Se-apatis-apatisnya kita terhadap pemerintahan SBY, satu hal yang perlu diakui tanpa malu adalah tentang keberhasilan Indonesia meraih gelar juara umum dalam kancah SEA GAMES XXVI yang baru lalu setelah 14 tahun tak pernah meraihnya.
Prestasi ini membanggakan karena setidaknya hal ini seperti menjadi ?gong? yang indah setelah pada awal persiapan pembangunan infrastrukturnya dikabarkan mengalami kemunduran jadwal dan terkesan tergesa-gesa, belum lagi dugaan perkara korupsi dalam pendanaan wisma atletnya yang memunculkan ?ikon baru?, Nazzarudin.
Namun tulisan kali ini tak kan bicara lebih jauh soal isu korupsi dan tetek bengek yang mengitarinya. Aku tertarik untuk bicara poin per poin tentang apa yang bisa kita tarik sebagai kesimpulan dalam prestasi tersebut?
Indonesia (Ternyata) Bisa
“…asal kita bersungguh-sungguh dan disiplin dalam melakukan satu proses, keberhasilan hanyalah perkara tunggu waktu saja.”
Hal paling positif yang bisa kita jadikan cerminan dari prestasi di SEA GAMES XXVI adalah kenyataan bahwa asal kita bersungguh-sungguh dan disiplin dalam melakukan satu proses, keberhasilan hanyalah perkara tunggu waktu saja.
Semoga hal ini bisa menjadi pemicu untuk berprestasi lebih tinggi lagi di kancah regional yang lebih luas semisal ASIAN GAMES ataupun Olimpiade. Bukannya tak mungkin kalau pemerintah konsisten membangun bidang olahraga maka prestasi-prestasi yang selama ini kita anggap sebagai impian termasuk tekad untuk masuk dalam hitungan 20 besar Olimpiade 2016 yang akan diselenggarakan di Rio de Jenairo adalah sesuatu yang bukan mustahil dapat kita raih.
Platform Persatuan
“Bukan ajakan untuk membuang sekat karena bagaimanapun itu adalah identitas personal, tapi setidaknya kita harus berdiri lebih tinggi dari sekat yang ada, sehingga ketika butuh untuk bergandengan erat, tangan kita tak terhalang sekat-sekat itu tadi.”
SEA GAMES XXVI yang baru lalu, bagi elemen anak bangsa kita bisa dijadikan sebuah momentum untuk kembali bersatu dan melupakan masa silam yang barangkali tak sedikit yang kelam. Meski tak terlalu kentara, pergesekan antar wilayah dan utamanya antar agama akhir-akhir ini tak bisa dibilang ‘tak ada’. Di sana-sini berita soal intimidasi kaum beragama tertentu oleh ormas tertentu pula, atau berita soal kerusuhan yang seolah terisolasi di daerah tertentu dan konon didalangi oleh petinggi-petinggi tertentu juga, seolah gantian mengisi tajuk berita banyak media nasional akhir-akhir ini.
Melalui SEA GAMES, kita bisa membuktikan bahwa ketika bersatu tanpa memandang faktor suku dan agama sebagai penghalang, di situ daya dobrak kebangsaan kita untuk maju ke depan akan berlipat ganda ketimbang ketika kita malah sibuk saling lawan dan serang, sindir serta singgung satu sama lain hanya karena kamu berasal dari pulau A dan aku suku B, atau karena agamaku XX dan kamu YY.
Contoh terbesar adalah dalam tim cabang sepakbola yang kerap dijuluki sebagai tim Garuda Muda. Meski gawal meraih emas karena kalah adu penalti melawan Malaysia, tapi simaklah betapa cantik kerja sama antar lini semua pemain pada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Barisan depan yang didominasi orang-orang Papua dan kristiani bahu-membahu dengan barisan lain yang berasal dari suku lain dan agama yang berlainan pula.
Bukan ajakan untuk membuang sekat karena bagaimanapun itu adalah identitas personal, tapi setidaknya kita harus berdiri lebih tinggi dari sekat yang ada, sehingga ketika butuh untuk bergandengan erat, tangan kita tak terhalang sekat-sekat itu tadi.
Indikasi Perubahan
“Kenapa masih ada kisah anak SD yang harus meniti pada seutas tali besi di atas sungai untuk pergi bersekolah?”
Aku menemukan sebuah pernyataan menarik dalam abstraksi buku Social Indicators Research karya Frank A.G. Den Butter dan Casper M. Van Der Tak . Di situ dinyatakan bahwa dalam penelitian terhadap hasil kompetisi Olimpiade Musim Panas yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan 1988 dan di Barcelona, Spanyol empat tahun sesudahnya, perolehan medali yang diraih tiap negara memiliki relasi erat dengan pendapatan (negara tersebut) dan juga terhadap indikasi kesejahteraan umum lainnya.
Dari situ aku berpikir bahwa bisa jadi, dengan hasil juara umum Indonesia kali ini, setelah 14 tahun selalu menjadi pecundang, sejatinya kita saat ini telah ‘kembali’ pada posisi yang menguntungkan untuk menjadi sejahtera seperti sedia kala sebelum krisis moneter era 90-an dimulai.
Pikiran logis sederhananya, ketika pemerintah tak punya uang dan kesempatan, pembinaan olahraga akan kacau balau karena pembinaan membutuhkan dana dan perhatian. Nah, dengan prestasi yang sedemikian bagusnya dalam event SEA GAMES XXVI ini, bisakah kita simpulkan bahwa secara umum, tingkat kesejahteraan kita mengindikasikan adanya kenaikan?
Tapi bila memang benar telah naik kenapa masih banyak terjadi kemiskinan secara akut di banyak lini kehidupan dan daerah-daerah tertinggal?
Kenapa masih ada kisah anak SD yang harus meniti pada seutas tali besi di atas sungai untuk pergi bersekolah?
Kenapa masih ada kisah orang-orang miskin yang ditelantarkan oleh rumah sakit pada saat mereka menuntut hak mereka untuk hidup sehat?
* * *
Du! Du! Du! Du!
Ah sudahlah! Tak enak mengakhiri tulisan ini dengan sesuatu yang skeptis di tengah suasana pesta kemenangan kita.
Jadi, mari kita sekali lagi ucapkan selamat bagi Indonesia yang telah memenangi SEA GAMES XXVI! Kalian hebat, kalian juara… kalian bisa!
Oh ya, semoga video tentang pencak silat ?bite and run? ini tak merusak selera kita dalam beryel-yel kemenangan!
Tinggalkan Balasan