Idealnya, berapa banyak air untuk menggelontor WC?

13 Feb 2010 | Cetusan


Akhir-akhir ini yang namanya iklan layanan masyarakat bertema lingkungan memang maraknya luar biasa!
Dan kamera yang menempel di Blackberry-ku pun ‘menangkap’ dua iklan yang berfungsi mirip seperti aturan yang kupampang di atas paragraf ini.
Keduanya menempel di dinding toilet sebuah gedung yang terletak di Sydney CBD yang kerap kujadikan tumpangan untuk buang air kecil sebelum menunggu bus yang hendak mengantarkanku ke tempat kerja. Kedua aturan itu bernada sama dan sama-sama baiknya, ajakan untuk mengirit air!
Tapi pertanyaannya sekarang adalah, apa iya keduanya benar-benar sama baiknya termasuk pada efek yang dihasilkan jika kedua aturan itu benar-benar dilakukan?
Mari kita menelaahnya.
Aturan yang pertama (turn it off every drop counts). Berbicara tentang ajakan untuk menutup kran setelah menggunakan air entah itu di wastafel maupun bilik mandi.
Barangkali ini adalah aturan yang sempurna, siapa sih yang tak ingin irit air? Sumber daya yang dulu selalu dibilang ‘dapat diperbaharui’ tapi pada kenyataannya mendapatkan air bersih bukanlah satu hal yang murah dan mudah lagi?
Tapi pandanglah aturan yang kedua (half flush it every drop counts)!
Ia mengajak kita untuk mem-flush separuh takaran saja untuk menyiram/menggelontor kotoran di lubang jamban.
Bagus? Jelas! Efektif? Belum tentu!
Kalau untuk ‘ukuran’ air kencing, separuh tank memang bakalan beres menggelontornya.
Tapi masalahnya tidak akan jadi sesimple itu seandainya yang kita gelontor adalah tinja yang semuanya tergantung ukuran dan volume apakah bisa disingkirkan begitu saja oleh kuatnya daya gelontor setengah tank yang dianjurkan atau tidak sama sekali!
Aku jadi ingat, suatu waktu dulu ketika sedang berkunjung ke sebuah instansi (tentu di negara asal) aku mendadak ‘kebelet’ dan sesudah tanya sana-sini dimana letak WC, akupun segera bergegas ke arah sana. Ketika hendak masuk, sekonyong-konyong muncul seorang bapak setengah baya dari dalam bilik toilet. Ia baru saja selesai membuang hajat tampaknya.
“Oh, mau pakai WC, Dik?”
tanyanya ramah sambil… hmmm mengelapkan tangannya yang basah ke celana katun warna cokelat tanah yang menjadi seragamnya itu.
“Eh.. iya, Pak!”
jawabku singkat, meski batinku bertanya *Ya iyalah! Ke WC masa mau makan?!*
Akan tetapi, ketika sudah benar-benar masuk ke WC, melepas celana dan siap ‘ngebom’… astaganaga! Rupanya si Bapak tadi masih menyisakan sebongkah tinja miliknya yang besarnya luar biasa! Dalam hati aku mengumpat dan bertanya-tanya kenapa setega itu ia tak menyentor (men-flush) kotorannya sendiri?
Namun, setelah memotret aturan yang kedua itu beberapa hari yang lalu, setelah sekian tahun berlalu, aku memaafkan si Bapak sopan tadi karena mungkin saja ia sebenarnya menyentor dan karena ia adalah orang yang ‘sadar lingkungan’ maka bisa jadi ia hanya menyentor separuh tank, demi penghematan air. Tapi alih-alih irit air, yang ada justru sebongkah tinja yang masih tersisa, menyisakan umpatan yang ada di hatiku, mengenyahkan begitu saja nafsuku untuk ‘mengebom’ dan pada akhirnya justru membuat petugas kebersihan atau siapapun yang hendak buang hajat sesudahku untuk mem-flush berkali-kali sekadar untuk memastikan bahwa tinja segede gaban itu telah benar-benar lenyap dari pandangan dan dari jamban.
Ah, kalau sudah begini, aku jadi berpikir bahwa atas nama lingkungan, kita memang perlu melakukan banyak hal perubahan menyangkut konservasi sumber daya alam termasuk air. Tapi, pengatasnamaan lingkungan selamanya tak kan bisa berdiri sendiri, di sekitarnya ada banyak nilai dan pertimbangan yang juga harus dimasukkan ke dalam perhitungan.
Maaf, postingan kali ini akhirnya jadi sedikit menjijikkan :)

Sebarluaskan!

49 Komentar

  1. Tinja segede Gaban, ehuahweuahweuahuea. Gedean Sarifan lagi….
    Senjata makan tuan ya, dengan postinganmu dulu yang bersangkutan dengan half-flush penghematan air hahaha. Kalau di WC umum dikampusku justru ada slogannya “Please flush TWICE when you’re done” :)
    Anyway mending dibikin kayak toilet dipesawat lho Don. Waktu aku naik pesawat ke US, pesawatnya toiletnya ga ada airnya. Kering gitu. dan waktu kamu flush, tinja mu disemprot sama angin kenceng langsung masuk ke dalem lobang tak bersisa.

