Iman ?treadmill?, iman yang jalan di tempat

27 Apr 2018 | Kabar Baik

Penggalan terakhir dalam Kabar Baik hari ini barangkali adalah satu dari sekian banyak hal yang sering kita dengar.

Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Tapi secara tak sadar, aku sebenernya nggak ngeh-ngeh amat akan maksud perkataan Yesus itu.

Andai saja Ia hanya menyatakan bahwa diriNya itu jalan, aku bisa mengerti karena jalan hidupku berusaha kusatukan di dalamNya.

Andaipun Ia hanya menyatakan bahwa diriNya itu kebenaran, hal itu pulalah yang kuamini sejak kulahir hingga kumati nanti!

Kalaupun Ia memproklamasikan bahwa diriNya adalah Tuhan yang hidup, akupun tak kuasa menyangkalNya bukankah Ia memang bangkit dari mati sebagai pertanda hidup?

Tapi ketika Yesus menyatakan bahwa Dialah jalan dan kebenaran dan hidup? Otakku yang sempit ini kerepotan untuk membayangkannya. Hingga akhirnya aku menemukan sebersit pencerahan atas hal tersebut melalui treadmill.

Kalian tahu treadmill, kan? Mesin yang ada di fitness center yang kita gunakan untuk berolahraga lari dan jalan di tempat.

Aku menggunakan treadmill hampir setiap hari. Sekitar empat puluh menit waktu kuhabiskan di atasnya. Sembari berjalan, sesekali waktu aku ngecheck apakah hitungan kalori yang kukeluarkan selama berjalan sudah mencapai target. Berapa panjang lintasan yang sudah kulalui dan berapa detak jantungku selama berada di atasnya. Angka-angka statistik itu muncul dari panel digital yang terinstalasi jadi satu dengannya.

Ketika semua angka sudah terpenuhi, aku merasa nyaman dan lega. Lalu ketika istri bertanya sudah jalan apa belum, akupun bisa menjawab sudah karena nyatanya aku memang jalan di atas treadmill, empat puluh menit lamanya.

Jalan di atas treadmill adalah jalan itu sendiri. Benar? Benar! Tapi apakah berjalan di atas treadmill itu memberikan pengalaman yang sesungguhnya tentang arti jalan?

Tidak! Kita harus pula merasakan jalan di jalanan yang sebenarnya. Merasakan bagaimana kaki terpanggang panas matari, kaki menyentuh kerikil, tai anjing dan rumput yang mengering. Bagaimana kita menyapa tetangga kanan dan kiri saat berjalan yang tak bisa kita temui ketika kita ada di atas treadmill dan masih banyak lagi.

Memahami konsep jalan, kebenaran dan hidup yang dibawakan Yesus, pun kurasa perlu begitu.

Kita tahu bahwa untuk mendapatkan keselamatan jiwa, tak ada pilihan lain selain melakukan pelayanan kasih terhadapNya, sesama serta lingkungan selama kita berziarah di dunia ini.

Tapi terkadang upaya itu kita maknai secara sempit. Kita cuma peduli pada angka berapa banyak kita pergi ke gereja untuk ikut misa mingguan, berapa sering kita ada dalam acara pendalaman iman, hadir dalam persekutuan-persekutuan doa serta ketika ada rejeki, ikut retret dan rekoleksi bahkan berziarah ke tempat-tempat suci.

Tak ada yang salah sebenarnya tapi kita tak boleh puas hanya dengan statistik angka yang kita dapat dari satuan-satuan di atas itu seperti halnya aku yang merasa nyaman dan lega setelah angka-angka statistik kalori, detak jantung dan jarak sudah kudapat di mesin treadmill.

Mengerjakan keselamatan jiwa adalah dengan juga menyertakan aksi-aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa seberapa sering kita beribadah keagamaan itu tentu baik sebagai bekalnya.

Untuk itu, ketika kita bicara mengenai jalan dan kebenaran dan hidup yang ada padaNya, hal pertama yang harus kita lakukan sebenarnya justru mendapatkan kesadaran itu sendiri!

Sadar bahwa kita masih jalan di tempat di atas ?treadmill? atau sudah benar-benar di atas jalan yang sesungguhnya! Sadar bahwa tingkat kepuasan kita bukan ketika memandang angka-angka statistik seberapa sering beribadah tapi pada seberapa berguna kita bagi sesama di lingkungan sekitar.

Baru sesudahnya kita siap untuk mengayuh langkah berjalan didalamNya, merasakan dan memahami kebenaran-kebenaranNya dan mendapatkan hidup yang berasal daripadaNya.

Jalan yang benar dan kebenaran yang memberi hidup dan hidup yang dinyatakan dalam pengalaman berjalan di jalanan yang benar, Yesus Kristus!

Sydney, 27 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.