Identitas sesawi: kita sesawi, jangan meng-ilalang-kan diri

30 Jul 2019 | Kabar Baik

Setelah kemarin bicara tentang iman biji sesawi, hari ini Yesus bicara lebih dalam lagi tentang dua identitas. Identitas sesawi dan identitas ilalang.

Sementara orang benar diibaratkan sebagai yang memiliki identitas sesawi, orang yang jahat adalah mereka yang memiliki identitas ilalang, ?Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.? demikian seperti ditulis dalam Matius 13:38.

Sabar! Bersabarlah!

Kabar terbaik dari Kabar Baik hari ini adalah, Tuhan memperhitungkan siapa yang jahat dan siapa yang benar. Jadi kalau ada yang selama ini percaya bahwa Tuhan abai dan tidur terhadap segala kejahatan yang terjadi di muka bumi, semoga penjelasan ini menenangkanmu.

Namun, bagi kalangan yang tidak sabar, kabar kurang baiknya adalah, semua penghakiman baru akan terjadi saat hari kiamat nanti. Kamu tak bisa berharap bahwa saat kamu dijahati lalu Tuhan menghukum yang menjahatimu saat itu juga. Ya, kalau mau tentu Ia bisa, namanya juga Tuhan, kan? Tapi kalau menurutmu Ia tak melakukan, ya sabar tunggu kiamat tiba. Mari kita berlatih lebih sabar karena bukankah kasih itu sabar adanya?

Identitas sesawi

Maka kita makin sadar, pekerjaan terbesar kita sepanjang hidup kurang lebih sama dengan yang jadi kesimpulan tulisanku kemarin yaitu bagaimana terus berjuang memperlihatkan identitas sesawi kita dengan menumbuhkan biji sesawi jadi pohon besar.

Kalau biji sesawi tak bisa jadi pohon besar melainkan hanya setinggi dan sebesar ilalang, ketika waktunya tiba, yang ditakutkan kita pun ikut tercerabut oleh penuai dan ikut dibuang di dalam api abadi. Bukan karena sang penuai tidak pandai membedakan tapi lebih karena untuk apa sebatang pohon sesawi dipertahankan kalau ia tak bisa besar dan kerdil seperti ilalang?

Kita juga tidak boleh terpancing untuk menghakimi yang jahat atau meladeni yang jahat dengan sesuatu yang tak jahat pula. Maka jangan terpancing untuk ikut berbuat jahat, ikut meng-ilalang-kan diri sendiri dengan dosa dan kesalahan kita karena hal itu sama saja menolak jati diri kita sebenarnya.

Aku punya pengalaman tentang hal ini.

Beberapa malam yang lalu, istriku menceritakan pengalaman yang didapatnya pada siang hari sebelumnya. Ia adu mulut dengan seseorang yang menurut dia hal itu terjadi sama sekali bukan kehendaknya.

Aku tentu percaya, bukan saja karena ia adalah istri sendiri tapi dari pola yang kuamati bagaimana ia berinteraksi dengan orang yang disebut tadi yang selalu seperti itu.

Hal itu rupanya amat menyedihkan hati istriku.

Aku, mungkin karena saking emosinya, lantas menyarankan untuk membalas perilaku tak adil yang diterimanya itu. ?Kamu balas aja! Jaga jarak dan jangan terlalu baik lagi ke dia lah! Percuma!? Begitu saranku.

Tapi istriku menggeleng.

Apa yang dikatakannya amat mengguncang emosiku, ?Jangan! Jangan sampai hanya karena kejadian ini lantas kita terpancing untuk menjadi seperti dia!?

Aku sempat berontak, ?Ngapain? Rugi! Dia yang mulai! Lagipula toh supaya dia juga bisa belajar dari kesalahannnya!?

Identitas ilalang vs identitas sesawi

Tak lama kemudian ketika semuanya mereda, aku berpikir bahwa apa yang dikatakan istriku itu ada betulnya juga. Emosi membuatku terpancing untuk menjadi seperti dia, yang jahat dan tak berperilaku baik serta adil. Nah, kalau aku lantas sudah menjadi dia yang jahat, apa yang membedakanku dengannya? 

Kita harus terus berusaha menjadi baik dan semakin baik saat orang lain bahkan berusaha memancing supaya kita jadi sama-sama jahatnya dengan mereka. Bukan karena kuat dan gagah kita tapi karena identitas kita bukan identitas sebagai ilalang tapi identitas sesawi dan hal itu sudah digariskan Tuhan sejak awal!

Maka mari terus menjadi pohon besar. Melalui kesetiaan pada Bapa, serta menyatukan diri dengan sengsara Putera untuk hidup lebih baik dan menjadi garam bagi sesama dengan Roh Kudus sebagai pembimbingnya hingga kesudahan?

Sydney, 30 Juli 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.