    Balas
    • Hahahaha kamu mengamati juga rupanya!
      Ya, memang setengah senjata makan tuan :)

      Balas
  2. Abis BW dari bbrp blog tetangga and kelaparan karena postingannya soal makanan.
    Tapi begitu baca ini?? Beuuuh selera makan sirna! :D
    anw, si bapak2 ituh gue curiga bukannya peduli lingkungan tapi apa mungkin krn airnya gak ada?

    Balas
    • Ngg.. ngga tau tapi yang jelas tainya kegedean! :))

      Balas
  3. Kowe ki mau nyaingi postingane pak NH (tapi itu gol di toilet)…hehehe
    Duhh Don, lagi senenge motret tekan motret toilet maneh…
    Kayak komen nya Eka..duhh padahal belum sarapan….

    Balas
    • Hahaha ini bukan dalam rangka menyalurkan hobi motret jhe, Bu… lebih karena berpikir ‘nulis apa ya yang bisa bikin orang mules perutnya’ hahahaha :)

      Balas
  4. wah ini senada dengan tulisanmu beberapa waktu yg lalu, ttg hemat air juga.. yg akhirnya membangkitkan komen-komen nggilani…
    ini selangkah lebih maju, blm sampai komen pun sudah nggilani :-(
    let’s see… nada komen-komen berikutnya.. nggilani apa ndak

    Balas
    • Hahahahaha…. lha tulisannya udah nggilani, jadi ngga perlu ditunggu komen2 yang luwih nggilani :)

      Balas
  5. Wakakakaka… Don, hayaahhh, pagi2 aku da baca postingan soal tinja. Jijik kale bah! Ahahaha..
    Plis deh si bapak itu tau ga sih menyiram sampe bersih? Aku tetep ga bs terima alasan bhw mgkn dia mo hemat air, ga ada itu, emg dia ga tau aja kali gimana pake flush :D.
    Tp skrg Don, di tiap toilet duduk, ada tombol yg dibagi jd 2, satu ukuran kecil utk membilas pas buang air kecil, dan tombol besar dipakai utk membilas bekas hajatan besar. Di rumahku toiletnya sdh begitu semua lho, Don hihihi..
    Eniwei, aku jg pernah alami kejadian menemukan tinja. Ya waktu pulang dr Medan thn baru kmrn. Waktu di Lounge aku kebelet pipis dan aku ngantri di toilet, lalu di pintu pertama keluar perempuan pegawai lounge (aq tau dr Id cardnya). Aku lihat kenapa nih mukanya kok cemas2 gitu. Eh begitu aku masuk aku lihat tinjanya berserakan di sela2 dudukan toilet. Huaaaa jijiknya. Aku lgsg keluar dan mengumpat “Jorok.” Tak peduli dia nyadar pa gak.
    Makanya di toilet umum perlu ada tulisan : “Siram sampai bersih sebelum meninggalkan toilet.”

    Balas
    • Hahahahahaha… dahsyat betul pengalamanmu…
      Tapi jangan2 dia cemas karena dia juga sama sepertimu..
      Coba bayangkan kalau setelah kamu keluar dari sana, dengan muka yang sama2 cemas, lalu ketemu orang lain dan orang lain itu berpikir sama hehehe

      Balas
  6. waahh….jai ilang selera ngemilku baca postingmu iki Don… :)

    Balas
  7. ahh… aneh deh,… kalau gitu sih malah makin kotor…. bagusnya ada aturan baru:
    untuk menghemat air bersih dan menjaga kebersihan toilet, sebaiknya buang air di sungai saja….
    hahaha

    Balas
  8. ngirit sih ngirit tapi kalo tai kok gak diglontor ya menjijikkan banget to :D

    Balas
    • Lho, wis digelontor tapi ora ilang :)

      Balas
  9. yaela tega bangeeeeet waktunya orang sarapan malah posting beginian :p
    setauku sih kalo yg half flush memang untuk ‘yg sedikit’, kalo tombol satu lagi yg lebih gede, itu didesain untuk yang jijik2 tadi itu *masih sebel* hahaha….

    Balas
    • Hehehehe….
      Lha tapi masalah sedikit dan banyak itu kan relatif, tergantung cara pandang tho, Mbok :)

      Balas
  10. ampun mas…aku nih lagi nunggu delivery makan siangku dan membaca ini sangat tidak tepat waktu :P!!!
    bapak2 itu jorok sekali dan kamu juga yg mendeskripsikannya dengan sangat persis jadi berbekas diingatanku nih :(

    Balas
  11. huhuhu..saya blogwalking sambil makan pula…terhenti gara-gara baca tentang “basian si bapak”… :(

    Balas
  12. Memang sedikit menjijikkan, tetapi hal seperti ini kadang perlu dibahas walaupun tampak sepele.

