tak memasyarakat kenapa?

musik jazz
ilustrasi

Bukan bermaksud membandingkan, tapi banyak kawan dari kalangan heavy metal, mereka pun tidak diterima dengan mudah oleh masyarakat. Bahkan tantangannya multidimensional karena selain dinilai terlalu hingar-bingar, banyak yang menuduh bahwa musiknya adalah musik sesat.

Tapi apa pernah kalian dengar di sebuah festival musik heavy metal, panitia mengundang artis dari genre lain sekadar supaya musiknya memasyarakat dan diterima?

Aku ingin menutup tulisan ini dengan sebuah cerita lama.

Waktu masih tinggal di Jogja dulu, aku punya kawan yang tinggalnya di kawasan Candi Gebang, Condong Catur di utara kota.

Suatu waktu aku main untuk pertama kali ke rumahnya yang berada di sebuah kluster real estate mewah di sana. Di depan rumahnya aku bertanya, “Untung aku nggak keblasuk. Kupikir Candi Gebang itu ada candinya lho, Bro!”

Kawanku ngakak tapi wajahnya lantas jadi serius, “Don (waktu itu aku belum dipanggil DV), tapi di sini memang ada candi beneran, Candi Gebang namanya. Makanya kawasan ini namanya adalah kawasan Candi Gebang.”

Aku lantas diajak pergi menuju ke Candi Gebang, sebuah candi peninggalan dari abad ke-8 yang besarnya tak lebih besar dari rumah kawanku yang magrong-magrong megahnya itu.

Jadi?
Wahai panitia?Tahun depan, saranku adakanlah event dengan nama Candi Gebang Jazz Festival 2020. Orang akan berbondong-bondong mencari “Dimana candinya?” sama halnya mereka juga akan bertanya-tanya di akhir acara, “Dimana jazz-nya?”

Ya yang penting tiket ludes terjual dan banyak orang-orang sing along di bibir panggung lalu cerita bermunculan di Instastory, yekan?

Sydney, 8 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.