Ia tahu kita tak lebih kuat dari seorang anak kecil

19 Agu 2017 | Kabar Baik

Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
(Matius 19:14)

Lagi-lagi Yesus membahas tentang anak kecil, tentang bagaimana orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Heran nggak sih kenapa suka banget sama anak kecil? Dimana istimewanya mereka itu? Bukannya anak kecil itu menyebalkan? Bisanya cuma teriak, ngompol, e’ek, muntah, ngiler?

Dulu aku juga nggak suka sama anak kecil karena potret mereka dalam benakku ya seperti itu. Tapi setelah punya anak, gambaran itu berubah.

Capek sepulang kerja, begitu buka pintu rumah, istriku memberitahu anak-anak, “Tuh, Papa pulang!”

Tak sampai beberapa detik kemudian Odilia dan Elodia, anak-anakku, langsung berteriak dan berlarian menyambutku. “Daddy! Papa!” Pahaku dipeluknya erat, tangannya menggapai-gapaiku supaya membungkuk karena mereka ingin dipeluk, satu per satu.

Kadang, saatku pulang, mereka sedang makan malam sehingga saat memeluk dan menciumku, mulut dan bibir serta dagunya masih compang-camping penuh makanan. Jadilah pipi dan bibirku pun ikut-ikutan compang-camping nggak karuan.

Mereka juga berebut perhatian. Ada yang menceritakan apa yang mereka lakukan seharian bersama kawan-kawan sekolahnya, yang satunya lagi biasanya menunjukkan mainan baru yang dibelikan Mamanya, istriku, dengan penuh rasa bangga dan bilang, “Thank you, Papa!” Lagi-lagi aku dihujaninya dengan ciuman.

Kadang mereka terpingkal-pingkal ketika aku menanggapi ceritanya dengan candaan. Tapi sering juga mereka teriak marah hingga menangis saat aku tertawa mendengar cerita-cerita konyol yang terjadi di sekolah mereka.

Tak terasa, sambil melakukan itu semua, lelahku meruap, menghilang entah kemana. Seolah ada energi yang menggantikan penat kerjaku dan tahukah kalian… itulah cinta.

Energi yang sama kuyakin juga dirasakan Tuhan saat kita datang kepadaNya seperti sosok anak kecil. Energi cinta yang diberikan olehNya lalu dengan segala kesadaran dan kerendahan hati kita kembalikan kepadaNya.

Kita sebagai anak kecil, memeluk kaki Tuhan meski kita berdosa. Bukannya tak mau berusaha untuk tak berdosa tapi justru karena kedosaan itu kita datang dan memelukNya karena hanya dengan kuat kuasa kasihNya kita bisa lepas dari lemah, dosa meluruh, kenistaan pun sirna.

Kita sebagai anak kecil, berlomba-lomba menarik perhatian Tuhan bukan karena meminta sesuatu tapi justru karena ingin menceritakan apa yang telah kita dapatkan dariNya sebagai satu ungkapan syukur yang harus disegerakan sampainya kepada Pemilik Syukur itu.

Kita sebagai anak kecil, sosok yang tak malu untuk menyembunyikan gembira ketika Tuhan menyapa, sosok yang juga tak sungkan untuk mengusap airmata dan tidak sok kuat ketika kehidupan sedang terasa begitu berat membelenggu langkah dan pandangan mata. Justru di saat seperti itu, Tuhan mengulurkan tangan dan membantu menyeka air mata serta menguatkan langkah. Ia tahu kita tak lebih kuat dari seorang anak kecil…

Sydney, 19 Agustus 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.