    Balas
    • Hahahha akhirnya ada juga yang berkomentar demikian :)

      Balas
  13. Aduh, Don pagi-pagi wis mbaca tulisanmu ini, jadi ilang laparku…hiyy..
    Btw, wis lahiran toh? Selamat ya.. Semoga selalu sehat dan bertumbuh menjadi anak yang sangat menyenangkan. Amin.

    Balas
  14. Sebenarnya malah dengan half flush memang hemat air tapi jadi polusi udara, bukan begitu?

    Balas
  15. kalau saya pribadi sichhh ya sepuasnya ajah hehehe ga tau malah kalau ada aturanya seperti ini heheh
    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya makasihhh :D

    Balas
  16. waduh.. kl saya sih yg normal2 aja. kl emang udah masuk semua, ya berenti nyentor. tapi kl blm, masa cuma half-flush demi sadar lingkungan.. sadar lingkungan tapi ga sadar etika sosial, apa gunanya :|

    Balas
    • hahaha itulah point yang kugali dan.. kau temukan, Bro! :)

      Balas
  17. Hai yang baru jadi bapak..
    Selamt yaa…. gw baru liat dari fb tuh…. :)

    Balas
  18. wah aku bacanya sambil nutup tangan je mas…heee…selamat juga deh..katanya udah jadi bapak ya..

    Balas
    • Makasih, Mas.. eh bentarm nutup tangan tuh maksudnya gimana ya hehehe

      Balas
  19. Hi Bro, pakabar? Dah lama ga wara-wiri di blogosphere… duty call :-D
    Btw, selamat yah…dah jadi Bapak. I bet you’ll have plenty of ideas from this moments..
    Soal tulisanmu mengenai tinja? Sama kek komentar yang laen… ngilangin napsu makan!!!!

    Balas
    • Hahahaha, welcome back Bro! Ayo aktif lagi :)

      Balas
  20. Waduh… untung saya sudah selesai makan sebelum membaca tulisan ini… Kalo nggak bisa gak jadi makan gara2 kebayang sama yg ditinggalin si bapak di toilet… hwahahaa… :D
    Menurut saya, kalo aturan atau peringatan berpeluang mengganggu kenyamanan publik, aturan itu harus segera didaurulang… :)

    Balas
    • Setuju… proses daur ulang aturan itu yang kadang tak terlalu bagus namun meski di daur ulang, kunci keberhasilan tetap di pelaksanaan, Bli!

      Balas
  21. Hati-hati, Don. Posting semacam ini mungkin bisa ‘kena sensor’ oleh tim konten krn mengandung ‘muatan privasi… he he he :)

    Balas
    • Jiakakakakakakaa… nganu, nek mau nangkap aku kusuruh kemari :) Hahahaha…

      Balas
  22. Kayaknya aku udah pernah kasi komen sama di postinganmu mengenai irit air yah, di Jerman sih sejak ada sistem wc irit air jadi bermasalah di kanalisasinya krn ya itu tadi jadi nyangkut di mana2.

    Balas
    • Iya, aku pernah nulis soal irit air dan memang tulisan ini kayak jadi harakiri karena kontraproduktif dgn tulisanku itu tadi…

      Balas
  23. kalau idealnya adalah : air sanggup menghilangkan semua tinja yg ada di WC…
    air masih bisa diirit dengan cara lain.. daripada ntr ada bongkahan tinja pas kita duduk kan repot juga hehe

    Balas
  24. wah kalo di China daratan udah biasa nih kayak ginian, ga perlu jauh2 di toilet umum tapi toilet di kampus sendiri joroknya minta ampunnnn….beuhh.. banyak banget ranjau darat yang ditinggalin gitu aja sama si empunya. Udah gitu banyak juga yang lupa mem-flush kalo habis buang air kecil. Jadinya baunya super ajaib gitu deh, jarak 10meter aja dah bisa bikin kita muntah duluan..
    Kalo kasusnya seperti ini menurut saya justifikasinya bukanlah masalah lingkungan yang tujuannya hemat air. Tapi emang dah kebiasaan jorok dari sononya, hehe

    Balas
  25. Kalau yang lain pada jijik, setelah aku baca postingan ini…
    justru aku tertawa geli terus, hehe … ternyata ga ada air tu repot banget ya…

    Balas
  26. untung awakmu ora dijak salaman karo si bapak, kang.. gyahahaha..

    Balas
  27. Di kos saya, jelas dipampang di dinding wc jongkok, siram minimal 3 kali. Menurut saya, malah mesti ditambahin saran lain seperti: siram juga daerah sekitar closet yang kemungkinan terkena cipratan kencing. Kan penyumbang bau juga. :)

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.