Punya alamat email sekeren indonesia@gmail.com itu penuh suka dan duka.
OK, biar tak penasaran kuceritakan dulu bagaimana aku bisa mendapatkan alamat email tersebut (dan ini sekaligus jawaban dari banyak orang yang tanya bagaimana aku bisa mendapatkannya).
Waktu itu, sekitar beberapa bulan sebelum gmail dibuka untuk registrasi umum, aku mendapatkan undangan dari Google untuk mencoba email provider baru mereka itu. Jangan anggap ini hal istimewa karena sebenarnya mendapatkan undangan dari Google itu mudah, karena sepertinya hampir semua aktivis online waktu itu mendapatkannya, jadi kalau kamu dulu belum kenal internet ya nggak dapet :)
Lalu aku iseng mendaftarkan nama ?indonesia? dan aku mendapatkannya. Simple, kan? :)
OK, sekarang lanjut ke cerita ?suka-duka? nya.
Kejadian yang paling sering kualami adalah, aku datang katakanlah ke kantor administrasi di Australia untuk mengurus sesuatu. Semula mereka memperlakukanku sama dengan customer yang lain. Maju ke depan sepelas antrian, berhadapan dengan customer support yang bermuka datar dan matanya tak mengindahkanku, tetap memandang ke layar komputer seolah wajahku bisa dilihatnya di layar yang dipelototinya itu.
?Hi! So, what?s your name??
?Donny Verdian?
Ia lantas mengetikkan namaku.
?Any phone number??
?Hmmm.. mobile or??
?Yes please, mobile!? lalu kusebutkan nomer mobile phone-ku.
?Email address??
?Indonesia at gmail dot com?
?Sorry, say it again??
?I-n-d-o-n-e-s-i-a at gmail dot com?
Nah, di point itu, wajahnya terangkat dari layar, menatapku dengan raut wajahnya berubah, kadang kagum, kadang heran, tapi apapun itu, alamat email yang kusebutkan berhasil membuatnya memberi sekelumit perhatian kepadaku!
Pertanyaan selanjutnya mudah ditebak,
?are you serious?? atau,
?How did you get that?? atau,
?Are you the president of Indonesia?? dan mentok-mentoknya,
?Ah, you know what?. I want to get one too! Something like australia@gmail.com maybe?? yang biasanya lantas kubalas dengan manggut-manggut.. sambil berujar ?Ya… ya…ya…, that would be great!? Basa-basi sambil lalu!
Kejadian lain lagi adalah kalau tiba-tiba ada permintaan reset password padahal aku tak memintanya. Ini semacam usaha untuk mendapatkan akun emailku.
Awal-awal dulu ketar-ketir tapi lama-kelamaan terbiasa.
Pelajaran yang kudapat ketika aku kehilangan akun indonesia.multiply.com beberapa waktu silam membuatku semakin sadar bahwa semua yang kita dapat secara cuma-cuma itu harus diikhlaskan seandainya suatu waktu memang harus lepas begitu saja.
Jadi, cuekin saja! Kalau memang belum waktunya hilang atau lepas, ia akan tetap kumiliki…
Di ranah social media lain lagi! Ada yang menganggap rasa nasionalismeku tinggi hanya gara-gara aku memiliki alamat email tadi.
Aku jadi membayangkan kalau bisa mengumpulkan orang-orang sebego itu, aku mungkin bisa berpikir untuk pulang ke Indonesia, pensiun dari pekerjaan yang IT-related dan mendaftarkan diri jadi caleg atau apalah jabatan politik yang bisa kusandang dari pemilu/pilkada karena orang-orang bego seperti itu toh akan setia memilihku selama aku punya alamat email indonesia@gmail.com ?:)
Ada pula, dan ini banyak, email nyasar karena orang mengirimkan lamaran pekerjaan.
Dari beberapa kasus yang kupelajari, mereka terlalu sembrono mengirim email misal ke Bank Indonesia untuk sebuah lowongan dengan menuliskan alamat email ?bank indonesia@gmail.com ? otomatis akan terkirim ke alamat emailku karena tanda spasi tak terbaca dalam aturan penulisan email address (RFC 5321)
Awalnya dulu suka ngebodoh-bodohin orang yang melakukan kekonyolan seperti itu tapi lama-kelamaan aku jatuh kasihan karena mereka, pasti adalah manusia-manusia yang punya niat baik untuk mencari kerja demi hidup yang lebih layak. Beberapa kali, meski tak semua, aku membalas email dan memberitahukan bahwa mereka salah mengirimkan lowongan.
Eh tapi simak screenshot di bawah ini!
Pernah suatu waktu ada yang mengirim email, kubalas kalau emailnya salah, eh dia malah protes!
Beberapa sisa kelucuan lain bisa disimak di bawah…







Tinggalkan Balasan