Iman anak-anak atau iman kanak-kanak?

15 Agu 2017 | Kabar Baik

lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
(Matius 18:3)

Menjadi seperti anak-anak itu bukan berarti harus kekanak-kanakan.

Menjadi anak-anak yang dimaksud Yesus adalah menjadi orang yang bertobat dan bersih seperti anak-anak yang belum berbuat dosa, menjadi orang yang merendahkan diri di hadapanNya, menyadari kelemahan diri.

Sementara itu, menjadi kanak-kanak berarti menempatkan diri seolah dirinya masih anak-anak dari sisi hak dan kewajiban. Waktu kita masih anak-anak, maunya dapat susu, mainan kapanpun dan dimanapun. Kalau nggak dikasih? Nangis! Kalau nggak dituruti? Teriak-teriak! Ngambek! Itulah kekanak-kanakan!

Dalam beriman pun juga ada yang demikian. Aku tak hendak menunjuk orang lain tapi biarlah aku tunjuk diriku sendiri.

Waktu remaja dulu aku pengen punya pacar yang cantik dan pengen bisa mengerjakan soal ujian. Doa diperkuat? Bagus! Tapi usaha melemah atau setidaknya begitu-begitu saja? Duh, jangan! Kalau mau dapat pacar cantik ya harus berusaha pintar dan tampil ‘maksimal’ supaya menarik. Kalau mau lulus ujian ya belajar!

Ketika pacar tak kudapat (meski akhirnya aku sadar ‘cantik’ itu relatif hahaha…) dan aku harus mengulang ujian di semester berikutnya, aku ngambek! Berhenti berdoa, tak lagi ke gereja menganggap Tuhan tak ada atau setidaknya aku merasa dicuekin olehNya. Itulah kekanak-kanakan.

Sekarang, meski umur sudah menjelang kepala empat bukan berarti aku sudah lepas dari iman dengan sifat penuh kekanak-kanakan. Kalau lagi ‘kumat’ ya imanku mirip bayi umur lima bulan.

Merengek pengen punya sesuatu yang sudah kuiimpikan tapi seolah tak kunjung diberikan. Kalau dulu, ketika tak diberi, seperti yang kutulis di atas, aku akan ngambek berdoa dan ke gereja. Kali ini perangaiku berbeda. Aku tetap berdoa, tetap ke gereja bahkan tetap menulis Kabar Baik, kan? Tapi yang kuubah adalah sikapku dalam memandangNya. Aku tak lagi meminta. Merajuk atau mutung istilah jawanya.

Salahkah? Ya salah! Kekanak-kanakan seperti seorang anak kecil yang berhenti meminta mainan bukan karena sadar tapi karena ia merajuk dan berharap akan dibaik-baikin orang tuanya lalu disodorin mainan yang diminta supaya ceria lagi.

Yang terbaik dalam hal ini adalah pasrah!
Kepasrahan menunjukkan kedewasaan iman. Mau dikasih syukur, nggak dikasih berarti bukan itu yang terbaik karena kita percaya Tuhan itu lebih baik dari orang tua kita sendiri sehingga Ia tahu yang terbaik untuk kita, anak-anaknya. Jadi mari kita menjadi anak-anak tanpa harus kekanak-kanakan.

Sydney, 15 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.